Metode AIM dan TPR dalam Pembelajaran Bahasa Arab

Metode Pembelajaran Bahasa Arab Bagi Guru

Cara/metode lebih Penting dari Materi”. Ungkapan tersebut menegaskan pentingnya sebuah metode dalam proses pembelajaran. Sebaik apapun Materi jika tidak disampaikan dengan metode yang benar maka materi tidak akan sampai kepada tujuan yang diharapkan.

Guru sebagai pelaku pendidikan perlu mendalami dan memahami metode-metode pembelajaran yang dapat mempermudah pencapaiian tujuan yan diharapkan, salah satu metode yang diperkenalkan untuk pembelajran bahasa Asing,  yaitu yang ditulis oleh Julie Medikawati dalam buku “Membuat Anak Gemar dan Pintar Bahsa Asing.

Ada dua metode praktis untuk guru dalam mengajarkan bahasa Asing:

1. AIM (Accelerative Integrated Metholodology)

Metode AIM (Accelerative Integrated Metholodology) diperkenalkan oleh guru Kanada, Wendy Maxwel. Metode tersebut telah diajarkan di lebih dari 4000 sekolah di Kanada. Sehingga di tahun 1999, Menteri Kanada memberikann penghargaan kepada Maxwell atas keberhasilanya menerapkan metode tersebut. Pada tahun 2004, Maxwell meraih penghargaan HH Stern Award dari Asosiasi Guru Bahasa Asing Kanada.

Metode AIM (Accelerative Integrated Metholodology) adalah metode perpaduan antar gerak isyarat (gesture) dengan lagu, drama, teater, serta cerita anak (Store telling). Kelas dibuat aktif dengan gerakan dari guru yang ditirukan oleh murid sambil mengucapkan beberapa kata dan kalimat bahasa Asing dengan tanpa terjemah.

Prakteknya seperti mengajarkan kata “makan-eat”, guru membuat gerakan makan tanpa perlu menterjemahkan serta Siswa menirukan gerakan tersebut sambil mengucapkan kata makan dalam bahasa asing. Atau kata “minum-Drink”, guru membuat gerakan minum tanpa menterjemahkan dan Siswa mengikuti.

Pemikiran dasar metode AIM adalah bahwa Siswa belajar dan mengingat lebih baik saat melakukan sesuatu yang sejalan dengan kata-kata yang mereka ucapkan.

Penerapan metode AIM dilakukan dengan cara pengulangan, pemodelan, dan kegiatan manipulasi bahasa. Pengulangan digunakan untuk memperkuat penguasaan makna dan konteks. Permodelan digunakan untuk mengembangkan keterampilan bahasa tertulis. Manipulasi bahasa dengan pertanyaan pilihan ganda, dilanjutkan degan pertanyaan total dan pertanyaan parsial.

Manfaat metode AIM (Accelerative Integrated Metholodology) adalah

  • Gerakan akan mengingatkan pada kata-kata yang dipelajari
  • Siswa juga akan lebih cepat belajara
  • Siswa dapat membuat kalimat natural
  • Siswa akan lebih percaya diri
  • Siswa akan memiliki tingkat kelanaran lebih baik

 

2. Metode TPR (Total Physical Response Methode)

Metode TPR (Total Physical Response Methode) diperkenalkan oleh Dr. James J. Asher, Seorang Profesor Psikologi di San Jose State University. Metode ini adalah metode pengajaran bahasa Inggris yang melibatkan gerak kinestetik dalam menjawab perintah langsung.

Pemikiran dasarnya adalah anak maupun orang dewas dapat belajar bahasa dengana acepat dan lebih baik jika mereka mengasosiasikan kata tertentu dengan gerakan fisik.

Praktek metode TPR (Total Physical Response Methode) dengan mengajarkan dengan perintah langsung, seperti perintah ”Sit Down” dan “Open the Door”. Yan terpenting, Guru menirukan aktivitas saat memberikan perintah dan siswa mengikutinya.

Ada beberapa kegiatan yang bisa menerapkan metode TPR (Total Physical Response Methode), berikut ini:

  1. Story Telling yang interaktif
  2. Permainan Klasik Simon Say (kata Simon)
  3. Menggambarkan dan Konstruksi Dasar.

Secara Praktek, kedua metode tersebut telah diterapkan dalam pembelajaran bahasa Arab di Pondok Pesantren-pondok pesantren di Indonesia, terutama pondok pessantren yang berafiliasi dengan Pondok Modern Gontor Ponorogo.  Pondok Gontor memiliki perhatian khusus dalam pembejaran dua bahasa Asing yaitu Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Maka tidak heran jika alumni Pesantren Gontor memiliki kompetensi yang baik di kedua bahasa tersebut, baik lisan maupun tulisan.

Adapun Pembelajaran bahasa Arab di Madrasah yang tidak menerapkan sistem pesantren, perlu persamaan persepsi dulu di kalangan pihak pengambil kebijakan tentang tujuan pembelajaran bahasa Arab di Madrasah, apakah agar siswa mampu berkomunikasi dengan baik atau apakah siswa mampu memahami teks bahasa Arab. karena dengan alokasi waktu yang sedikit, penetapan salah satu dari dua target tersebut akan mempermudah dalam mengajakan bahasa Arab.

Jika tujuannya adalah kemampuan berkomunikasi, Guru-guru Madrasah, dapat mengembangkan metode tersebut dengan porsi kata dan kalimat yang lebih sedikit. Porsi tersebut sesuai dengan alokasi waktu 2-3 jam seminggu. Guru Bahasa Arab bisa menguatakan pada kosa kata harian yang berkaitan langsung dengan aktivitas siswa di Madrasah. Tapi Jika tujuanya adalah kemampuan memahami teks bahasa Arab, Maka pembelajaran bahasa Arab menekankan pada pembelajaran tata bahasa Arab, atau ilmu Nahu dan Sharaf.

Jika dibedakan kedua target tersebut adalah tujuan pertama adalah siswa mampu berbahasa, sedangkan yang kedua adalah menjadi Ahli Bahasa. Yang terpenting dalam pembelajaran bahasa, apapun bahasanya adalah Praktek, “Bahasa adalah Praktek”

Walau’alam bishshawab

 

53