5 Kendala Implementasi Kurikulum 2013 di Madrasah

Hasil Evaluasi Implementasi Kurikulum 2013 di Madrasah

Kurikulum 2013 telah berjalan selama 5 tahun sejak ditetapkan di tahun 2013. Pernah diberhentikan sementara di akhir tahun 2014 dalam rangka mengevaluasi seluruh perangkat. Kemudian kurikulum 2013 dilanjutkan kembali setelah ada revisi yang disertai dengan penetapan peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan di tahun 2016. Karena pemberhentian sementara bukan berhenti total, tapi implementasinya dibatasi pada sekolah-sekolah terntetu dan tidak diberlakukan secara nasional.

Selama masa evalausi implementasi Kurikulum 2013, Kementerian Agama, yang diwakili oleh Direktorat Pendidikan Madradah tidak menghentikan implementasi kurikulum 2013 di madrasah khususnya pada materi pelajaran yang menjadi wewenang pengembangannya adalah kementerian Agama sendiri, yaitu pendidikan agama Islam dan bahasa Arab.

Lalu bagaimana hasil dari implementasi kurikulum 2013 di Madradsah? Hal ini dapat dilihat dan diamati dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Kementerian Agama tahun 2016 (Puslitbang) di tahun 2016.

Penelitian tentang implementasi kurikulum 2013 menghasilkan 5 catatan penting, yaitu:

1. Kekurangan Sarana Pendukung

Hasil penelitian Puslitbang, Perangkat-perangkat pendukung implementasi kurikulum 2013 belum tersedia secara baik. Kurikulum 2013 memerlukan perangkat-perangkat yang memadai, baik perangka lunak maupun perangkat keras. Ketidakterpenuhan perangkat tersebut menimbulkan pemahaman yang tidak seragam antara daerah dengan lainnya.

Kementerian agama sudah menyiapkan terkait buku guru dan buku siswa pada materi Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab sesuai karakteristik kurikulum 2013, khususnya terkait dengan pendekatan saintifik dan penilaian autentik. Perlu melengkapi perangkat tersebut dengan perangkat-perangkat pendukung lainya seperti panduan-panduan yang terkait dengan pelaksanaan kurikulum 2013 dengan karakteristik khusus pendidikan agama Islam dan bahasa Arab yang berbeda dengan materi yang dikembangkan oleh kementian pendidikan dan kebudayaan.

2. Belum Terlaksana dengan Tahapan-tahapan yang Sistematis

Tahapan yang dimaksud adalah tahapan dalam menentukan madrasah yang akan menerapkan kurikulum 2013. Idealnya melalui analisis kesiapan madrasah melaksanakan kurikulum 2013, dari penyiapan tim implememntasi, penyiapan guru yang menajdi ujung tombak pelaksana kurikulum 2013 dan sarana yang lainnya.

Adapun kenyataaanya, Dasar penetapan madrasah lebih kepada penunjukan langsung sehingga sebagaian madrasah merasa terpaksa dan tidak siap menerapkan kurikulum 2013.

Tahun 2018 tidak ada lagi pilihan bagi madrasah, karena semua madrasah dan sekolah wajib menerapkan kurikulum 2013. Akhirnya semua madrasah dituntut untuk menyipakan diri secara maksimal.

3. Belum Maksimal Pendampingan

Puslitbang menemukan bahwa Pendampingan di setiap satuan pendiikan belum berjalan sebagaimana mestinya. Padahal pendampingan memegang peranan penting ketika implementasi kurikulum masih pada tahap awal.

Khususnya guru-guru yang belum memahami kurikulum 2013 dengan baik, program pendampingan menjadi sangat penting. Bentuk pembekalan guru melalui pelatihan terstruktur tidak cukup menyiapkan guru secara maksimal. Biasanya pelatihan menyiapakan guru dalam tataran konsep dan praktik ideal, yang tidak selalu singkron dengan kondisi nyata di madrasah.

