Pembinaan Kurikulum 2013 di MI Raudlatul Muta’alimin

Penyusunan KKM dan  Penetapan Predikat

Kurikulum 2013 telah berjalan 5 tahun. Madrasah terus mengantisipasi segala perkembangan kurikulum 2013. Bentuk antisipasi madrasah adalah mengadakan pelatihan atau bimbingan teknis. Baik swadaya maupun kerja sama dengan pihak lain.

Seperti MI Raudlatul Muta’alimin, Madrasah Swasta di wilayah kecamatan Mampang Prapatan menyelenggarakan pelatihan kurikulum 2013 selama dua hari dengan dukungan dana dari yayasan dan penerbit.

Pelatihan 2 hari memang belum sesuai dengan modul pelatihan kurikulum 2013 yang dikeluarkan oleh Kemendibud sekitar 52 JP. Tapi dengan dua hari, guru-guru bisa lebih memahami materi kurikulum yang secara teknis dapat diterapkan di madrasah.

Tidak bisa dipungkiri, peran Guru dalam implemementasi kurikulum penting. Sukses dan tidaknya penerapan kurikulum 2013 ada ditangan para guru. Oleh karena itu perlu mempersiapkan guru-guru agar mampu menerapkannya dengan baik dan benar.

Tapi perlu diingat, keberhasilan guru menerapkan kurikulum tidak lepas dari faktor-faktor pendukung dan faktor penghambat. Menurut penelitian Puslitbang Kemenag bahwa ada 5 kendala implementasi kurikulum 2013 di Madrasah, yaitu Kekurangan Sarana Pendukung baik software maupun, Belum Terlaksana dengan Tahapan-tahapan yang Sistematis dalam menentukan kesiapan madrasah, Belum Maksimal Pendampingan, Belum ada Program Peningkatan Kompetensi Semua Pihak yang Terlibat dalam Implementasi Kurikulum, dan Keterlambatan Distribusi Perangkat.

Maka implementasi kurikulum 2013 di Madrasah memperlukan keterlibatan semua pihak agar mencapai target yang diharapkan. Salah satu yang perlu dilatihan dan didampingi adalah guru.

Pada kesempatan pelatihan di MI raudlatul Muta’alimin, ada beberapa catatan penting yang dapat diangkat dalam tulisan ini.

1. Potensi MI Raudlatul Muta’alaimin.

Di awal kegiatan, perlu menggali informasi tentang kondisi dan potensi MI Raudlatul Athfal. Teknik yang dilakukan adalah membagikan selembar kertas dan setiap guru diminta mengisi potensi madrasah menurut pendapat pribadi.

Hasil yang terkumpul adalah mayoritas menjawab bahwa potensi MI Raudlatul Muata’alimin adalah kekeluargan. Istilah kekeluargaan bisa diartikan kebersamaan antar pelaku pendidikan. Kebersamaan bisa menjadi kunci keberhasilan dan kesuksesan. Ada slogan “Bersama kita bisa dan kuat”

Selain itu, mereka punya program umroh untuk guru. hal ini bisa menjadi motivasi bagi guru agar mengabdi secara maksimal untuk kemajuan MI Raudlatul Muta’alimin.

2. Keinginan mempelajari Kurikulum 2013.

Sebelum masuk pada materi kurikulum 2013, perlu mengetahui tingkat pemahaman guru tentang kurikulum 2013, baik yang sudah atau belum melaksanakan kurikulum 2013. Informasi tersebut dibatasi dengan dua pertanyaan, Apa hasil yang diharapakan setelah mengikuti pelatihan, kedua apa kesan dan kendala yang dihadapi selama menerapkan kurikulum 2013.

Metode yang digunakan adalah curah pendapat (brain Storming), dimana tidak ada istilah pendapat yang benar atau pendapat yang salah. Tapi melakukan kategorisasi dari setiap pendapat yang ada, kemudian disimpulkan pendapat tersebut berdasarkan kategori.  

Kesimpulannya, Guru-guru memiliki keinginan kuat untuk mempelajari kurikulum 2013. Selama ini mereka telah melaksanakan kurikulum 2013 sesuai pemahaman yang mereka pelajari secara mandiri maupun pelatihan. Khususnya materi penilaian menjadi materi yang ingin dipahami selain penyusunan RPP.

Penilaian merupakan isu nasional, para guru banyak mendapat kendala dalam menerapkan penilaian kurikulum 2013, khususnya penilaian sikap dengan deskripsi penilainya.

