Acara Pelepasan Angkatan 4 MAYASA

5 Faktor Pendukung  MAYASA

Madrasah Aliyah Al Azhar Asy Syarif (MAYASA) telah memasuki tahun keenam dari perjalanannya sebagai lembaga pendidikan formal. Pada tahun ini, MAYASA melepas 40 siswa/siswi dari jurusan IPA dan IPS.

Acara pelepasan diselenggarakan di Gedung bumi Wiyata Depok. Dihadiri oleh Kepala kantor kementerian Agama kota Jakarta Selatan yang baru, H. Muhammad Qomaruddin, Kepala Seksi Pendidikan Madrasah, H. Hasim, Mantan Kepala MAN 4 Pondok Pinang, Ibu Isnadiar, dan Kepala MAN 4 Pondok Pinang yang juga Kepala MAYASA, Ismail Nur.

Dalam sambutannya, Kepala kantor menegaskan  perlunya keterpaduan antara akhlak, pengetahuan dan skill. Beliau mengharapkan Madrasah, Khususnya MAYASA mampu mempersiapkan Alumni-alumni yang memiliki pengetahuan dan skill yang didasari akhlak yang mulya.

MAYASA sebagai filial MAN 4 Pondok Pinang, memiliki status yang sama dengan madrasah yang lain yaitu sekolah umum yang berciri khas Islam. dimana MAYASA tidak hanya mengajarkan pengetahuan dan keterampilan seperti yang diajarkan di sekolah Umum, tapi mengintegrasikan kedua aspek tersebut dengan ajaran Islam.

Selain itu, MAYASA merupakan filial dari Al Azhar Mesir, dimana salah satu ciri utamanya adalah tahfidz Al Quran. Tahfidz Al Quran menjadi mata pelajaran khusus dengan target di tingkat Ibtidaiya adalah 18 juz, di tingkat Tsanawiyah berjumlah 7 tujuh, dan di tingkat MA sekitar 5 juz.

Maka tepat sekali apa yang dilakukan oleh ketua Panitia acara, disela pemberian sambutan, beliau menyerahkan mushaf Al Quran kepada para alumni sebagai pesan kuat agar para alumni selalu dekat dengan Al Quran dan tetap melanjutkan kebiasaan menghafal Al Quran,  seperti mereka lakukan selama belajar di MAYASA.

Menurut Kepala MAN 4 Pondok Pinang sekaligus juga kepala MA Al Azhar Asy Syarif bahwa anak-anak merupakan makhluk sempurna dengan potensi yang luar biasa. Anak-anak itu diibaratkan seperti mobil-mobilan zaman dulu yang tinggal disulut ekornya, maka mobil tersebut akan lari kencang. artinya Fungsi Madrasah sebagai pendorong dan pemberi motivasi kepada anak-anak agar mereka dapat lari dengan cepat.

Keterbatasan fasilitas ataupun  sarana bukan menjadi halangan untuk menjalankan proses pendidikan dengan baik. Terbukti dengan kekurangan fasilitas belajar, MAYASA mampu mengantarkan siswa-siswa sampai angkatan keempat.

Jika dibadingkan dengan kondisi pertama kali berdiri di tahun 2012, MAYASA sekarang jauh lebih baik, minimal telah memiliki gedung sendiri. Walaupun belum bisa menampung seluruh siswa. sampai sekarang sebagian siswa masih belajar di gedung asrama MATASYA.

Ketika pertama kali berdiri, MAYASA belum memiliki gedung sendiri. Siswa baru yang menjadi terget utama adalah alumni Madrasah Tsanawiyah Negeri 41 Al Azhar Asy Syarif Indonesia (MATASYA). kenapa harus alumni MATASYA? karena mereka sudah memahami program al Azhar dibandingkan dengan siswa yang dari madrasah lain. Siswa yang masuk di angkatan pertama berjumlah 21 orang siswa, yang sebagian bukan alumni MATASYA. Proses pembelajaran mulai bulan Juli tahun 2012 dengan fasilitas 2 ruang belajar di lantai 3 gedung MATASYA.

Lalu, apa faktor pendukung sehingga MAYASA bisa berjalan dan bertahan sampai sekarang?

