Pokjawas Memberdayakan Pengawas

pokjawas-2-raker-kelompok-kerja-pengawas-madrasah-pai

RAPAT KERJA POKJAWAS JAKARTA SELATAN TAHUN 2016

Jakarta, 2 Mei 2016. Kelompok Kerja Pengawas (POKJAWAS) Jakarta Selatan mengaadakan rapat kerja untuk memilih kepengurusan baru periode tahun 2016. Raker ini diselenggarakan karena purnabakti ketua Pokjawas, H. Marfuddin, di bulan Maret 2016. Selama dua bulan, ketua pokjawas dijabat sementara oleh H. Qomaruddin, wakil ketua 1. Beliau akan mengakhiri purnabaktinya di bulan Juli.

Raker Pokajwas dilaksanakan di AULA Kementerian Agama Kota jakarta Selatan. Dihadiri oleh semua pengawas madrasah dan PAI di lingkungan kementerian Agama Kota Jakarta Selatan, kecuali 5 pengawas yang sedang mengikuti Diklat Asesor Akreditas Sekolah/Madrasah, 1 pengawas mengikuti Diklat persiapan calon Pembimbing Ibadah Haji, dan 1 pengawas mengikuti workshop penyusunan materi pembinaan kepala sekolah pembelajaran dan pengawas sekolah pembelajar (penulis).

Acara dibuka oleh kepala kantor Kementerian Agama Kota jakarta Selatan, dan memberikan pengarahan dan pembinaan yang terkait dengan peran dan tugas pengawas. Kegiatan berlangsung dari pagi sampai sore.

Kegiatan diakhir dengan pemilihan ketua pokjawas baru. Terpilih bapak H. Zahruddin sebagai ketua pokjawas periode 2016-2019. Kemudian tersusun kepengurusan yang terdiri dari wakil ketua, sekretaris, dan bidang-bidang pendukung. Kepengurusan baru, semangat baru dengan harapan baru dan tantangan baru.

Tantangan kepengurusan pokjawas baru tidak lepas dari keberadaan pengawas madrasah atau pengawas pendidikan Agama Islam secara struktural dan kultural. Secara struktural, Pengawas merupakan jabatan funsional tertinggi, diatas guru dan kepala sekolah. Sesuai dengan Permendiknas No. 12 tahun 2007, Salah standar kualifikasi pengawas adalah pernah menjadi kepala sekolah minimal 4 tahun atau menjadi guru selama 8 tahun. walaupun sangat disayangkan pada Peraturan Menteri Agama No. 29 Tahun 2014 tentang Kepala Madrasah tidak menyebut sedikitpun peran pengawas madrasah.

Tapi secara kultur, keberadaan pengawas madrasah atau pengawas PAI kurang mendapat perhatian dan penghargaan dari berbagai pihak. Apakah ini karena “warisan sejarah” dimana pengawas dianggap tidak kompeten yang disebabkan oleh latarbelakang bukan berasal dari guru atau kepala sekolah, atau karena tidak ada rencana sistematis pemberdayaan pengawas, bahkan terkesan pengawas dibiarkan dan ditinggalkan dari perkembangan pendidikan. sehingga informasi lebih sering langasung tersampaikan ke guru atau kepala madrasah tanpa sepengetahuan pengawas pembinanya.

Kondisi pengawas yang mengambang tersebut dapat menimbulkan tiga respon yaitu pembelaan diri, peluang dan tantangan. Pembelaan diri digunakan oleh para pengawas madrasah atau PAI ketika dituntut untuk membina madrasah atau guru PAI tapi tidak dibekali dengan baik. Seperti kurikulum 2013. Dari awal pemberlakuan kurikulum 2013 belum ada pelatihan khusus untuk pengawas madrasah, kecuali pengawas pai. Tapi pelatihan belum cukup kalau tujuannya mempersiapkan pengawas agar dapat membina madrasah. Seharusnya model pelatihan yang cocok untuk pengawas adalah Training of Trainer karena pengawas memiliki tupoksi membina guru dan kepala madrasah. Akibatnya para pengawas berusaha belajar secara mandiri agar tidak ketinggalan dari guru atau kepala madrasah.

Kondisi pengawas yang mengambang tersebut dapat menimbulkan tiga respon yaitu pembelaan diri, peluang dan tantangan.

Peluang artinya kondisi pengawas yang tidak dianggap digunakan oleh sebagian pengawas madrasah atau pengawas PAI untuk mengaktualisasikan diri dan mengembangkan potensinya di bidang-bidang lain, Sebagian mengembangkan diri di bidang pendidikan, sebagian lagi mengembangkan diri di luar pendidikan. hal ini  membuktikan bahwa pengawas memiliki potensi luar biasa.

Sedangkan tantangan artinya kondisi tersebut menjadi tantangan bagi para pengawas untuk meningkatkan profesionalisme secara mandiri sehingga mampu membina madrasah dengan baik, dalam kondisi tidak ada kepedulian dan keberpihakan terhadap keberadaan pengawas madrasah atau pengawas PAI.

