Buka Bersama Pengurus IGRA Jakarta Selatan

Ramadhan Sebagai Bulan Pendidikan

Ketika diminta menjadi pembicara dalam acara buka bersama Pengurus Ikatan Guru Raudlatul Athfah  (IGRA) Kota Jakarta selatan, muncul 2 pertimbangan untuk memilih tema yang cocok, yaitu Bulan Ramadhan dan Pendidikan.

Bulan Ramadhan menjadi pertimbangan karena situasinya di bulan Ramdhan. Tapi Jika menyampaikan hanya tema Ramdhadan atau keagamaan, maka fungsi informasinya sebagai pengingat, karena mayoritas guru raudhatul athfal  merupakan ibu-ibu aktivis majelis ta’lim, bahkan sebagian mereka merupakan para pengajar atau ustadzahnya.

Pendidikan menjadi pertimbangan kedua, karena yang hadir adalah guru-guru Raudlatul Athfal, atau pendidikan anak usia dini (PAUD). Tapi Jika berbicara hanya tentang pendidikan, nampak tidak ada perbedaan antara ceramah dengan kegiatan pembinaan pengawas.

Maka mencoba untuk menggambungkan kedua pertimbangan dengan Tema “Ramadhan adalah bulan pendidikan.

Bulan Pendidikan merupakan salah satu nama yang disematkan pada bulan Ramadhan. Nama lainnnya yaitu Ramadhan adalah bulan Shaum, karena di bulan Ramdhan semua umat Islam diwajibkan melaksanakan ibadah puasa/shaum (QS. 2:183) mulai dari waktu fajar sampai maghrib (QS. 2:187)

Ramadhan sebagai bulan al Quran karena di bulan Ramadhan diturunkan Al Quran kepada Nabi Muhammad saw (QS. 2:185). Ramadhan adalah bulan Ibadah, karena di bulan ramadhan terdapat ibadah-ibadah yang banyak seperti shaum, baca al-quran, terawih, dan shadaqah. Bahkan pahala ibadahnya dilipatgandakan.

Buka Bersama Pengurus IGRA Jakarta Selatan diselenggarakan di Rabu, 30 Mei 2018 bertempat di kantor IGRA Jakarta Selaatan. Acara tersebut dihadiri oleh pengurus Cabang IGRA dari 10 Kecamatan di Jakarta selatan, Kepala Kantor Kementerian Agama Jakarta Selatan, Kasi Pendidikan Madrasah, Para Pengawas IGRA.

Dalam Sambutanya, Ketua IGRA Jakarta Selatan menyampaikan beberapa kegiatan kepedulian terhadap lingkungan sekitar, seperti sumbangan untuk Rohingya, Sumbangan kepada guru RA yang terkena musibah kebakaran, dan pembagian sembakau kepada tetangga sekitar kantor IGRA.

Pada saat giliran memberikan kultum Ramadhan, setelah tahmid dan shalawat kepada Nabi, disampaikan dua hal pokok yang menjadi pembuka pembicaraan. Pertama ucapan Imam Syafi’I “Jangan putus asa/bersedih kehilangan hal-hal dunia, jika masih beragam Islam dan sehat”. Maksudnya bahwa beragama Islam dan Sehat merupakan dua nikmat yang paling besar dan patut disyukuri.

Selanjutnya tentang fungsi informasi yang akan disampaikan. Bahwa informasi dapat dibagi menjadi 3 fungsi, yaitu memberi tahu yang tidak tahu, mengingatkan yang lupa, dan memperkuat yang sudah tahu.

Dua hal tersebut menjadi pengantar sebelum membicarakan tentang pendidikan sebagai salah satu nama dari bulan Ramadhan.

Merujuk pada Literatur Islam, Pendidikan memilik tiga istilah berdasarkan fokusnya yaitu ta’lim, tarbiyhan, dan ta’dib. Ta’lim adalah pendidikan yang fokus pada proses transfer ilmu. Tarbiyah adalah pendidikan yang memfokuskan pada pembimbingan dan pelatihan, dan dapat digunakan kepada semua makhluk. Sedangkan Ta’dib adalah pendidikan yang memfokuskan pada pendidikan akhlak atau karakter. (lihat Pengertian Pendidikan dalam Bahasa Arab)

Menurut Orang-orang Yunadi kuno yang dinukil oleh Prof. Dr. Ahmad Tafsir dalam buku “Filsafat Pendidikan Islami”, Pendidikan adalah usaha membantu manusia menjadi manusia. Artinya manusia perlu dibantu agar ia berhasil menjadi manusia yaitu yang memiliki nilai-nila kemanusiaan. Menurut orang Yunani, tiga syarat untuk disebut manusia adalah Pertama, memiliki kemampuan dalam mengendalikan diri. Kedua, cinta tanah Air. Ketiga, berpengetahuan. (Tafsir, 2006:33)

Dalam kesempatan ini, kita menghubungkan antara bulan Ramadhan dengan ketiga syarat menjadi manusia.

1. Kemampuan dalam mengendalikan diri.

Kemampuan dalam mengendalikan diri sangat penting dalam kehidupan ini. Bahkan tahun 90-an, Daniel Goleman menjelaskan pentingnya pengendalian diri bagi kesuksesan hidup, dengan istilah Emotional Quotient (EQ) atau kecerdasan emosi. Daniel Goleman menulis sebuah buku “Kecerdasan Emosi untuk mencapai Puncak Prestasi”. Beliau menegaskan EQ lebih penting dari Intellegence Quotient (IQ). Beliau merinci 5 Kecerdasan Emosi.

