3 Landasan Manajemen Madrasah

Madrasah merupakan salah satu institusi pendidikan Islam yang diselenggarakan dan didirikan dengan hasrat dan niat untuk merealisasikan ajaran dan nilai-nilai Islam dalam segala aktivitas pendidikannya. Mengelola madrasah berarti mengelola pendidikan Islam yang harus bertolak dari dan menjadikan ajaran dan nilai-nilai Islam sebagai acuan utama.

Beberapa ajaran dan nilai-nilai Islam yang perlu dijadikan landasan berpijak dalam pengelolan (manajemen) madrasah adalah sebagai berikut:

  1. Memanaj madrasah harus didahului dengan niat. Niat adalah sesuatu yang direncanakan dengan sungguh-sungguh untuk diwujudkan dalam kenyataan (perbuatan). Niat ini harus muncul dari hati yang bersih dan suci, Karena mengharap ridha Allah swt, serta ditindaklanjuti dengan mujahadah, yakni berusaha dengan sungguh-sungguh mewujudkan niat dalam bentuk amal (perbuatan) dan konsisten dengan sesuatu yang direncakanan. Setelah niat diwujudkan kemudian dilakukan muhasabah. Yakni melakukan control dan evaluasi terhadap rencana yang telah dilakukan. Jika berhasil dan konsisten dengan rencana, maka hendaklah bersyukur, serta berniat lagi untuk menyusun dan melaksankan rencana-rencana berikutnya. Sebaliknya jika gagal dan kurang konsisten dengan rencana semula, maka segeralah beristighfar atau bertaubat kepada-Nya sambil memohon pertolongan kepada-Nya agar diberi kekuatan untuk mewujudkan niat tersebut. Jika dikaitkan dengan fungsi manajemen pendidikan, maka niat tersebut identik dengan planning, sedangkan mujahadah identik dengan organizing, dan actuating, dan muhasabah identik dengan controlling.
  2. Islam adalah agama amal atau kerja (praxis). Inti ajaranya adalah bahwa hamba mendekati dan memperoleh ridha Allah melalui kerja atau amal shaleh dan memurnikan sikap penyembahan hanya kepada-Nya. Hal ini mengandung makna bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan “orientasi kerja” (achievement orientation) sebagaimana juga dinyatakan dalam ungkapan “penghargaan dalam jahiliyah berdasarkan keturunan, sedangkan penghargaan dalam Islam berdasarkan amal.” Tinggi atau rendahnya derajat takwa seseorang juga ditentukan oleh prestasi kerja atau kualitas amal shaleh sebagai aktualisasi dari potensi imannya.
  3. Uraian pada poin pertama tersebut menggarisbawahi adanya nilai-nilai esensial yang perlu ditegakkan atau dijadikan watak, sikap dan kebiasaan seseorang atau kelompok dalam bekerja (termasuk dalam mengelola madrasah), yaitu: “bekerja (memanaj/memimpin madrasah) adalah sebagai ibadah yang harus dobarengi niat yang ikhlas karena mencari ridha Allah”. Hal ini sejalan dengan pengertian ibadah yang dikemukakan oleh Ibnu Taimiyah. Yaitu: “Ismu jami’ likulli ma yuhibbuhullah wa yardhahu min al-aqwal al-dhahirah wa al-bathinah”, yakni sebutan yan gmencakup segala perkataan/ucapan dan perbuatan/aktivitas, baik yang dhahir maupun yang batin, yang disukai dan diridhai Allah. Disamping itu, bekerja memanaj/memimpin madrasah, merupakan realisasi dari ajaran Ihsan, yakni berbuat baik kepada semua pihak, karena Allah telah berbuat baik kepada semua manusia dengan aneka nikmat-Nya dan dilarang berbuat kerusakan dalam bentuk apapun (QS al-Qashash:7)

sumber : Muhaimin, Rekonstruksi Pendidikan Islam

511