Filosofi Model Pembelajaran E-Learning

Filosofi Model Pembelajaran e-Learning

E-Learning menjadi model pembelajaran yang tidak bisa ditolak dalam kondisi darurat seperti pandemi Covid 19. Ketika pembelajaran tatap muka di kelas atau pembelajaran konvensional tidak bisa dilakukan, maka pembelajaran jarak jauh menjadi sebuah solusi. Model E-Learning menjadi sebuah pilihan terbaik agar proses pembelajaran tetap berjalan.

Apakah E-Learning bisa menggantikan pembelajaran tatap muka di kelas? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, perlu mengetahui dulu filosofi model pembelajaran e-learning. Menurut Cisco, yang dinukil oleh Rusman dalam buku Model-model Pembelajaran, Model pembelajaran e-Learning memiliki 4 filosofi, yaitu

1. E-Learning merupakan penyampaian informasi, komunikasi, pendidikan dan pelatihan secara on-line.

2. E-Learning menyediakan seperangkat alat yang dapat memperkaya nilai belajar secara konvensional (model belajar konvensional, kajian terhadap buku teks, CD-ROM, dan pelatihan berbasis komputer) sehingga dapat menjawab tantangan perkembangan globalisasi.

3. E-Learning tidak berarti menggantikan model belajar konvensional di dalam kelas, tetapi memperkuat model belajar tersebut melalui pengayaan content dan perkembangan teknologi pendidikan.

4. kapasitas siswa amat bervariasi tergantung pada bentuk, isi dan cara penyampaiannya. Makin baik keselarasan antarkonten dan alat penyampaian dengan gaya belajar, maka akan lebih baik kapasitas siswa yang pada gilirannya akan memberikan hasil yang lebih baik.

Artinya Model pembelajaran E-Learning tidak bisa menggantikan model konvensional. Fungsi model E-Learning sebagai alat menyampaikan informasi dengan menyediakan pengayaan konten sesuai perkembangan globalisasi dan memperkuat model belajar konvensional yang sesuai dengan perkembangan teknologi pendidikan.

Peran guru tidak akan tergantikan teknologi dalam pembelajaran. Namun, untuk mengakselerasi kompetensi siswa peran teknologi akan sangat mendukung
— Iwan Syahrir —

Sesuai dengan ucapan Iwan Syahrir, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang mengatakan bahwa teknologi hanyalah alat, sehingga kunci utama terletak pada kualitas dan kompetensi para pendidik dalam memanfaatkan teknologi sehingga mampu menciptakan pembelajaran yang efektif kepada murid-muridnya.

Beliau menegaskan pada Bincang Sore secara virtual, di Jakarta, pada Senin (06/07/2020).  bahwa “Yang paling penting adalah peran guru tidak akan tergantikan teknologi dalam pembelajaran. Namun, untuk mengakselerasi kompetensi siswa peran teknologi akan sangat mendukung,”

Dalam bahasa yang sering di dengar di Pesantren,

Ath-Thariqah Aham min al-maadah, wa al-mudaris aham min ath-Thariqah
Metode lebih penting dari materi, tapi Guru lebih penting dari metode

24

Yunandra

Yunandra adalah Pengawas Madrasah/Konsultan/Praktisi Pendidikan Islam yang ingin berbagi dan memberi untuk hidup lebih baik. Kata yunandra merupakan dua nama digabung dengan kata “and”. Harapannya segala kebaikan yang dilakukan menjadi Amal Jariah berdua.