Banjarmasin dan Objek Wisata

Banjarmasin adalah ibukota Provinsi Kalimantan Selatan. Secara geografis, Kota Banjarmasin terletak antara 3015’ dan 3022’ Lintang Selatan dan 114032’ dan 114098’ Lintang Utara. Kota Banjarmasin mempunyai  luas area 72 km2 atau sekitar 0,19% dari luas Pulau Kalimantan.

Kota Banjarmasin terletak di bagian Selatan dari Provinsi Kalimantan Selatan dengan batas-batas sebagai berikut: Sebelah Utara: Kab.Barito Kuala, Sebelah Timur: Kab. Banjar, dan Sebelah Barat: Kabupaten Barito Kuala & Sungai Barito.

Kota Banjarmasin  terhampar di dataran yang rendah dan berada di bawah permukaan air laut. Kota ini juga sering dijuluki sebagai  ”Kota Air” atau ”Kota Seribu Sungai”, karena sebagian besar sungai mengalir di sana, seperti: sungai Martapura, sungai Kuin, sungai Andai, sungai Alalak, dll

Nama “Banjarmasin” diambil dari nama “Patih Masih” atau ” Oloh Masih “, Salah seorang pejabat Melayu di Kerajaan Banjar. Raja pertama  dari Kerajaan Banjar adalah Pangeran Samudera yang merupakan cucu dari Pangeran Mangkubumi dari Kerajaan Daha (sekarang adalah suatu kecamatan dari Kabupaten Hulu Sungai Selatan yang dikenal dengan daerah “Negara” ). Ketika Pangeran Samudera masih kecil dia telah meninggalkan Kerajaan Daha karena adik Pangeran Mangkubumi, bernama Pangeran Tumenggung mengambil alih kekuasaan.

Tahun 1595, Kerajaan Banjar diserang oleh Pangeran Tumenggung dalam sebuah Perang Besar antara Prajurit Daha dan Banjar, Prajurit Banjar saat itu didukung oleh Prajurit Kerajaan Demak yang beragama Islam. Pangeran Samudera menang dalam perang tersebut, dan akhirnya memeluk agama Islam dan mengganti namanya menjadi Pangeran Suriansyah atau juga seringkali dikenal dengan sebutan “Panembahan Batu Habang”.

Serah terima kekuasaan antara Pangeran Tumenggung dengan Pangeran Suriansyah dilakukan pada tanggal 24 September, yang setiap tahun diperingati sebagai Hari Jadi atau Hari Ulang Tahun Kota Banjarmasin. Kekuasaan Pangeran Suriansyah meliputi bagian Selatan Kalimantan.

Peninggalan Kerajaan Banjar yang ada dan terawat dengan baik hingga saat ini adalah Masjid Pangeran Suriansyah, serta makam Pangeran Suriansyah dan beberapa kerabat kerajaan lainnya yang terletak dalam satu komplek pemakaman, kedua tempat tersebut merupakan obyek wisata religius yang sering dikunjungi masyarakat.

Ada beberapa tempat wisata di sekitar kota Banjarmasin

1.    Masjid Raya Sabilal Muhtadin

Masjid ini terletak di tengah Kota Banjarmasin berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman. Sabilal Muhtadin merupakan nama sebuah kitab yang dikarang oleh ulama besar Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary (1710-1812) yang selama hidupnya memperdalam dan mengembangkan Islam di Kerajaan Banjar.

Masjid Raya Sabilal Muhtadin dibangun di atas tanah seluas 100.000 meter persegi. Posisi mesjid sekarang, pada zaman penjajahan Belan­da dikenal dengan Fort Tatas atau Benteng Tatas,

Bangunan masjid mulai dinding, lantai, menara dan turap plaza, keseluruhannya berla­piskan marmer. Secara total masjid terbesar se-Kalimantan ini mampu menampung 15.000 ja­maah. Di bagian dalam bangunan sebanyak 7.500 dan di halaman 7.500.

2.    Taman Siring Martapura

Taman Siring Sungai Martapura berada di pinggir Sungai Martapura, tepatnya diseberang Kompleks Mesjid Raya Sabilal Muhtadin Jl. Jendral Sudirman Banjarmaasin. Taman Siring Sungai Martapura dibangun pada tahun 2004 . Hal ini membuat objek wisata ini  untuk bersantai dan bercengkrama dengan keluarga atau sesama teman.

Pada Akhir pekan,  tempat ini cukup ramai dikunjungi oleh warga Banjarmasin. Baik hanya sekedar untuk bersantai atau hanya sekedar menikmati suasana sungai Martapura. Tempat ini juga dijadikan tempat hang out bagi para muda – mudi Banjarmasin.

3.    Pasar Terapung Kuin

Pasar Terapung adalah Pasar Tradisional yang ada di atas muara sungai barito, lokasinya berada di kelurahan Kuin Utara Kota Banjarmasin. Pasar ini mulai beraktifitas pukul 05.30 – 07.00 wita, dan diperkirakan sudah ada sekitar 400 tahun yang lalu dan ikon obyek wisata di Kota Banjarmasinbagi wisatawan domistik dan mancanegara.

Zaman dulu pasar ini hanya sebagai tempat pertukaran barang atau barter antar masyarakat dari hasil kebun dan pertanian, namun sesuai perkembangan zaman, sistem barter sudah tidak berlaku dan sekarang menggunakan sistem jual–beli dengan uang.

Di Pasar Terapung ini selain menjual hasil perkebunan dan pertanian juga terdapat dagangan yang lainnya seperti, ikan, makanan khas banjar yaitu soto banjar, nasi sop banjar, jajanan / kue, pakaian, dan lain sebagainya. Para pedagang menjual dagangannya dengan menggunakan jukung (bahasa banjar / perahu bahasa Indonesia).

Salah satu keunikan pasar terapung ini adalah car membeli jajanan kue dengan menggunakan alat Bantu seperti tongkat yang diujungnya terdapat kawat untuk ditanjapkan pada jajanan yang diinginkan.

Aktifitas pasar terapung dimulai sejak pukul 05.00 sampai pukul 7.00 wita. Perjalan menuju pasar terapung dari penginapan / hotel di Banjarmasin bisa berangkat pukul 04.30 wita dengan menggunakan jasa ojek ke dermaga  pasar terapung dan jika menggunakan klotok (perahu bermesin) sekitar 1 – 2 jam.

Selain ke pasar terapung, wisatawwan bisa sekalian menyaksikan Sungai Barito, Jembatan Barito, Pulau Kembang, dan Masjid Sultan Suriansyah.

 4.    Pasar Terapung Lok Baintan

Pasar Terapung Lok Baintan merupakan pasar tradisional  yang seluruh aktivitasnya dilakukan di atas air sungai Martapura dengan menggunakan perahu atau sampan. Lokasi ini dapat ditempuh sekitar 1 jam dari kota Banjarmasin melalui jalur sungai tersebut menggunakan perahu bermotor atau biasa disebut “klotok”.

Transaksi di pasar ini dimulai sekitar pukul 06 hingga sekitar pukul 09.00 WITA. Ratusan pedagang, umumnya perempuan menjajakan dagangan berupa kebutuhan sehari-hari dari atas perahu atau sampah. Pembeli juga berada di atas sampan.

Dalam sejarah kerajaan Banjar, Pasar Lok Baintan mempunyai keterikatan nilai historis dengan kesultanan Banjar, dan memiliki peran sangat penting dalam berbagai segi kehidupan masyarakat. Hal ini karena transportasi melalui sungai adalah satu-satunya jalan yang bisa ditempuh untuk menuju wilayah lain.

Pasar yang berlokasi di Sungai Martapura ini memang lebih ramai dibandingkan Pasar Terapung Kuin. Namun lokasinya juga lebih jauh dari pusat kota. Sebaiknya berangkat lebih pagi juga, supaya tidak melewatkan momen-momen menarik di pasar yang unik ini.

