Pembaharuan Pendidikan Islam Sebelum Merdeka

Pada saat pemerintah kolonial Belanda mengurangi penekanan, atau pembatasan terhadap aktivitas keagamaan umat Islam, Umat Islam mulai berbondong-bondong naik haji. Tujuan lain selain menunaikan ibadah haji, mereka mempelajari ilmu-ilmu agama. Mereka mengamalkan dan mengajarkan ilmu di Indonesia, sehingga jumlah guru agama dan lembaga pendidikan meningkat pesat. Berdasarkan data statistik yang ada di pemerintahan tahun 1885, terdapat sekitar 14.929 lembaga pendidikan Islam tradisional di seluruh Jawa dan Madura (tidak termasuk kresidenanYogyakarta).

Pada akhir abad ke-19 pemerintah kolonial Belanda mulai mendirikan dan memperkenalkan pendidikan (sekolah) liberal Barat (sekuler) di Indonesia. Sasaran dari pendidikan model Barat ini adalah sekelompok kecil dari masyarakat Indonesia (khususnya orang-orang kaya). Bersamaan dengan itu, terutama sejak 1870 mulai tumbuh pendidikan rakyat.

Pendidikan kolonial Belanda berbeda dengan pendidikan tradisional Islam, karena tidak memberi tekanan sama sekali pada pengetahuan dan penghayatan keagamaan, karena memfokuskan perhatian kependidikan itu pada kepentingan duniawi. Metode pendidikan dan pengajaran lebih baik dan modern. Dan lebih menjanjikan lapangan kerja bagi para murid setelah mereka menyelesaikan studinya. Oleh karena itulah lembaga pendidikan ini telah berhasil menyedot banyak penduduk muslim, yang sebelumnya biasanya masuk lembaga pendidikan Islam.

Segi positifnya, pendidikan kolonial itu membawa manfaat dan faedah bagi bangsa Indonesia, sehingga  Orang-orang pribumi bisa mengenal sistem pendidikan modern, misalnya, sistem kelas, pemakaian papan tulis dan meja, bangku, metode belajar-mengajar modern dan ilmu pengetahuan umum. Sehingga melahirkan gagasan di kalangan ulama dan tokoh Islam Indonesia untuk melakukan pembaharuan lembaga pendidikannya.

Para ulama dan tokoh Islam Indonesia sendiri mulai menyadari bahwa lembaga pendidikan tradisional Islam, dalam bentuk pesantren, meunasah, dan surau, tidak lagi dinilai memuaskan. Mereka pun mulai memikirkan bentuk baru sebagai alternatif terhadap lembaga pendidikan yang tradisional.

Munculnya gagasan itu tidak dapat dipisahkan pula dengan kebangkitan gerakan pembaharuan (reformasi) Islam, yang mulai berhembus dari Timur Tengah, terutama Mesir. Di Mesir, gagasan pembaharuan itu dicetuskan oleh tokoh-tokoh seperti al-Thahthawi, Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Muhammad Rasyid Ridha. Gagasan-gagasan pembaharuan mereka itu segera disambut oleh sebagian ulama Indonesia. Oleh karena itulah, Islam di Indonesia pada permulaan abad ke-20 M mulai mengalami banyak perubahan yang mengarah kepada kebangkitan, pembaharuan, bahkan pencerahan (renaissance).

Salah satu aspeknya dari pembaharuan itu adalah dalam pendidikan Islam. Sedangkan variabel penting yang mendorong terjadinya perubahan pada Islam di Indonesia pada permulaan abad ke-20 dapat diklasifikasikan kepada empat hal :

  1. Di beberapa daerah di Indonesia muncul keinginan kuat untuk kembali ke kepada al-Qur’an dan sunnah dalam menilai aktivitas keagamaan dan kebudayaan yang ada. Dan hal ini terjadi sejak tahun 1900-an. Intinya dari keinginan kuat ini adalah menolak taqlid. Dorongan ini datang dari Muhamad Abduh dan murid-muridnya di Mesir. Faktor ini mendorong umat Islam di Indonesia yang ingin merubah kebiasaannya dalam aktivitas atau kegiatan keagamaannya. Orang-orang yang menolak taqlid kebanyakan berasal dari “kaum muda”. Sedangkan yang menerima taqlid kebanyakan berasal dari “kaum tua”.
  2. Sifat dan sikap perlawanan terhadap pemerintahan kolonial Belanda yang menjajah Indonesia tersebut.
  3. Adanya usaha-usaha yang kuat dari umat Islam untuk memperkuat basis organisasinya di bidang sosial ekonomi demi kepentingan mereka maupun rakyat pada umumnya.
  4. Berasal dari pembaharuan pendidikan Islam. Karena banyak dari umat Islam yang tidak puas dengan metode tradisional dalam proses kegiatan belajar-mengajar Qur’an atau studi agama. Sehingga umat Islam mulai mencari bentuk pendidikan Islam yang baik dan modern dari segi metode dan isinya.

 

Sumber:

  1. Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai, (Jakarta, LP3ES, 1982
  2. Dr. Karel A. Steenbrink, Pesantren, Madrasah, Sekolah; Pendidikan Islam dalam Kurun Modern, (Jakarta, LP3ES, 1986)

851