4. Belum ada Program Peningkatan Kompetensi Semua Pihak yang Terlibat dalam Implementasi Kurikulum

Sebagian kanwil belum melakukan inisiasi untuk meningkatkan kompotensi bagi selutuh unsur yang terlibat dalam implementasi kurikulum 2013. Akibatnya pemahan diantara mereka terhadap kurikulum 2013 masih beragam.

Pihak utama terlibat langsung dengan implementasi kurikulum 2013 adalah kepala madrasah, dan pengawas madrasah. Bahkan keduanya adalah pendamping khusus bagi guru dalam melaksanakan kurikulum 2013. Permasalahanya adalah apakah telah disiapkan program penyiapan kepala madrasah dan pengawas madrasah menjadi pendamping implementasi kurikulum 2013.

5. Keterlambatan Distribusi Perangkat

Implementasi kurikulum 2013 juga masih belum maksimal disebakan oleh distribusi perangkat pendukung ke madrasa sasaran masih mengalami keterlambatan. Khususnya buku guru dan buku siswa, karena keduanya menjadi perangkat utama dalam implementasi kurikulum 2013.

Pada zaman digital seperti sekarang ini, keterlambatan distribusi perangkat seharusnya sudah bisa ditangani dengan pemasangan perangkat di cloud atau penyimpanan digital dengan buku elektronik. Seperti yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan konsep Buku Sekolah Elektronik kurikulum 2013. Kementerian Agama bisa menyiapkan buku madrasah Elektronik.

Dari Kelima catatan tersebut, ada hal yang sering luput dalam menyiapkan sebuah program baru adalah pendampingan dan menyiapkan pihak yang terlibat.

Penyiapan pihak terkait  kurikulum 2013, dari pihak paling atas sampai kepada pihak utama yaitu guru, perlu menjadi prioritas utama dalam implementasi kurikulum 2013. Pertama kali yang harus dirubah adalah perubahan mindset.

Mindset adalah dua kata bahasa Inggris, “mind” dan “set”. Mind arinya pikiran, akal, ingatan. “set” adalah kumpulan, perangkat. Midn Set adalah kumpulan atau perangkat pikiran atau akal atau ingatan. Menurut istilah, Mindset adalah pola pikir yang mempengaruhi pola kerja atau sebuah sikap individu dimana singkronnya antara pola pikir/pengetahuan, keterampilan dan sikap prilaku.

MindSet akan mendorong seseorang  memiliki kesadaran/keihklasan untuk menerima serta berkemauan untuk memperjuangkannya, dalam organisasi hal ini disebut dengan budaya kerja. Wikipedia menyatakan bahwa pola pikir merupakan sumber kekuatan kemampuan seseorang.

Mengenai kekuatan dibedakan dalam dua pandangan. Pertama menyatakan bahwa pola pikir itu tetap “pixed mindset” atau karakteristiknya dibawa sejak lahir. Pandangan kedua pola pikir dipandang sebagai sesuatu yang tumbuh “growth mindset”.  Jadi yang dimaksud di sini adalah bahwa mindset itu bisa dibentuk sesuai dengan tujuan dan orientasi yang diharapkan.

Perubahan Mindset kurikulum 2013 adalah guru diposisikan sebagai fasilitator dan mediator, mindset proses pembelajaran dan  mindset penilaian.

Ketiga pihak-pihak terkait memiliki mindset yang sama, peluangkan suksenya implememntasi kurikulum 2013 di madrasah menjadi lebih besar.

 

 

49

Yunandra

Yunandra adalah Pengawas Madrasah/Konsultan/Praktisi Pendidikan Islam yang ingin berbagi dan memberi untuk hidup lebih baik. Kata yunandra merupakan dua nama digabung dengan kata “and”. Harapannya segala kebaikan yang dilakukan menjadi Amal Jariah berdua.