5.    Masjid Sultan Suriansyah

Masjid Sultan Suriansyah  adalah Masjid bersejarah yang merupakan masjid tertua di Kalimantan Selatan. Masjid ini dibangun masa Pemerintahan Sultan Suriansyah (1526 – 1550) raja Banjar pertama yang memeluk agama islam. Kekunoan masjid ini dapat dilihat pada 2 buah inskripsi yang tertulis pada bidang berbentuk segi delapan berukuran 50cm x 50cm yakni pada 2 daun pintu Lawang Agung, pada 2 daun pintu sebelah kanan terdapat 5 baris inskripsi Arab – melayu. Masjid Sultan Suriansyah ini terletak di Kelurahan Kuin Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin sekitar 250 meter dari Makam Sultan Suriansyah.

 6.    Makam Sultan Suriansyah

Makam Sultan Suriansyah adalah makam raja Kera­jaan Banjar pertama yang memeluk agama Islam. Sewaktu kecil namanya adalah Raden Samudera, setelah diangkat menjadi raja nama­nya menjadi Pangeran Samudera dan setelah memeluk Islam namanya menjadi Sultan Surian­syah. Gelar lainnya adalah Panembahan atau Susuhunan Batu Habang. Kompleks Makam Sultan Suriansyah terletak di Kelurahan Kuin Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin

7.    Pasar Intan di Kota Martapura

Obyek wisata ini sebenarnya sudah di luar Kota Banjarmasin. Tapi tetap saya masukkan di sini karena kita dapat singgah ke Kota Martapura saat kita mengunjungi Banjarmasin. Tentu saja dengan satu syarat, waktunya mencukupi untuk menjelajah ke tempat ini. Di pasar ini kita dapat berburu batu permata intan dengan kualitas yang bagus dengan harga bervariasi. Kita juga bisa mendapatkan oleh-oleh khas Banjar di pasar ini.

8.    Pendulangan Intan

Letaknya di Desa Pumpung, sekitar 30 menit dari pusat Kota Martapura. Di sini kita akan menyaksikan bagaimana para pendulang intan bekerja untuk mendapatkan intan yang dikagumi banyak orang. Kalau mau, bisa juga ikut mencoba mendulang intan  . Di lokasi ini juga terdapat beberapa sentra industri rumah tangga yang mengolah intan mentah menjadi batu-batu permata yang siap digunakan.

9.    Makam Pangeran Antasari

Pangeran Antasari adalah salah satu Pahlawan Nasional dari Kalimantan Selatan yang turut berperang melawan penjajah Belanda untuk membela wilayah Kalimantan Selatan. Pangeran Antasari lahir di Banjarmasin tahun 1809. Walau seorang ningrat, ia sangat merakyat. Karenanya, ia sangat paham pen­deritaan rakyat di bawah jajahan Belanda.

Pangeran Antasari dibantu beberapa ke­pala daerah Hulu Sungai, Martapura, Barito, Pelaihari, Kahayan. Kapuas dan lani-lain berte­kad mengusir Belanda dari Kerajaan Banjar. Takterelakan, perang pun terjadi pada 18 April 1859. Pada Pertempuran itu Belanda men­dapat kesulitan.

Pada Oktober 1862. ia merencanakan serangan besar-besaran ke benteng Belanda. Kekuatan sudah dikumpulkan. Namun, saat itu wabah cacar menyerang. Pangeran Antasari pun terkena hingga merenggut nyawanya. Ia meninggal dunia di Bayan Begak (Kalsel) pada 11 Oktober 1862 dan dimakamkan di Kelurahan Sungai Jingah Banjarmasin Utara. Dan ditempat tersebut dibangun Komplek pemakaman Pahlawan Nasional  dengan nama Komplek Makam Pangeran Antasari, ditempat tersebut juga terdapat makam Ratu Antasari yang merupakan isteri Pangeran Antasari serta makam Pahlawan lainnya seperti Panglima Batur yaitu panglima perang pengikut setia Pangeran Antasari, Hasanuddun HM ( Hasanuddin bin Haji Madjedi ) yaitu pahlawan Ampera didaerah ini seorang mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin yang wafat tahun 1966.

sumber dari beberapa sumber

848