POKJAWAS menjadi sarana pemberdayaan pengawas. Sesuai dengan tema raker Pokjawas tahun 2016 yaitu Melalui Raker Pokjawas Jakarta Selatan, kita tingkatkan profesionalisme dan integritas pengawas, maka peran pokjawas secara umum terbagi dua yaitu

1. Pemberdayaan Internal

Pemberdayaan Internal artinya Memberdayakan para pengawas madrasah dan Pengawas PAI agar dapat memiliki kompetensi sesuai standar pengawas sekolah/Madrasah yang telah dituangkan dalam peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 12 tahun 2007.

Berdasarkan regulasi, Pengawas dituntut memiliki kompentensi-kompetensi yang terbagi menjadi 6 dimensi. Kompetensi pengawas lebih banyak dari kepala sekolah yang memiliki 5 dimensi kompetensi dan guru yang memiliki 4 dimensi kompetensi. Adapun keenam dimensi kompetensi tersebut adalah

  1. kompetensi kepribadian terdiri dari 4 kompetensi,
  2. Kompetensi Supervisi Manajerial terdiri dari 8 kompetensi
  3. Kompetensi Supervisi Akademik terdiri dari 8 Kompetensi
  4. Kompetensi Evaluasi Pendidikan terdiri dari 6 kompetensi
  5. Kompetensi Penelitian Pengembangan terdiri dari 8 kompetensi
  6. Kompetensi sosial terdiri dari 2 Kompetensi

Peran Pokjawas sangat penting untuk membantu pengawas meningkatkan kompetensi baik dengan langsung maupun tidak langsung. Langsung artinya pelatihan yang dilakukan oleh Pokjawas secara mandiri maupun kerjasama dengan lembaga Diklat lain. Adapun tidak langsung adalah mengirim pengawas mengikuti kegiatan pelatihan yang diselenggarakan oleh pihak lain.

Model pemberdayaan ini memerlukan pendataan yang baik agar dapat memetakan kebutuhan pengawas dalam mengembangkan diri sehingga pelatihan langsung maupun tidak langsung berjalan efektif dan efesien. Dan menghindari pengiriman pengawas yang sama pada pelatihan yang sama.

2. Pemberdayaan Eksternal

Pemberdayaan Eksternal adalah proses pemberdayaan pengawas madrasah dan pengawas PAI dalam menjalankan tugas kepengawasan dalam melaksanakan pembinaan, pemantauan, penilaian, dan pembimbingan di madrasah binaan dan guru binaan.

Berdasarkan PermenPAN & RB no. 21 Tahun 2010 tentang ….. pasal 5 bahwa tugas pokok pengawas sekolah/madrasah adalah melaksanakan pengawasan akademik dan manajerial pada satuan pendidikan yang meliputi penyusunan program pengawasan, pelaksanaan pembinaan, pemantauan pelaksanaan 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan, penilaian, pembimbingan dan pelatihan profesional Guru, evaluasi hasil pelaksanaan program pengawasan, dan pelaksanaan tugas kepengawasan di daerah khusus.

Adapun kewajiban pengawas madrasah dalam melaksanakan tugas, berdasarkan Permen PAN & RB pasal 7 adalah sebagai berikut

  1. Menyusun program pengawasan, melaksanakan program pengawasan, melaksanakan evaluasi hasil pelaksanaan program pengawasan dan membimbing dan melatih profesional guru
  2. Meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni
  3. Menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum nilai agama dan etika, dan
  4. Memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa.

Pokjawas perlu mengantisipasi dengan sikap pro aktif terhadap informasi atau kebijakan pendidikan yang berkembang, sehingga bisa mempersiapkan pengawas dalam mengantisipasi setiap perubahan. Seperti tahun ini yang berkembang dengan kurikulum 2013 yang baru, sistem akreditasi madrasah.

Kedua tugas pokjawas baru diharapkan berjalan secara bersamaan agar tidak terjadi ketimpangan. Dimana ada pengawas yang sibuk melaksanakan pembinaan, pengawas dan penilaian madrasah atau guru, di sisi lain melupakan tugas meningkatkan kompetensi pribadi.

Pengawas Madrasah dan Pengawas PAI yang Berdaya dan Memberdayakan melalui Pokjawas yang Berdaya dan Memberdayakan

Walaupun penulis tidak menghadiri rapat kerja pokajwas tahun 2016, mudah-mudahan tulisan ini memberikan sumbaangan yang bermanfaat dan menjadi bahan diskusi bagi penguru baru. Mudah-mudahan Pokjawas baru dibawah Pimpinan H. Zahruddin, yang memiliki pengalaman, membawa angin baru dan semangat baru sehingga mampu memberdayakan Pengawas secara maksimal dan menjadikan pengawas madrasah yang berdaya dan memberdayakan. Aamiin.

Wallahua’alam bishawab.

91

Related posts