Metode Pendidikan Agama Islam

METODE INTERNALISASI

DALAM PENDIDIKAN  ISLAM

Seorang siswa yang mengetahui tata cara shalat, kemudian dia mampu mempraktekanya, serta mampu menjawab soal tulis dan praktek di akhir semester, maka dia sudah tuntas pembembelajarnya.

Di dalam Pendidikan Islam, Tidak cukup sampai siswa memenuhi tiga ranah pendidikan yaitu kognitif, psikomotorik, dan afektif, lebih dari itu, Pendidikan Islam perlu menanamkan siswa untuk menerapkannya  dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Ahmad Tafsir dalam buku “Filsafat Pendidikan Islami”, Tujuan Pendidikan Islam diwujudkan melalui 3 tahap tujuan pembelajaran yaitu:

  1. Knowing.Tahu atau mengetahui. Artinya tugas guru hanya menyampaikan sesuatu agar siswa tahu.
  2. Doing atau mampu melakukan atau mengerjakan apa yang diketahui. Artinya tugas guru mengajarkan dan melatih siswa agar mampu mempraktekan ilmunya
  3. Being atau menjadi orang seperti yang ia ketahui. Artinya guru mengajarkan dan melatih siswa agar tindakan yang dilakukan sesuai yang dia ketahui menjadi sebuah kebiasaan, bahkan menjadi kepribadiannya.

Untuk mencapai tujuan tersebut dikenal dengan metode internalisasi atau personalisasi. Metode tersebut dengan tiga teknik  yaitu:

1. Modeling/Peneladanan

Modeling atau Peneladanan adalah memberikan contoh dalam kehidupan sehari-hari. Pemberi teladan tidak hanya dibebankan kepada guru saja, tapi semua pihak yang terlibat dalam proses pendidikan anak, baik kepala sekolah, tenaga kependidikan, bahkan pesuruh dan penjaga madrasah bersama-sama memberikan contoh yang baik kepada siswa.

Secara Psikologis, Modeling atau peneladanan adalah metode terbaik dalam mendidik siswa, karena Siswa senang meniru dan mempraktekan apa yang dilihatnya.

Oleh karena itu, pihak-pihak yang terlibat dalam pendidikan perlu mengetahui etika profentik atau etika kenabian. Dimana Nabi Muhammad SAW merupakan Contoh terbaik atau teladan yang baik.

2. Motivasi

Motivasi memiliki dua arti, pertama arti motivasi adalah alasan. Artinya Orang yang memiliki motivasi tinggi adalah orang yang memiliki alasan yang sangat kuat untuk mencapai apa yang diinginkannya dengan mengerjakan pekerjaannya yang sekarang.

Kedua arti motivasi adalah semangat.  seperti contoh dalam percakapan “saya ingin anak saya memiliki motivasi yang tinggi”. Statemen ini bisa diartikan orang tua tersebut menginginkan anaknya memiliki semangat belajar yang tinggi. (wikipedia.org).

Para pendidik perlu memberikan motivasi kepada siswa-siswanya untuk melakukan sesuatu. Bentuk motivasi bisa dengan memberikan reward atau penghargaan. Misalnya menyebutkan nama siswa di upacara Bendera, atau memberikan pin khusus.

3. Pembiasaan

Karekter adalah kumpulan dari kebiasaan-kebiasaan. Artinya dalam rangka membentuk karakter siswa perlu dilakukan pembiasaan-pembiasaan yang baik.

Pembiasaan berupa kegiatan yang dilaksanakan secara rutin. Terkadang Madrasah merasa keberatan kehilangan waktu belajar di kelas jika digunakan untuk membaca al-Quran 15 menit setiap hari, 15 menit untuk shalat Dhuha atau shalat Dhuhur berjamaah. Bahkan kegiatan itu disebut pemborosan waktu.

Padangan tersebut tidak dapat dibenarkan, karena tujuan pendidikan yang utama adalah pendidikan akhlak, dalam bahasa sekarang adalah pendidikan karakter. Artinya jika siswa memiliki akhlak atau karakter yang baik, secara tidak langsung akan mempengaruhi pada proses pembelajaran.

Teknik pembiasaan yang bisa dilakukan oleh Guru adalah memberikan buku monitoring. Dimana fungsinya adalah mengontrol setiap perilaku atau akhlak dapat dilaksakan oleh siswa dengan baik dan terus menerus. Seperti monitor ibadah, monitor hafalan Al-Quran, atau monitor kebiasaan harian.

 

37

Yunandra

Yunandra adalah Identitas seorang Pengawas Madrasah/Konsultan/Praktisi Pendidikan Islam yang memiliki keinginan berbagi dan memberi untuk hidup lebih baik. Adapun kata yunandra berasal dari dua nama yang digabungkan dengan kata “and”. Harapannya adalah Segala kebaikan yang dilakukan menjadi Amal Jariah bagi pasangan juga. Salam Sharing and Giving

Tinggalkan Balasan