Bagaimana hubungannya dengan Bulan Ramadhan? Bulan Ramadhan merupakan bulan dimana Umat Islam diperintah melaksanakan ibadah syaum/puasa. Syaum atau Puasa menurut syariat Islam artinya adalah menahan diri dari makan, minum serta segala perbuatan yang bisa membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Utamanya umat Islam dilatih menahan hawa nafsu.

Rosulullah bersabda “Betapa banyak orang yang berpuasa, ia tidak mendapat apa-apa kecuali rasa lapar” (HR. Ibnu Majah). Hadits ini menegaskan bahwa banyak yang berpuasa dari terbit fajar sampai terbenam matahari, tapi tidak melakukan perbuatan yang menghilangkan pahala puasa.

Bahkan Rosulullah menjelaskan kriteria orang kuat dengan kemampuan mengendalikan diri. Hadits Nabi, Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda “Bukanlah orang yang kuat yang menang dalam pergulatan akan tetapi orang yang kuat ialah yang mampu menahan hawa nafsunya saat marah”. (Muttafaqun ‘Alaih)

Jadi Bulan Ramadhan mendidik manusia menjadi manusia yang sebenarnya yaitu mampu mengendalikan diri.

2. Cinta tanah Air.

Cinta tanah air menurut Yunani adalah cinta pada tempat tinggal. Jika muncul cinta, maka dia tidak akan merusak alam, tidak akan mebuang sampah sembarangan, dan tidak akan mengganggu ketenangan tetangga.

Secara luas, jika timbul rasa cinta, maka akan timbul kepedulian terhadap lingkungan sekitar baik, manusia, hewan maupun tumbuhan atau alam sekitar.

Bulan Ramadhan melalui perintah puasa, umat Islam dilatihan merasakan apa yang dirasakan orang-orang miskin, diharapkan akan timbul rasa empati terhadap kondisi orang-orang miskin. Efeknya timbul keinginan membantu dan berbagi dengan orang lain.

Bulan Ramadhan menjadi tempat mengumpulkan pahala melalui shadaqah. Masjid-masjid dan mushola-mushola menyediakan makanan dan minuman bagi orang berbuka. Lembaga-lembaga Zakat, infaq, dan Shadaqah makin sibuk menerima para dermawan yang ingin menyalurkan  zakat, infaq, dan shadaqah. Masjid-masjid membentuk panitia untuk menampung Zakat, infaq, dan Shadaqah dari orang-orang sekitar.

Bahkan puasa Ramadhan diakhiri dengan mengeluarkan zakat fitrah. Ini menunjukan bahwa bulan Ramadhan mendidikan umat Islam menjadi manusia yang peduli terhadap sesama dan lingkungan sekitar.

3. Berpengetahuan.

Berpengetahuan artinya syarat manusia adalah memiliki pengetahuan yang  benar. Pengetahuan merupakan pembeda antara manusia dengan makhkuk yang lain. Manusia dituntut untuk terus menambah pengetahuan.

Istilah Long Life Education atau Pendidikan sepanjang hayat menjadi slogan global. UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) menjelaskan 4 pilar pendidikan yaitu learning to Know, learning to do, learning be, dan learning to live together.

Otak manusia menjadi organ penting sebagai pusat dari sistem syaraf yang berfungsi mengatur gerakan, perilaku dan fungsi tubuh serta melatih emosi-emosi dan ingatan. Membicarakan otak secara lebih rinci lagi, akan ditemukan kehebatan-kehebatan organ yang Allah ciptakan bagi manusia. Bahkan sejak di dalam kandungan, otak bayi terus berkembang, sehingga ada cara mencerdaskan bayi.

Tapi kehebatan otak sering dibatasi oleh manusia dengan mitos-mitos. Ada mitos yang membatasi kehebatan otak yaitu kecerdasan otak dipengaruhi oleh keturunan, dan otak melemahan karena usia. Kedua mitos tersebut sudah terbantahkan melalui penelitian ilmiah.

Bulan Ramadhan memberikan umat Islam kesempatan menambah ilmu-ilmu agama melalui kegiatan ta’lim di masjid, atau kuliah dhuha atau kultum bada dhuhur di perkatoran. Umat Islam semangat mempelajari dan menambah ilmu agama di bulan Ramadhan. Otak mulai diaktifkan kembali dengan pengetahuan agama di bulan Ramadhan.

Jadi kesimpulanya, Bulan Ramadhan merupakan bulan pendidikan, dimana semua aktivitas di bulan Ramadhan bertujuan melatih manusia menjadi manusia yang sebenarnya yaitu manusia yang mampu mengendalikan diri, cinta terhadap lingkungan dan berpengetahuan.

5

Yunandra

Yunandra adalah Pengawas Madrasah/Konsultan/Praktisi Pendidikan Islam yang ingin berbagi dan memberi untuk hidup lebih baik. Kata yunandra merupakan dua nama digabung dengan kata “and”. Harapannya segala kebaikan yang dilakukan menjadi Amal Jariah berdua.