Wisuda Akbar : Bukti Tahfid Al Qur’an sebagai Tradisi Islam

Wisuda Akbar Tahfidz Al Quran di MINASI

Madrasah Ibtidaiyah Negeri Al Azhar Asy Syarif (MINASI) menyelenggarakan wisuda Akbar 3 Tahfidzul Qur’an. Wisuda akbar ke-3 mencatat rekor baru, dimana peserta wisuda berjumlah lebih dari 250 peserta didik. Mereka telah lulus ujian sertifikasi dengan berbagai kategori sesuai dengan target kurikulum yang ditetapkan oleh MINASI.

Proses sertifikasi dilakukan selama 6 bulan dan mendapat respon dan dukungan yang luar biasa dari orang tua siswa. Menurut Ketua panitia, kegiatan sertifikasi dilakukan di luar kegiatan belajar. Yaitu setelah jam 16.00. Para Orang tua siswa rela menunggu anaknya untuk mengikuti ujian sertifikasi. Bahkan ada yang menunggu sampai malam.

Peristiwa wisuda ini membuka kenangan ketika pertama kali MINASI berjalan, dimana hafalan Al Qur’an masuk  menjadi kurikulum inti. Alokasi waktu berjumlah 15 jam pelajaran per minggu. Setiap hari 3 jam pelajaran dengan pola 2 jam diletakan di awal pembelajaran dan 1 jam pelajaran diletakan di akhir pelajaran sebelum pulang.

Dua jam pelajaran di awal hari difokuskan untuk mengulangi materi hafalan al quran kemarin dan menambah hafalan baru. sedangkan 1 jam di akhir pelajaran difokuskan untuk mengulangi hafalan baru tadi pagi, sebelum peserta didik pulang. Strategi ini disusun merespon tuntutan kurikulum Al Azhar Mesir yang menetap 18 juz menjadi kurikulum Al Qur’an di tingkat Ibtidaiyah.

Berbagai respon muncul terhadap penetapan Al Qur’an menjadi kurikulum inti. Respon tersebut terbagi menjadi dua kelompok. Pertama adalah kelompok yang merespon positif. Kelompok ini berasal dari  para orang tua yang memahami keutamaan hafalan Al Qur’an, bahkan orang tua yang menghafal al Quran juga, atau yang terlahir di lingkungan para penghafal al-Quran.

Sedangkan  kelompok yang merespon negatif muncul dari orang yang memahami bahwa hafalan itu tidak penting. Menurut mereka bahwa pemahaman lebih penting dari hafalan. Kemungkinan mereka menyamakan hafalan al-Quran dengan hafalan ilmu pengetahuan lainya. Dimana kemampuan menghafal tidak memberikan manfaat yang besar dibandingkan kemampuan memahami.

Kedua respon tersebut terus ada di awal berdiri MINASI, tapi tidak sedikitpun berpengaruh terhadap kebijakan MINASI, karena MINASI memposisikan sebagai salah satu Madrasah yang menawarkan hafalan Al Quran menjadi kurikulum utama. Ditawarkan kepada orang tua yang berminat anak-anaknya belajar menghafal al Quran. Jika tidak berminat, para orang tua tidak usah mendaftarkan anaknya ke MINASI, dan bisa memilih madrasah atau sekolah lain yang sesuai dengan minat dan potensi anak dan keinginan orang tua.

Pada perkembang sekarang ini, Hafalan Al-Quran adalah nilai jual yang ditawarkan oleh sekolah-sekolah baru. Luar biasa, peminat yang memasukan anaknya ke sekolah atau madrasah tahfidz berasal dari semua kalangan, dari yang rendah sampai yang ekonomi atas. Buktinya sekolah-sekolah Islam yang menawarkan hafalan Al Quran sebagai program unggulanya dengan biaya pendaftaran dan uang bulanan sangat mahal, ternyata banyak peminatnya.

Sekarang Hafalan Al-Quran menjadi daya tarik dan mimpi para orang tua yang menginginkan anaknya menjadi penghafal Al-Quran. Orang tua rela mengeluarkan biaya yang tinggi agar anaknya mendapatkan kesempatan belajar menghafal Hafalan Al Quran.

Di satu sisi, bagi MINASI, bermunculan Madrasah atau Sekolah-sekolah yang memiliki progam hafalan Al-Quran merupakan keberkahan, karena MINASI tidak lagi berjalan sendiri sebagai madrasah yang menekankan pembelajaran hafalan al-Quran.

Di sisi lain, kondisi tersebut menjadi tantangan, karena tahfidz al Quran sebagai unggulan bukan hanya milik MINASI, tapi sudah milik banyak lembaga pendidikan formal. Sehingga orang tua dapat menemukan madrasah atau sekolah yang mengajarkan  Hafalan Al Quran selain MINASI.

MINASI perlu memikirkan kembali bagaimana mengemas program hafalan AL Quran tetap menjadi ciri khas dari MINASI. Bagaimana Program Tahfidz Al Quran di MINASI memiliki ciri khas yang berbeda dengan yang lain.

Tapi perlu disadari, MINASI bukan pesantren tahfidzul Quran yang fokus pada hafalan al-Quran sehingga dapat melahirkan anak-anak yang hafal 30 juz.. Juga bukan madrasah reguler yang mengajarkan materi-materi kurikulum nasional saja sehingga menjadi terbaik di ujian nasional.

MINASI berada di antara keduanya yang menawarkan alternatif lain dalam mengelola madrasah, bukan pesantren dan bukan madrasah reguler, tapi sebagai Madrasah formal reguler yang memiliki keunggulan dalam materi hafalan Al-Quran.

Program sertifikasi Al Quran dan wisuda akbar yang sudah berjalan bisa menjadi salah satu terobosan untuk menjaga Tahfidz Al-Quran sebagai unggulan

Semoga ke depan proses sertifikasi dan prosesi wisuda tahfidz lebih baik dan terus meningkat.

10

Yunandra

Yunandra adalah Pengawas Madrasah/Konsultan/Praktisi Pendidikan Islam yang ingin berbagi dan memberi untuk hidup lebih baik. Kata yunandra merupakan dua nama digabung dengan kata “and”. Harapannya segala kebaikan yang dilakukan menjadi Amal Jariah berdua.