3. Analisis SKL-KI-KD

Pemahaman materi utama kurikulum 2013 adalah analisis kompetensi dasar (KD). Dimulai dengan mengetahui jumlah dan isi kompetensi dasar. Minimal Guru-guru mengetahui jumlah KD dan isi KD  materi yang diampunya. Bagi guru MI yang mayoritas Guru Kelas perlu mengetahui KD-KD semua materi di kelasnya.

Kompetensi Dasar mengandung dua unsur yaitu kata kerja kompetensi dan materi pokok. Untuk Kompetensi Dasar pada kompetensi pengetahuan (KI-3), kata kerja kompetensi tidak lepas dari tahapan berpikir berdasarkan Taxonomy Bloom revisi Enderson. Dimana tahapan berpikir versi Enderson adalah mengetahui (C1), memahami (C2), menerapkan (C3), Menganalisis (C4), menilai (C5), dan mencipta (C6).

Kemampuan guru dalam menentukan tahapan berpikir pada KD akan menjadi kunci dalam menyusun indikator pencapaian kompetensi. Setelah itu, Guru dapat menyusun kegiatan pembelajaran dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Kemudian dari indikator tersebut dapat disusun indikator soal dan naskah soal.

4. Penilain dan Penyusunan KKM

Penilaian Kurikulum 2013 sama seperti penilaian sebelumnya yaitu mengandung 3 aspek yaitu sikap, pengetahuan dan keterampilan. Bedanya adalah penekanan kembali pada penilaian sikap yang terdiri dari sikap spiritual dan sikap sosial.  Berdasarkan Kurikulum 2013 revisi 2016, penilaian sikap dibatasi pada materi pelajaran agama dan budi pekerti dan materi pelajaran PKN.

Penilaian sikap menggunakan teknik observasi dengan menuliskan semua perubahan perilaku di jurnal harian. Sistem penulisan dijurnal yaitu hanya menulis sikap atau tindakan siswa yang tidak biasa, baik perilaku positif dengan kategori “sangat baik, maupun perilaku negatif dengan kategori “perlu bimbingan. Bagi peserta didik yang melakukan perilaku positif dan perilaku negatif, maka dianggap “Baik” dan tidak perlu ditulis di jurnal harian.

Penilaian pengetahuan menggunakan teknik penilaian tes tulis, tes lisan dan penugasan. Sedangkan penilaian keterampilan menggunakan teknik penilaian praktek, produk, dan proyek atau portofolio.

Sebelum menentukan penilaian, Madrasah perlu menetapkan kriteria ketuntasan minimal (KKM). Dalam menentukan KKM, para guru perlu memperhatikan tiga aspek yaitu kompleksitas kompetensi dasar, INTAKE siswa, dan Daya dukung.

Dimulai dari penetapan KKM indikator pencapaian kompetensi (IPK), kemudian dirata-rata menjadi KKM mata pelajaran. Setelah itu ditetapkan KKM Madrasah. KKM madrasah ditetapkan berdasarkan nilai KKM terendah dari KKM mata pelajaran yang ada.

5. Google Classroom for KKG

Hal yang baru dan menjadi awal yang baik untuk memberdayakan forum kelompok kerja guru adalah memaksimalkan aplikasi Google Classroom.

MI Raudlatul Muta’alimin menjadi madrasah pertama yang menggunakan Google Classroom sebagai sarana pembelajaran para guru. materi awal adalah mengetahui kompetensi dasar setiap mata pelajaran. Tujuannya adalah semua guru mengetahui jumlah kompetensi dan isi kompetensi dasar di setiap kelas.

Untuk memudahkan hasil kerja guru, maka Google Classroom dikombinasian dengan Google Drive dan SpreadSheet. Agar semua guru bisa bekerja bersama secara online. Dimana hasil kerja setiap guru akan diketahui secara langsung oleh guru yang lain. Sehingga bisa saling mengeoreksi dan melengkapi. Akhirnya Google Classroom menjadi Model Pembinaan Pengawas yang akan diterapkan di semua madrasah binaan.

57

Yunandra

Yunandra adalah Pengawas Madrasah/Konsultan/Praktisi Pendidikan Islam yang ingin berbagi dan memberi untuk hidup lebih baik. Kata yunandra merupakan dua nama digabung dengan kata “and”. Harapannya segala kebaikan yang dilakukan menjadi Amal Jariah berdua.