Minimal ada 5 faktor pendukung yang membuat  MAYASA bisa bertahan sampai sekarang dengan segala kekurangan dan kelebihannya, yaitu:

1. Dukungan MINASI dan MATASYA

MAYASA tidak akan lepas dari keberadaan MATASYA dan MINASI. Karena ketiganya memiliki keterkaitan secara program dan kurikulum yaitu kurikulum Al Azhar Mesir. Salah butir di MoU adalah MAYASA tidak bisa berdiri tanpa ada alumni dari MATASYA. Begitu juga MATASYA tidak bisa berdiri tanpa ada alumni dari MINASI.

Artinya MAYASA adalah lembaga pendidikan lanjutan bagi para alumni MATASYA yang ingin melanjutkan program al Azhar Mesir di tingkat Aliyah. Dan MATASYA adalah lembaga pendidikan lanjutan bagi Alumni MINASI yang ingin melanjutkan program Al Azhar Mesir di tingkat Tsnawiyah.

MATASYA berdiri di tahun 2006 setelah MINASI mengeluarkan angkatan pertamanya di tahun 2006. Idealnya MAYASA berdiri di tahun 2009 ketika MATASYA mengeluarkan angkatan pertama, tapi dengan beberapa pertimbangan MAYASA tidak bisa berdiri, walaupun persiapan pendirian Aliyah sudah lakukan oleh Tim gabungan MINASI dan MATASYA. Baru terwujud MAYASA bisa berdiri di tahun 2012 setelah MATASYA mengeluarkan angkatan ke-4.

 

2. Komitmen Kepala Madrasah dan Guru

Kementerian Agama sudah banyak mengeluarkan program-program pengembangan madrasah dan sedikit yang bisa bertahan. Salah satu yang masih bertahan sampai sekarang adalah Program Madrasah Al Azhar Mesir. Program ini sudah dirintis sejak tahun 2000. Diawali dengan penandatanganan MoU antara Kementerian Agama dan Al Azhar Mesir di tahun 1999 tentang izin mendirikan lembaga pendidikan dasar dan menegah Al Azhar Asy Syarif di Indonesia.

Perubahan dan pergantian pejabat struktural di Kementerian Agama tidak mempengaruhi dan menghilangkan program Al Azhar. hal ini disebabkan oleh adanya komitmen pelaku utama di lapangan yaitu Kepala Madrasah dan Guru untuk menjalankan program Al Azhar dengan baik. Komitmen mereka menjadi kunci utama bertahannya program al Azhar, baik di tingkat Ibtidaiyah, Tsanawiyah, maupun aliyah.

Hal ini dibuktikan ketika pertama kali mendirikan MATASYA dan MAYASA, dimana Strategi pertama yang digunakan ketika mendirikan MAYASA adalah melibatkan guru-guru MINASI dan MATASYA dalam proses pembelajaran di MAYASA. Strategis tersebut pernah dilakukan ketika mendirikan MATASYA di tahun 2006. Alasanya adalah karena mereka yang pernah terlibat di MINASI atau MATASYA mengetahui visi dan misi program Al Azhar dan diharapkan mereka punya komitmen untuk mengembangkan program Al Azhar. Sekaligus dapat menumbuhkan rasa memiliki terhadap ketiga lembaga tersebut. Ketika sudah terbangun rasa memiliki, maka akan mempermudah koordinasi dan kolaborasi dalam pengembangan madrasah Al Azhar secara bersama.

3. Kepercayaan orang Tua terhadap MAYASA

Apakah pernah membayangkan, ada orang tua yang menitipkan anak-anaknya ke sebuah lembaga yang belum jelas status kelembagaannya dan tidak memiliki gedung? Lembaga tersebut hanya menawarkan program.

Itu terjadi di MAYASA, 21 Orang tua menitipkan anak-anaknya untuk belajar di MAYASA yang proses pembelajaranya numpang di gedung MATASYA dan statusnya belum jelas. Tapi Mereka memberikan kepercayaan kepada MAYASA untuk mendidik anak-anaknya.

Kepercayaan Orang tua memiliki peran penting dan kunci keberhasilan suatu pendidikan. Karena efeknya akan memberikan ketenangan dan kenyamanan kepada guru-guru untuk mendidik anak-anaknya. Selain itu, menimbulkan rasa tanggungjawab untuk membuktikan kepercayaan orang tua bahwa kepercayaan mereka itu tidak salah.

