6 Karakter Ayah Yang Sukses

Kesalahpahaman yang sering terjadi pada banyak orang tua adalah tidak dapat membedakan antara makna mengasuh dan mendidik. Mengasuh berarti menyediakan pakaian, makanan, dan segala sarana hidup yang layak. Adapun mendidik artinya adalah menunjukan jalan yang benar dan salah, halal atau haram, dan apa yang seharusnya dia kerjakan atau ditinggalkan.

Setiap manusia bisa menjadi ayah. Namun tidak setiap manusia dapat menjadi seorang ayah pendidik yang tanggap dan bertanggung jawab. Akibat kesalahan dalam memahami makna pengasuhan (ri’ayah) dan pendidikan (at-tarbiyah).

Kata-kata, “pengasuhanku untuk anakku”, artinya memenuhi pakaian (sandang), makanan (pangan), dan kebutuhan-kebutuhan hidup yang baik baginya. Sedangkan “pendidikanku untuknya”, artinya mengajarkannya yang benar dan salah, yang halal dan haram, dan yang boleh dilakukan serta yanag tidak boleh dilakukannya.

Namun banyak ayah yang mengatakan, “Aku telah memberikan mereka apa yang tidak diberikan oleh seorang ayah lainnya. Aku telah memenuhi berbagai fasilitas untuk kesenangan hidup yang penuh kenikmatan. Aku memasukannya ke sekolah elit dan memberikan apa yang dia inginkan. Lalu kenapa dia mengecewakan harapanku?”

Anggapan yang keliru, dia mengira uang dan fasilitas menggugurkan tanggung jawab dan kewajibannya akan nilai pendidikan. dia tidak meyadari bahwa hati, kedua telinga, dan waktunya tidak diberikan untuk anaknya. Padahal semua itu lebih berharga daripada harta, pakaian, dan makanan, jutaan persen bandingannya.

Maka perlu ditampilkan karakteristik atau sifat-sifat seorang ayah pendidik. Karakteristik disimpulkan dalam satu kalimat “ seorang ayah yang sukses harus menanamkan fondasi-fondasi pendidikan sesuai fitrah yanag benar.” Fitrah inilah yang membedakan antara yang bagus dengan yang buruk, yang jahat dengan yang baik, dan yang benar dengan yang batil.

Berikut beberapa karakteristik yang diharapkan melekat dalam jiwa ayah pendidik:

1.      Membuat seorang anak tahu/menyadari bahwa kedudukan ayah lebih agung darinya. Karena itu, secara alamiah seorang anak akan meneladani ayahnya.

Berdasarkan hakikat psikologis antara sang anak dengan sang ayah, anak akan meneladani ayahnya. Masa kana-kanak tidak banyak masalah yang dihadapi oleh seorang ayah. Ketika menginjak dewasa muncul ketidakpatuhan anak terhadap ayah. Hal ini bisa terjadi karena kepribadian ayah tidak lebih besar dari kepribadian anaknya atau karena anaknya bisa menandingi kepribadian ayahnya.

2.      Membuat anak merasakan bahwa ayahnya selalu mempersembahkan yang terbaik untuk dirinya.

Seorang ayah hendaknya memberikan sumbangsih kepada anak, berupa pengalaman-pengalaman pribadinya ataupun informasi lainnya yang bersifat mendidik. Selain tiu sang ayah mengetahui keistimewaan pribadi anaknya, agar dapat mengetahui dengan baik apa yang sebenarnya dibutuhkan sang anak.

3.      Hendaknya ayah memberikan yang terbaik untuk anaknya.

Apa saja yang diberikan kepada anak, tidak aka nada artinya jika cara yang digunakan tidak tepat. Dalam memberikan sesuatu, hendaknya dilakukan dengan cara yang menyebabkan anak meraa senang, bukan malah menyebabkan anak merasa takut. Untuk itu , jaminan pertama yang hendaknya diberikan adalah rasa cinta.

4.      Memiliki kemampuan dalam mendidik.

Mendidik memerlukan kerja keras, berkreasi, dan ikhlas. Dr. Musthafa As-Siba’I mengatakan “hanya kepada Allah kami mengadukan segala kerja keras kami dalam mendidik anak selama di rumah, meskipun didikan itu akan lenyap ketika anak pergi ke sekolah dan bermain di luar.”

5.      Semestinya seorang ayah mampu mengawasi dan mengarahkan anak

Muhammad Qutb mengatakan “pendidikan adalah ativitas kontinu yang tidak cukup hanya member pengarahan sepintas, meskipun dilakukan dengan tulus dan tepat. Akan tetapi perlu adanya pengawasan dan pengarahan secar kontinu. Sebab yang dihadapi adalah jiwa manusia dan bukan mesin yang tombolnya bisa ditekan sekali kemudian ditinggal dan dibiarkan begitu saja.

6.      Mencoba mendidik diri sendiri

seorang ayah perlu mendidik diri sendiri, sebelum mendidik anak kita. Seorang pendidik yang tidak memiliki kemampuan mengubah kebiasaan dalam berpikir, bergaul, menerima kritik, beradaptasi dengan lingkungan baru, dan menyadari kesalahan adalah pendidik yang sudah masuk kedalam golongan pensiun.

 

sumber dar buku :Sukses jadi Ayah karya Karim ASy-Syadzili

 

742