Sistem Pendidikan Pesantren

Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia memiliki beberapa jenis nama dengan karakter yang berbeda-beda. sampai sekarang, Kementerian Agama  memiliki bermacam macam lembaga pendidikan Islam baik formal maupun non formal, seperti Pendidikan Madrasah, Pondok Pesantren, Madrasah Diniyah, sampai Majlis Taklim. Setiap Lembaga pendidikan memiliki karakter dan ciri masing-masing. Pada kesempatan ini, akan dibahas tentang lembaga pendidikan Islam paling lama yaitu Pondok Pesantren.

Pesantren di Jawa memiliki  lima elemen dasar yaitu Pertama, pondok. Asrama atau tempat belajar santri yang sering disebut dengan pondok itu merupakan ciri khas tradisi pesantren. Ada tiga alasan utama mengapa pesantren harus punya pondok (asrama) itu;

(1)  Kemasyhuran seorang kiai dan kedalaman pengetahuannya tentang Islam menarik santri-santri jauh. Agar para santri dapat mempelajari ilmu dari sang kiai dengan teratur, lancar dan baik, ia harus tinggal di kediaman kiai. Dalam hal ini berarti harus ada asrama atau tempat tinggal untuk santri. Itulah yang dinamakan dengan pondok, (

2) Hampir semua pesantren berada di desa di mana tidak tersedia perumahan yang cukup untuk dapat menampung santri. Maka dalam hal ini dibutuhkan pondok sebagai asrama khusus para santri tersebut,

(3) Ada sikap timbal balik antara kiai dan santri, di mana para santri menganggap kiainya seolah-olah sebagai bapaknya sendiri, begitu pula sebaliknya para kiai juga menganggap para santri merupakan titipanTuhan yang harus dilindungi.

Kedua, mesjid. Mesjid merupakan elemen yang tak dapat dipisahkan dari dunia pesantren, karena mesjid dapat berfungsi sebagai tempat yang baik untuk mendidik para santri, misalnya, untuk praktek sembahyang lima waktu, pengajaran kitab-kitab klasik, khutbah dan sembahyang Jum’at.

Ketiga, Pengajaran kitab-kitab klasik, biasa disebut juga dengan kitab kuning.

Keempat, santri. Santri dapat dikatakan sebagai komponen penting dalam dunia pesantren.

Kelima kiai. Kiai merupakan komponen terpenting dalam kehidupan pesantren. la adalah pelopor bagi kelahiran pesantren yang dipimpinnya dan menjadi pemegang dan penentu kebijakan yang ada di seluruh pesantren.

Berdirinya pesantren memiliki tujuan membimbing para santri agar menyadari bahwa belajar merupakan semata-mata kewajiban dan pengabdian kepada Tuhan, bukan hanya untuk meraih prestasi kehidupan dunia (uang, kekuasaan atau pangkat). Maka tak heran, cita-cita pendidikan pesantren adalah latihan untuk memandirikan diri sendiri yang tidak tergantung kepada siapa pun selain Allah SWT. Biasanya di dunia pesantren para kiai suka sekali memperhatikan para santri yang cerdas dan bermoral. Mereka dididik secara serius dan didorong terus untuk mengembangkan diri. Kepandaian berpidato dan berdebat juga haras dikembangkan. Tapi yang lebih penting adalah ditanamkannya kepada para santri perasaan kewajiban dan tanggungjawab untuk melestarikan dan menyebarkan pengetahuan mereka mengenai keislaman sepanjang hayatnya, sehingga kesinambungan ajaran Islam bisa terus berjalan.

Tradisi ijazah di pesantren, diberikan kepada murid-murid tingkat tinggi yang telah mempelajari dan menamatkan kitab-kitab besar dan bagus. Dan kiai biasanya memberikan rekomendasi kepada murid untuk membuka pesantren baru. Adapun murid dipandang belum cukup menguasai ilmu, tidak akan diberikan ijazah dan dianjurkan untuk mengikuti pengajian ulang.

Metode pengajaran di pesantren adalah pertama sistem bandongan, lebih terkenal dengan sebutan weton. Sistem Bendongan biasanya sekelompok santri (antara 5 sampai 500) mendengarkan seorang kiai yang membaca, menerjemahkan, mengulas dan menerangkan isi kitab-kitab berbahasa Arab. Setiap santri memperhatikan kiai yang sedang mengulas kitabnya dan menulis catatan-catatan yang penting dari ulasan kiai itu (baik arti maupun keterangan) mengenai kata-kata atau buah pikiran yang sulit. Lingkaran para santri dalam kelompok kelas yang berguru kepada kiai itu dalam sistem bandongan di lingkungan pesantren itu disebut dengan halaqah. Sedangkan metode lainnya yang dipakai di lingkungan pesantren adalah sorogan. Metode sorogan biasanya bagi para santri baru yang masih belum lancar dalam membaca kitab-kitab berbahasa Arab dan masih perlu bimbingan secara individual dari seorang guru.

Prinsip-prinsip sistem pendidikan pesantren adalah;

  1.  teosentris yakni semua proses dalam kehidupan di muka bumi ini akan kembali kepada Tuhan.
  2. sukarela dan mengabdi.
  3. kearifan.
  4. kesederhanaan,
  5. kolektivitas.
  6. mengatur kegiatan bersama.
  7. Kebebasan terpimpin.
  8. mandiri.
  9. pesantren adalah tempat mencari ilmu dan mengabdi.
  10. mengamalkan ajaran agama.
  11. tanpa ijazah (dalam pengertian dewasa ini, sebagaimana halnya sekolah).
  12. restu kiai. Segala kegiatan para santri di pesantren harus selalu direstui oleh kiainya agar bermanfaat dan membawa kemaslahatan untuknya.

608