Pada awal berdiri, hal yang selalu disampaikan kepada Orang tua, MAYASA tidak bisa memfasilitasi anak-anak agar mampu mendapatkan nilai Ujian Nasional yang baik, tapi MAYASA akan berusaha memfasilitasi Anak-anak agar bisa mengembangkan potensinya dan dapat memilih fakultas atau jurusan di perguruan tinggi sesuai dengan minat dan potensi yang dimilikinya.

Maka perlu dipelihara dan dibangun kepercayaan orang tua terhadap Madrasah. Juga perlu ditingkatkan kerjasama antara madrasah, baik kepala madrasah, guru, staf administrasi dengan orang tua siswa, sesuai dengan perannya masing-masing. Tujuannya untuk bersama-sama mengantarkan dan membimbing  anak-anak menemukan potensi dan minatnya serta dapat mengembangkan dirinya sesuai dengan potensi yang dimiliki.

 

4. Kebaikan MAN 4

Adalah kemurahan dan kebaikan  Kepala MAN 4, dewan guru, dan tenaga kependidikan yang mau menerima MAYASA menjadi filial MAN 4. Tentu punya beban tersendiri bagi MAN 4 ketika menerima Madrasah baru berkembang, tidak memiliki gedung dan proses pembelajaran yang belum tentu terjamin menjadi bagian dari MAN 4. Artinya Reputasi MAN 4 yang sudah baik dipertaruhkan karena ditakutkan anak-anak MAYASA akan mendapat nilai ujian nasional tidak sesuai dengan target yang ditetapkan MAN 4.

Pada awalnya sempat bertanya, kenapa digabungkan dengan MAN 4 Pondok Pinang, bukan dengan MAN yang lain. Jawabannya biar MAYASA terpangaruhi menjadi madrasah model dan unggulan. Semoga menjadi doa.

Atas Izin Allah, MAYASA diberi amanah mendidik angkatan pertama adalah Anak-anak yang luar biasa. Sehingga kekhawatiran tersebut tidak terjadi. Malah sebaliknya, mereka sangat membanggakan MAYASA.

 

5. Anak-anak Yang Luar Biasa

Bisa dibilang Alumni Angkata Pertama adalah Pahlawan MAYASA. Mereka telah mengangkat nama MAYASA. Mereka belum sempat menikmati gedung baru. Mereka hanya punya kenangan belajar di kelas yang ada lapangan tenis meja dan kamar mandi di dalam. Keterbatasan fasilitas tidak menghalangi mereka untuk membuktikan potensinya.

Kalau ukuran kesuksesan MAYASA adalah diterima ke perguruan tinggi ternama, maka mereka sudah bisa membuktikannya. Mereka ada yang diterima di UI, UNPAD,  UGM, ITB, GUNADARMA dan ada yang mendapatkan beasiswa ke Jepang dan Mesir, serta ada juga yang melanjutkan ke Turki.

Bagi MAYASA, keberhasilan mereka merupakan Anugerah dari Allah. Karena target pertama MAYASA untuk angkatan pertama adalah mereka bisa mengikuti ujian nasional. Kenapa harapannya hanya bisa mengikuti UN? Karena pada saat itu status kelembagaan MAYASA baru diakui.

Sekarang, MAYASA sudah jelas status kelembagaannya dan memiliki gedung baru. Semoga Pelepasan alumni angkatan 4 MAYASA bisa diibaratkan seperti menaburkan bintang-bintang yang akan menerangi gelapnya malam  Dimana pun berada, mereka menjadi bintang-bintang yang menghiasi dan membantu menerangi kegelapan.

 

54

Yunandra

Yunandra adalah Identitas seorang Pengawas Madrasah/Konsultan/Praktisi Pendidikan Islam yang memiliki keinginan berbagi dan memberi untuk hidup lebih baik. Adapun kata yunandra berasal dari dua nama yang digabungkan dengan kata “and”. Harapannya adalah Segala kebaikan yang dilakukan menjadi Amal Jariah bagi pasangan juga. Salam Sharing and Giving