Penjaminan Mutu MIN 14 AL Azhar Asy Syarif

Penjaminan Mutu MIN 14 AL Azhar Asy Syarif

MINASI, Madrasah Ibtidaiyah Negeri 41 Al Azhar Asy syarif yang dikenal MINASi memiliki tradisi breffing mingguan. Tradisi ini telah dimulai sejak MINASI menjalankan  proses pembelajar di Pondok Pinang tahun 2000. Tujuanya adalah untuk mengevaluasi pelaksanaan pembelajaran dan peristiwa yang terjadi selama seminggu, kemudian dilanjutkan untuk merencanakan tindak lanjut di minggu yang akan datang. Juga sebagai sarana penyampaian informasi-informasi baru yang perlu diketahui semua dewa guru.

Hari Rabu, 22 Februari 2017, Pertemuan tersebut menjadi sarana yang baik buat pengawas madrasah untuk melakukan pembinaan kepada para guru.  Apalagi pertemuan ini merupakan awal pembinaan kedinasan setelah ditetapkan sebagai pengawas pembina. Kesempatan tersebut digunakan sebagai sarana untuk menyampaikan beberapa hal yang menjadi prioritas pembinaan yang akan dilakukan, yaitu:

1. Sosialisasi Pembinaan Dalam Jejaring

Dalam Jejaring (daring) atau online sudah menjadi hal biasa di dunia pendidikan madrasah. Madrasah sudah terbiasa mengisi data madrasah melalui online dengan nama sistem SIMDIK dan EMIS. Sekarang, juga Para guru sudah diperkenalkan dengan aplikasi SIMPATIKA dan SIMPADU.

Program aplikasi daring (online) merupakan sistem yang diharapkan mempermudah dalam mengontrol perkembangan madrasah dan menjadi dasar mengambil keputusan oleh pengambil kebijakan.

Bersamaan dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi,  Madrasah dan guru dapat mengakses semua aplikasi tersebut dengan menggunakan SmartPhone. Selain praktis, Madrasah dan Guru dapat mengaksesnya dimanapun dan kapanpun juga.

Baca : 7 Peran Guru Zaman Teknologi

Disamping perkembangnya aplikasi-aplikasi pendataan, telah berkembang juga pembelajaran dalam jejaring atau pembelajaran online. Seperti yang dirintis oleh Balai Diklat Keagamaan DKI Jakarta yang menlauching Diklat online dengan nama Diklat jarak Jauh, atau Lembaga-lembaga diklat yang dibawah binaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menjalanan pembelajaran online, seperti Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPTK) IPA menawarkan diklat mata pelajaran IPA, atau PPPPTK Matematika yang menawarkan diklat mata pelajaran Matematika berbasis Online.

Dengan kondisi tersebut, pembinaan guru akan menggunakan dalam jejaring atau online dengan nama Pengawasan dalam Jejaring” yang ditampilkan di website Madrasah Yunandra. Proses pengawasan diawali dengan evaluasi diri guru. Instrumennya disusun berdasarkan instrumen penilaian kinerja guru. Diharapkan evaluasi diri menjadi dasar pembinaan selanjutnya.

2. Standarisasi Kelulusan

Madrasah Ibtidaiyah Negeri 41 Al Azhar Asy Syarif (MINASI) memiliki keunggulan dalam pengembangan kurikulum keagamaan yaitu Kurikulum AL Azhar Mesir. Tiga materi unggulan yaitu Tahfidz Al Quran, Bahasa Arab dan Tarbiyah Islamiyah. Ketiga materi tersebut sudah menjadi pembeda dengan madrasah-madrasah lain. Maka MINASI tidak perlu lagi mencari lagi “Brand” atau ciri khas yang ditawarkan kepada masyarakat. Karena dengan ketiga materi tersebut, Orang tua sudah tertarik untuk memasukan anaknya ke MINASI.  Terbukti dengan banyaknya peserta didik yang mendaftar di setiap tahun pelajaran baru atau di waktu penerimaan peserta didik baru. Jumlah Pendaftar melebihi kuota yang ada, sehingga MINASI perlu mengadakan seleksi agar sesuai dengan kuota siswa dan tuntutan program.

Dengan kondisi adanya ciri khas dan tidak disibukan mencari siswa, maka MINASI perlu mengalihkan perhatiannya kepada hal yang lebih tinggi, seperti pada peningkatan mutu pendidikan materi kealazharan (tahfidz AL Quran, Bahasa Arab, dan Tarbiyah Islamiyah), sistem pelayanan dan pengelolaan berbasis dalam jejaring (online) atau hal-hal yang lain.

