Peragaan Manasik Haji RA Se Jakarta Selatan

pengawas-igra-5-peragaan-manasik-haji-ra-jakarta-selatan

Memaksimalkan Potensi, Membimbing Generasi Sholeh

Anak memiliki memori yang kuat dan potensi yang luar biasa. Orang tua dan guru memiliki tugas untuk menggali potensia anak, serta melatih dan membimbingnya sehingga anak-anak mampu memaksimalkan potensi yang telah Allah berikan kepada mereka.

Orang tua tidak hanya  mengasuh anak-anak, yaitu mencukupi kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Tidak cukup mencari uang untuk memberi makan, minum, dan pakaian. Tidak cukup membayar uang sekolah dan menyerahkan pendidikan kepada guru-guru dan masyarakat. Tapi ada tugas lain yaitu mendidik. Orang tua mendidik anak-anak untuk mengenal tuhan, nabi, dan Al quran. Mendidik anak-anak agar terbiasa menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganya. Mendidik anak-anak agar menjadi manusia yang memiliki akhlak yang baik. Secara inti, mendidik anak menjadi anak sholeh dan shilehah.

Anak sebagai Amanah yang Allah titipkan kepada orang tua, berhak mendapat pengasuhan dan pendidikan dari orang yang dimulai di keluarga sebelum masuk ke madrasah atau sekolah. Ketika Anak masuk masa sekolah, bukan berarti orang tua lepas dari tugas mendidik anak. Kewajiban mendidik tetap melekat di diri orang tua. peran Madrasah atau sekolah membantu orang tua mendidik anak-anaknya. Sehingga kerjasama orang tua dan guru, keluarga dan sekolah menjadi sangat penting dalam rangka mendidik anak-anak.

Kerjasama tersebut terwujud pada acara IGRA di Senin, 21 November 2016,  Siswa-siswi Raudhatul Athfal bersama orang tua  dari 3 kecamatan, Jagakarsa, Cilandak, dan Tebet berkumpul di Asrama Haji Pondok Gede untuk melaksanakan peragaan manasik haji, sebagai bentuk pembelajaran praktek bagi anak-anak. Jumlah siswa yang mengikuti peragaan manasik haji  berasal dari 3 kecamatan  sekitar 2.200b siswa dengan pendamping minimal satu orang, .

Praktek manasik haji merupakan program tahunan Ikatan Guru Raudhatul Athfal. Tahun ini Pengurus Ikatan Guru Raudhatul Athfal (IGRA) Jakarta Selatan mengadakan acara peragaan manasik haji RA se Jakarta Selatan bertempat di Asrama Haji Pondok Gede.

Pada musim haji, Asrama Haji Pondok Gede merupakan tempat berkumpul jamaah haji Provinsi DKI Jakarta sebelum diberangkatkan ke bandara Halim Perdanakusuma. Miniatur Ka’bah dan tempat syiar haji dan umrah tersedia secara permanen sebagai fasilitas media dan sarana pembelajaran bagi jamaah haji yang mau berangkat. Pada bulan biasa, Asrama haji digunakan oleh penyelenggara haji untuk melatih calon jama’ah haji atau bentuk pembelajaran bagi siswa-siswa yang sedang belajar manasik haji, dari tingkat atas sampai tingkat dasar, bahkan usia dini, seperti Raudhatul Athfal.

Kegiatan Peragaan manasik haji RA se Jakarta Selatan diikuti oleh 10 kecamatan, terbagi 3 kelompok selama 3 hari. Kelompok pertama terdiri dari Cilandak, Jagakarsa, dan Tebet. Kelompok kedua terdiri dari Pesanggrahan, Ps. Minggu, dan Setiabudi. Kelompok 3 terdiri dari Keb. Lama, Keb. Baru, Pancoran, dan Mampang Prapatan..

Ketua IGRA Jakarta selatan, Hj. Yani, dalam sambutanya mengatakan bahwa acara peragaan manasik haji RA se Jakarta selatan terlaksana karena adanya dukungan dan Kerjasama orang tua/wali siswa. Beliau mengucapkan terima atas kerjasamanya kepada orang tua siswa yang didominasi oleh Ibu-ibu, walaupun ada beberapa bapak-bapak ikut mendampingi anaknya.

Manasik haji memberikan pelajaran bahwa manusia sama di mata Allah, kata H. Yusuf, pengawas RA/MI. Belaiu mempertegas bahwa orang yang paling mulya disisi Allah adalah orang yang paling taqwa. Sesuai dengan tema tahun ini Dengan peragaan manasik haji kita tanamakan keimanan dan ketaqwaan anak ra sejak dini untuk mewujudkan anak-anak yang sholeh dan sholehah”.

