Memahami Kebutuhan Anak dari Kisah Zhang Da

Cerita Zhang Da memberi pelajaran berharga tentang pengabdian seorang anak kepada ayahnya yang lumpuh/sakit. Cerita tersebut menjadi motivasi bagi anak-anak untuk selalu berjuang dan tidak patah semangat. Harapannya anak-anak selalu berusaha dan bekerja keras untuk meraih cita-citanya.

Tapi kesempatan ini, melihat kisah Zhang Da dari sudut orang tua. Pelajaran apa yang bisa diambil oleh orangtua. Mencoba memahami apa sebenarnya kebutuhan dan keinginan anak-anak? Apa yang dituntut oleh anak dari orang tua?

Sebagai pengingat kembali, akan diceritakan kembali kisahnya Zhang da berikut. Kisah ini dinukil dari salah satu cerita dari ebook yang disusun oleh Andrie Wongso dengan judul “ 6 Inspirasi Nyata dari Anak-anak dengan Tekad Perjuangan Hidup yang Luar biasa”.

Judulnya adalah ““Kembalilah Ma…

…………………………………………….

Zhang Da harus menanggung beban hidup yang berat ketika usianya masih sangat belia. Tahun 2001, ketika usianya menjelang 10 tahun, Zhang Da harus menerima kenyataan ibunya lari dari rumah. Sang ibu kabur karena tak tahan dengan kemiskinan yang mendera keluarganya. Yang lebih tragis, si ibu pergi karena merasa tak sanggup lagi mengurus suaminya yang lumpuh, tak berdaya, dan tanpa harta. Dan ia tak mau menafkahi keluarganya.

 Maka Zhang Da yang tinggal berdua dengan ayahnya yang lumpuh, harus mengambil-alih semua pekerjaan keluarga. Ia harus mengurus ayahnya, mencari nafkah, mencari makanan, memasaknya, memandikan sang ayah, mencuci pakaian, mengobatinya, dan sebagainya.

Yang patut dihargai, ia tak mau putus sekolah. Setelah mengurus ayahnya, ia pergi ke sekolah berjalan kaki melewati hutan kecil dengan mengikuti jalan menuju tempatnya mencari ilmu. Selama dalam perjalanan, ia memakan apa saja yang bisa mengenyangkan perutnya, mulai dari memakan rumput, dedaunan, dan jamur-jamur untuk berhemat. Tak semua bisa jadi

bahan makanannya, ia menyeleksinya berdasarkan pengalaman. Ketika satu tumbuhan merasa tak cocok dengan lidahnya, ia tinggalkan dan beralih ke tanaman berikut. Sangat beruntung karena ia tak memakan dedaunan atau jamur yang beracun.

Menjadi Perawat & Tulang Punggung Keluarga

Usai sekolah, agar dirinya bisa membeli makanan dan obat untuk sang ayah, Zhang Da bekerja sebagai tukang batu. Ia membawa keranjang di punggung dan pergi menjadi pemecah batu. Upahnya ia gunakan untuk membeli aneka kebutuhan seperti obat-obatan untuk ayahnya, bahan makanan untuk berdua, dan sejumlah buku untuk ia pejalari.

 Zhang Da ternyata cerdas. Ia tahu ayahnya tak hanya membutuhkan obat yang harus diminum, tetapi diperlukan obat yang harus disuntikkan. Karena tak mampu membawa sang ayah ke dokter atau ke klinik terdekat, Zhang Da justru mempelajari bagaimana cara menyuntik. Ia beli bukunya untuk ia pelajari caranya. Setelah bisa, ia membeli jarum suntik dan obatnya lalu menyuntikkannya secara rutin pada sang ayah.

Kegiatan merawat ayahnya terus dijalaninya hingga sampai lima tahun. Rupanya kegigihan Zhang Da yang tinggal di Nanjing, Provinsi Zhejiang, menarik pemerintahan setempat. Pada Januari 2006 pemerintah China menyelenggarakan penghargaan nasional pada tokoh-tokoh inspiratif nasional. Dari 10 nama pemenang, satu di antaranya terselip nama Zhang Da. Ternyata ia menjadi pemenang termuda.

Acara pengukuhan dilakukan melalui siaran langsung televise secara nasional. Zhang Da si pemenang diminta tampil ke depan panggung. Seorang pemandu acara menanyakan kenapa ia mau berkorban seperti itu padahal dirinya masih anak-anak. ”Hidup harus terus berjalan. Tidak boleh menyerah, tidak boleh melakukan kejahatan. Harus menjalani hidup dengan penuh tanggung jawab,” katanya.

 

Pejuang Tangguh Berhati Mulia

Setelah itu suara gemuruh penonton memberinya applaus.

Pembawa acara menanyainya lagi. ”Zhang Da, sebut saja apa yang kamu mau, sekolah di mana, dan apa yang kamu inginkan. Berapa uang yang kamu butuhkan sampai kamu selesai kuliahdan mau kuliah di mana. Pokoknya apa yang kamu idam idamkan, sebutkan saja. Di sini ada banyak pejabat, pengusaha, dan orang terkenal yang hadir. Saat ini juga ada ratusan juta orang yang sedang melihat kamu melalui layar televisi, mereka bisa membantumu!” papar pembawa acara.

Zhang Da terdiam. Keheningan pun menunggu ucapannya.  Pembawa acara harus mengingatkannya lagi. ”Sebut saja!” katanya menegaskan. Zhang Da yang saat itu sudah berusaha 15 tahun pun mulai membuka mulutnya dengan bergetar. Semua hadirin di ruangan itu, dan juga jutaan orang yang menyaksikannya langsung melalui televisi, terdiam menunggu apa keinginan Zhang Da.

”Saya mau mama kembali. Mama kembalilah ke rumah, aku bisa membantu papa, aku bisa cari makan sendiri. Mama kembalilah!” kata Zhang Da yang disambut tetesan air mata haru para penonton.

Zhang Da tak meminta hadiah uang atau materi atas ketulusannya berbakti kepada orangtuanya. Padahal saat itu semua yang hadir bisa membantu mewujudkannya. Di mata Zhang Da, mungkin materi bisa dicari sesuai dengan kebutuhannya, tetapi seorang ibu dan kasih sayangnya, itu tak ternilai.

………………….

Melihat cerita di atas bahwa Kehadiran orang tua dengan kasih sayangnya lebih berharga dari segalanya.

Dari sudut orang tua melihat anak bahwa anak merupakan mutiara titipan Allah. Kehadiran mereka menjadikan hidup berwarna dan berarti. Berwarna karena Tingkah laku anak yang penuh ceria membuat ayah bunda bisa tertawa, tersenyum, cemberut, marah, sedih, bahagia dan terharu. Berarti karena keberadaan anak menjadi alasan ayah bunda bekerja.

Dari sudut anak, bahwa kebutuhan mereka adalah kehadiran orang tua (khususnya Ibu) dengan kasih sayangnya di kehidupan mereka.

………………………..

6 Inspirasi Nyata dari Anak-anak dengan Tekad Perjuangan Hidup yang Luar biasa

 



821