Salah satu yang penting adalah standarisasi kelulusan. Maksudnya adalah MINASI perlu menetapkan standar di setiap program yang dilaksanakan, baik yang berkaitan dengan akademik maupun non akademik. Arti standar yaitu batas minimal yang harus dicapai oleh mayoritas peserta didik. Mayorias yang dimaksud adalah  80% dari jumlah peserta didik harus mencapai standar yang ditetapkan. Hal ini menggunkan kurva normal yaitu kalaupun ada yang kurang dari standar itu tidak lebih dari 10% jumlah peserta didik.

Misalnya, MINASI menetapkan standar kelulusan tahfidz Al Quran yaitu 5 juz. Jika Peserta didik di kelas 6 berjumlah 100 orang, maka 80% dari 100 yaitu 80 peserta didik mampu menghafal 5 juz. Kalaupun ada yang tidak mampu menghafal 5 Juz, maka tidak lebih dari 10% dari 100 yaitu maksimal 10 peserta didik.

Pelaksanaan Standarisasi ini akan menjadi alat ukur peningkatan mutu pendidikan di MINASI. Dengan adanya alat ukur, akan mempermudah untuk melakukan evaluasi dan perencanaan perbaikan setiap tahunnya.

 3. Penilaian HOTS ( Hight Order Thinking Skill)

Higher Orde Thinking Skill (HOTS) yang dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai kemampuan berfikir tingkat tinggi merupakan salah satu pendekatan dalam pembelajaran dimana siswa diajarkan untuk berfikir kritis, logis, reflektif, metakognitif, dan berpikir kreatif. Menurut Anderson & Krathwohl (2001), bahwa kemampuan  berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS) adalah domain analisis (analyze), evaluasi (evaluate), dan mencipta (create).

Berpikir analitis adalah proses berpikir yang mendorong untuk membuat keputusan yang lebih baik atau memaksa pikiran untuk menyebar dengan memikirkan banyak alternatif, kemudian buatlah menyempit dengan memilih alternatif terbaik. Dalam penilain analitis, Menggunakan keterampilan yang telah dipelajarinya terhadap suatu informasi yang belum diketahuinya dalam mengelompokkan informasi, menentukan keterhubungan antara satu kelompok/informasi atau menguraikan suatu materi menjadi komponen-komponen yang lebih jelas.

Contohnya kemampuan Peserta didik MINASI mengelompokkan benda berdasarkan persamaan dan perbedaan ciri- cirinya, menentukan mana yang memberikan pengaruh dan mana yang menerima pengaruh, menemukan keterkaitan antara fakta dengan kesimpulan,   menemukan pikiran pokok penulis/pembicara/ nara sumber, menemukan kesamaan dalam alur berpikir antara satu karya dengan karya lainnya, dan sebagainya

Berpikir evaluatif ialah berpikir kritis, menilai baik-buruknya, tepat atau tidaknya suatu gagasan dengan tanpa menambah atau mengurangi gagasan. Dalam penilaian evaluatif, Kemampuan menilai suatu benda atau informasi berdasarkan suatu kriteria(menilai suatu ide, kreasi, cara, atau metode).

Contohnya Kemampuan peserta didik Madrasah menilai apakah informasi yang diberikan berguna, apakah suatu informasi/benda menarik/ menyenangkan bagi dirinya, adakah penyimpangan dari kriteria suatu pekerjaan/keputusan/peraturan, memberikan pertimbangan alternatif mana yang harus dipilih berdasarkan kriteria, menilai benar/salah/bagus/jelek dan sebagainya suatu hasil kerja berdasarkan kriteria.

Berpikir kreatif adalah upaya untuk menghubungkan benda-benda atau gagasan-gagasan yang sebelumnya tidak berhubungan. Dalam penilaian kreatif, membuat sesuatu yang baru dari apa yang sudah ada sehingga hasil tersebut merupakan satu kesatuan utuh dan berbeda dari komponen yang digunakan untuk membentuknya.

Contohnya  kemampuan peserta didik MIN Al Azhar Asy Syarif membuat suatu cerita/tulisan dari berbagai sumber yang dibacanya, membuat suatu benda dari bahan yang tersedia, mengembangkan fungsi baru dari suatu benda, mengembangkan berbagai bentuk kreativitas lainnya.

Akhirnya, peningkatan mutu pendidikan di madrasah, Khususnya di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 41 Al Azhar Asy syarif (MINASI) tergantung kepada seberapa besar komitmen semua pihak yang terlibat, kepala madrasah, guru madrasah, administasi madrasah, dan komite madrasah. Dengan komitmen bersama, maka apapun yang diharapkan dan dituju akan terasa mudah mencapainya.

Wallahua’lam bishawab.

45