Dalam kesempatan ini, Raudhatul Athfal dianalisis dengan menggunakan kacamata 5 M (man, Machine, Material, Money, dan Methode) untuk menemukan potensinya. Hasil analisis sebagai berikut:

1. MAN (orang)

Pelaku pendidikan yaitu guru-guru. Mereka bergabung dalam satu organisasi profesi Ikatan Guru Raudhatul Athfal (IGRA). IGRA merupakan organisasi yang terstruktur rapih dari tingkat kecamatan sampai dengan tingkat nasional.

Pengurus IGRA, baik kecamatan maupun tingkat kota Jakarta Selatan memiliki peranan penting dalam menyukseskan program Raudhatul Athfal. Seperti lomba-lomba kreatifitas anak-anak Raudhatul Athfal setingkat Kota Jakarta Selatan atau peragaan manasik haji Ra se Jakarta Selatan. Program-program tahunan yang  diselenggarakan oleh IGRA di tingkat kota berjalan dengan baik,  minimal ada dua faktor penyebab keberhasilannya, yaitu kekompakan pengurus IGRA, dan kemampuan berkolaborasi dengan orang tua siswa. Tanpa kedua faktor tersebut akan sulit mewujudkan dan mengumpulkan ribuan anak dan orang tua di satu tempat.

2. Machine

Raudhatul Athfal ada dimana-mana dan bisa dimana-mana. Raudhatul Athfal ada yang memiliki gedung yang besar atau juga yang kecil, ada yang berlangsung di rumah besar, ada juga di rumah yang kecil, ada yang di pinggir jalan besar, ada juga yang berada di gang sempit. Hal ini menunjukkan sarana prasarana tidak menghalangi proses pembelajaran di Raudhatul Athfal. Kekurangan sarana bisa ditutupi dengan proses pembelajaran yang menyenangkan. Indikator menyenangkan bagi anak yang paling sederhana adalah anak bisa bermain. Karena Raudhatul Athfal artinya taman anak-anak, taman berarti suatu tempat yang menyenangkan, sedangkan Athfal adalah anak-anak kecil. Artinya tempat yang menyenangkan bagi anak.

3. Material

Material berarti program atau kurikulum. Raudhatul memiliki program yang jelas baik secara sistem pendidikan nasional maupun secara struktural sebagai bagian dari kementerian agama. Secata sistem, Raudhatul Athfal memiliki kurikulum yang mengacu pada sistem pendidikan nasional, perubahan ataupun penyempurnaan kurikulum, Raudhatul Athfal harus mengaplikasikan dalam proses pembelajaran.

Secara struktural, Raudhatul Athfal dibawah pembinaan kementerian agama. Hal menegaskan bahwa Raudhatul Athfal memiliki misi agama dalam proses pembelajaran. tujuannya mendidik dan mempersiapkan anak-anak menjadi anak-anak yang siap melanjutkan misi Islam, baik melaksanakan nya sebagai muslim, dan juga sebagai pendakwah yang menularkan misi Islam kepada generasi selanjutnya.

4. Money

Kondisi Raudhatul Athfal yang bisa berjalan dimana saja, memungkinkan berkurangnya dana yang dibutuhkan. disisi lain, biasanya orang tua sangat memperhatikan anak-anak yang masih di Raudhatul Athfal. Mungkin karena anak pertama atau masih perlu diantar  dan didampingi, , sehingga orangtuanya sangat aktif mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh Raudhatul Athfal. tapi Semakin besar anak dan semakin tinggi jenjang pendidikan nya, maka semakin berkurang kepedulian orang tua untuk datang ke madrasah/sekolah.

Peran dan kontribusi orangtua nampak sekali dalam kegiatan peragaan manasik haji Ra se Jakarta Selatan. Potensi tersebut sangat luar biasa, kolaborasi dan kontribusi orang tua jika dikelola semaksimal mungkin, sehingga akan mempermudah guru atau IGRA menanamkan keimanan dan ketakwaan kepada anak-anak.

5. Methode

Cara mendidik anak d Raudhatul Athfal beragam dan bervariasi. Peragaan manasik Haji atau Pentas kreasi dan kreatifitas anak lewat lomba bisa menjadi cara mendidik, menggali dan membina potensi anak-anak.

Ada 3B cara dalam mendidik anak-anak di Raudhatul Athfal yaitu Bermain, Bernyanyi, dan Bercerita. Tiga metode tersebut sangat cocok untuk mengolah raga, rasa, dan fikir anak. Anak-anak dapat mengolah raga dengan bermain, mengolah rasa dengan bernyanyi, dan mengolah fikir dengan bercerita.

Dengan 5 potensi yang dimiliki oleh Raudhatul Athfal, Maka muncul optimisme bahwa Raudhatul Athfal akan mampu menanamkan keimanan dan ketakwaan kepada anak agar menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah.

 

115

Related posts