Etos Kerja Manajer Madrasah

Hasil-hasil penelitian menunjukan bahwa salah satu faktor pendukung dan kunci keberhasilan bagi madrasa berprestasi atau madrasah sukses adalah faktor kepemimpinan atau manajemen kepala madrasah. Oleh karena itu pemimpin madrasah memiliki etos kerja yang digali dari wahyu ilahi.

Etos berasal dari bahasa Yunani ethos yang berarti “watak atau karakter, sikap, kebiasaan”. Dari kata “etos” terambil pula kata “etika” dan “etis” yang mengacu kepada makna “akhlaq” atau bersifat “akhlaqi”, yakni kualitas esensial seseorang atau suatu kelompok. “Etos kerja” berarti karakteristik, sikap atau kebiasaan, kualitas esensial seseorang atau kelompok dalam bekerja.

Etos kerja tersebut mempunyai implikasi sebagai berikut:

  1. Bahwa seseorang (manajer/pemimpin madrasah) tidak boleh bekerja dengan “sembrono”, seenaknya dan acuh tak acuh, sebab hal ini akan berarti merendahkan makna demi ridha Allah atau merendahkan tuhan. Dalam al_Qur’an surat al-Kahfi 110 dinyatakan, yang maksudnya adalah “Barangsiapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya (untuk memperoleh ridhan-Nya), maka hendaklah ia bekerja yang baik (bermutu), dan hendaklah dalam beribadah kepada Tuhannya itu tidak melakukan syirik, yakni mengalihkan tujuan pekerjaannya selain kepada Tuhan (al-Haqq), yang menjadikan sumber nilai intrinsic pekerjaan manusia.
  2. Setiap orang (manajer/pemimpin madrasah) dinilai dari hasil kerjanya (QS. Al-Najm: 39) sehingga dalam bekerja dituntut untuk: (1) tidak memandang enteng bentuk-bentuk kerja yang dilakukan; (2) member makna kepada pekerjaannya itu; (3) insaf bahwa kerja adalah mode of exintence (bentuk keberadaan) manusia. Dan (4) dari segi dampaknya (baik/buruk), kerja itu tidaklah untuk Tuhan, tetapi untuk dirinya sendiri (QS. Fushilat : 46, dan Luqman: 12)
  3. Bahwa seseorang (manajer/pemimpin madrasah) harus bekerja secara optimal dan komitmen terhadap proses dan hasil kerja yang bermutu atau sebaik mungkin, selaras dengan akjaran ihsan (QS. Al-Nahl: 90)
  4. Bahwa seseorang (manajer/pemimpin madrasah) harus bekerja efesien dan efektif atau mempunyai daya guna yang setinggi-tingginya (QS: Al-Sajadah: 7)
  5. Bahwa seseorang (manajer/pemimpin madrasah) harus mengerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh dan teliti (itqan), dan tidak separuh hati atau setengah-setengah, sehingga tidak rapi, indah, tertib dan bersesuaian antara satu dengan lainnya dari bagian-bagiannya (QS: al-Naml: 88).

  226

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply