Mematangkan Program Unggulan MTsN 41 Al Azhar Asy Syarif

A. Pembinaan Guru

Madrasah Tsanawiyah Negeri 41 Al Azhar Asy Syarif Indonesia yang dikenal dengan (MATASYA) memiliki identitas sebagai madrasah yang menerapkan kurikulum Al Azhar Mesir. Tapi, Statusnya sebagai Madrasah Negeri tidak bisa menapikan peraturan yang berlaku bagi madrasah negeri. Salah satunya terkait perkembangan kurikulum 2013 yang telah ditetapkan berlaku di semua madrasah.

Pada kesempatan pembinaan guru-guru MTsN 41 Al Azhar Asy Syarif (MATASYA), tanggal 26 Juli 2019, “Strategi Pengembangan Kurikulum Al Azhar berdasarkan Kurikulum 2013 “ menjadi tema utama yang disampaikan. sekaligus kesempatan mengingatkan kembali kepada para guru-guru baru di MATASYA terkait tujuan awal pendirian MATASYA.

B. Karakteristik Kurikulum Al Azhar

Kurikulum Al Azhar Mesir memiliki sistematika penulisan yang berbeda dengan kurikulum yang berlaku di Indonesia. Menurut teori kurikulum, sejak tahun 2003, kurikulum yang berlaku di Indonesia adalah kurikulum berbasis kompetensi, sedangkan kurikulum Al Azhar Mesir berbasis materi. Sehingga perlu modifikasi agar sesuai dengan kurikulum yang berlaku di Indoensia.

Strategi yang paling mudah yaitu menambah kata kerja kompetensi sesuai dengan Taxonomy Bloom di setiap materi Al Azhar. Kemudian dikembangkan dalam bentuk silabus yang meliputi:

  1. Kompetensi Dasar : tambah kata kerja kompetensi
  2. Indikator
  3. Materi
  4. Tahapan Pembelajaran
  5. Teknik Penilaian
  6. Alokasi waktu Pembahasan

Selain peletakan kata kerja kompetensi, Kurikulum Al Azhar tetap menggunakan bahasa Arab. Sehingga kata kerja kompetensi Taxonomy Bloom perlu diterjemahkan atau menggunakan bahasa Arab baku sesuai dengan istilah yang digunakan di negara-negara Arab.

Keberhasilan menyusun modifikasi kurikulum Al Azhar Mesir menjadi kurikulum berbasis kompetensi menjadi sebuah terobosan baru dalam pengembangan kurikulum Al Azhar di MATASYA.

C. Karakteristik Kurikulum 2013

Dinamika Kurikulum nasional sangat menarik untuk diikuti. Setelah perubahan signifikan di tahun 2003 sehingga lahir kurikulum berbasis kompetensi lahir di tahun 2006, yang dikenal kurikulum 2006, tahun 2013 lahir kurikulum baru dengan istilah kurikulum 2013. Kurikulum 2013 lahir dari semangat untuk mengantisipasi tantangan abad 21. Sehingga pengembangan kurikulum 2013 berbasis pada 3 hal pokok yaitu

  1. Penguatan Pendidikan karakter sebagai landasan pengembangan kompetensi-kompetensi lainnya.
  2. Penguasaan 4 kompetensi yaitu berpikir kritis atau pemecahan masalah, kolaborasi, komunikasi, dan kreativitas.
  3. Peningkatan literasi yang terdiri dari literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi digital, literasi finansial, literasi sains, dan literasi budaya dan masyarakat.

Ketiga hal pokok tersebut menjadi dasar pengembangan kurikulum 2013. Pengembanganya hanya pada 4 Standar Nasional Pendidikan (SNP). Menurut teori kurikulum, keempat standar tersebut merupakan komponen kurikulum yang saling berkaitan seperti tubuh yang saling melengkapi dan saling menopang.

Keempat Standar Nasional Pendidikan yaitu

  1. Standar Kompetensi Lulusan merupakan komponen tujuan
  2. Standar Isi merupakan komponen isi atau materi
  3. Standar Proses merupakan komponen pengalaman belajar
  4. Standar Penilaian merupakan komponen penilaian.

Jadi kurikulum 2013 tidak merubah semua standar nasional pendidikan yang terdiri dari 8  SNP. Keempat standar yang tidak berubah yaitu Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Standar Pengelolaan, Standar Sarana dan Prasarana, dan Standar Pembiayaan.

Keempat standar perlu dirubah disesuikan dengan kerangka pengembangan yang mengantisipasi tantangan abad 21 yaitu

  1. Bagaimana cara menghadapi lingkungan yang terus berubah?
  2. Bagaimana menghadapi tantangan yang komplek?
  3. Bagaimana menerapkan keterampilan inti dalam kehidupan sehari-hari?

Ketiga pertanyaan tersebut dijawab dengan 3 hal yan menjadi dasar pengembangan kurikulu yaitu penguatan pendidikan karakter, penguasaan 4 kompetensi, dan peningkatan literasi.

D. Akreditasi

Tantangan terdekat yang dihadapi oleh MATASYA adalah akreditasi madrasah. Tahun ini merupakan tahun terakhir yang menggunakan sistem bukti fisik dalam penilaian akreditasi madrasah. Setiap lembaga dituntut melengkapi bukti-bukti fisik yang tertera di instrumen akreditasi.

Tugas Asesor adalah memverifikasi dan memvalidasi bukti-bukti fisik yang telah dikirim ke Badan Akreditasi Nasional (BAN S/M). jika Bukti yang ada di Madrasah sama dengan bukti fisik yang dilaporkana ke BAN S/M, maka dapat nilai yang bagus.

MTsN 41 Al Azhar sudah terbiasa menghadapi akreditasi model seperti itu. Dan melihat kondisi yang ada sangat mudah untuk mendapat nilai terbaik. Tinggal memodifikasi laporan adminstrasi kurikulu, Al Azhar Mesir seperti laporan administrasi yang berlaku di Indonesia

Sedangkan Akreditasi tahun depan memiliki pola yang berbeda. Dimana bukti-bukti fisik Madrasah menjadi syarat untuk dilakukan visitasi akreditas. Jika lengkap dan sesuai dengan tuntutan, maka Asesor datang dengan menggunakan instrumen baru, tidak hanya melihat bukti fisik yang telah dikirim, tapi melihat langsung proses dan kinerja yang nyata.

E. Keunggulan MATASYA

Pada pembahasan terakhir yang disampaikan dalam acara pembinaan guru-guru MATASYA adalah merencanakan keunggulan MATASYA secara sistematis Diharapkan setiap mata pelajaran atau rumpun mata pelajaran memiliki program unggulan yang tercermin pada kompetensi peserta didik.

Program unggulan  tidak hanya terbatas pada ranah pengetahuan, yang hanya diketahui melalui tes tulis atau tes lisan, tapi harus meliputi 3 ranah yaitu pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Program unggulan yang bisa ditunjukan dengan bukti fisik atau karya dan dapat  dilihat oleh semua orang.

Selama ini MATASYA identik dengan kurikulum Al Azhar, keunggulanya pada tahfidz Al Quran dan bahasa Arab. Kedua unggulan tersebut menjadi modal untuk mengembangkan program-program unggulan yang lebih terukur dan terstandar bagi semua peserta didik MATASYA. Tidak terbatas pada keunggulan kealazharan tapi semua materi, baik intrakurikuler maupun ekstrakurikuler.

33

Yunandra

Yunandra adalah Pengawas Madrasah/Konsultan/Praktisi Pendidikan Islam yang ingin berbagi dan memberi untuk hidup lebih baik. Kata yunandra merupakan dua nama digabung dengan kata “and”. Harapannya segala kebaikan yang dilakukan menjadi Amal Jariah berdua.