Kualitas versus Formalitas dalam Pengembangan Raudhatul Athfal

Rakercab IGRA Cilandak

Jum’at, 15 November 2019, Ikatan Guru Raudlatul Athfal (IGRA) kecamatan Cilandak mengadakan Rapat kerja cabang (Rakercab) tahun 2019 bertempat di RA Nurul Jannah.

Rakercab diikuti oleh perwakilan dari 20 Raudhatul Athfal (RA) di kecamatan Cilandak. Hadir dalam acara pembukaan Rakercab, Pengurus Daerah (PD) IGRA Kota Jakarta Selatan, Hj. Yani dan Hj. Lathifah.

Pada saat memberikan pembinaan sebelum kegiatan Rakercab Ikatan Guru Raudlatul Athfal (IGRA), beberapa hal yang disampaikan:

A. Kualitas versus Formalitas

Formalitas artinya sekedar mengikuti tata cara. Jika dihubungkan dengan pendidikan, Formalitas yaitu lembaga pendidikan hanya sekedar mengikuti tata cara atau memenuhi tuntutan administrasi saja.

Seperti persyaratan sertifikat calon kepala madrasah atau sertifikat penguatan kepala madrasah, Jika Pelatihan penguatan kepala RA dianggap sebagai tuntutan administrasi saja, maka tidak akan ada pengaruh terhadap perubahan kualitas pendidikan di madrasah.

Kualitas pendidikan salah satunya ditentukan oleh kepala madrasah yang berkualitas. Kepala madrasah yang berkualitas adalah kepala yang memiliki kualifikasi, kompetensi dan kinerja sesuai standar.

Pendidikan RA dimasukkan pada pendidikan Anak Usia Dini, Maka Standar kualifikasi dan kompetensi kepala RA mengacu kepada Permendikbud No. 137 tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini.

Pada Pasal 29 ayat 3 bahwa Kompetensi Kepala lembaga PAUD mencakup kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, kompetensi manajerial, kompetensi kewirausahaan, dan kompetensi supervisi.

Kelima kompetensi tersebut menjadi bekal melaksanakan tugas kepala RA.

Tugas kepala RA dapat mengacu kepada Permendikbud no. 15 tahun 2018 tentang Beban kerja Guru, kepala sekolah dan pengawas sekolah di lampiran II.

Adapun rIncian tugas kepala sebagai berikut:

  1. Manajerial terdiri dari 5 tugas dengan 5 bukti fisik yang harus dipenuhi
  2. Kewirausahaan terdiri dari 3 tugas dengan 3 bukti fisik yang harus dipenuhi
  3. Supervisi terdiri dari 6 tugas dengan 4 bukti fisik yang dipenuhi.

Pada syarat kualifikasi, pasal 29 ayat 2 butir e bahwa Kepala Ra memiliki sertifikat Pendidikan dan Pelatihan Kepala Satuan PAUD dari lembaga pemerintah yang berwenang.

Bagi kepala RA yang telah menjabat menjadi kepala dan belum punya sertifikat, maka mengikuti pelatihan penguatan kepala RA atau kepala Madrasah.

Kementerian Agama melalui Dirjen Pendidikan Islam mengeluarkan Surat Edaran No. 3019 tahun 2019 tentang Bimtek penguatan kepala madrasah pada madrasah yang diselenggarakan oleh Masyarakat.

Harapannya Bimtek Penguatan Kepala Madrasah bukan hanya memenuhi persyaratan Formalitas, lebih dari itu untuk meningkatkan kualitas kepala madrasah.

B. Double Status

Kementerian Agama akan mengeluarkan peraturan tentang kelompok kerja guru dalam bentuk KKG/MGMP/MGBK. Peraturan tersebut mencakup kelompok kerja guru RA. Lalu bagaimana hubungannya dengan Ikatan Guru Raudhatul Athfal (IGRA)?

Secara status kelembagaan, IGRA merupakan organisasi profesi yang merupakan wadah pembinaan dan kerja sama antara kepala dan guru Raudhatul Athfal. IGRA memiliki struktur organisasi dan AD/ART sendiri.

Sedangkan KKG/MGMP/MGBK merupakan wadah kolektif guru dalam rangka pengembangan keprofesian berkelanjutan guru. Kelompok tersebut dibentuk dan ditetapkan oleh Kepala Kantor Kementerian Agama.

Jadi Guru-guru RA menjadi double status yaitu anggota IGRA sekaligus menjadi anggota KKG.

C. Program Berbasis Output dan Outcome

Rapat Kerja Cabang merupakan sarana evaluasi program kegiatan tahunan. Diharapkan Rakercab tahun ini fokus kepada peningkatan mutu pembelajaran. Salah satunya meningkatkan kompetensi guru.

Bukan sebatas pada meningkatkan kompetensi guru saja tapi dituntut untuk menerapkanya pada proses pembelajaran agar memberikan pengaruh kepada prestasi peserta didik. Karena Guru hebat adalah guru yang memberikan pengaruh terhadap prestasi dan akhlak peserta didik.

Perlu direncanakan perubahan pola pembinaan guru dari One Short Training atau pelatihan tatap muka satu kali berubah ke pola In-on-in. maksudnya yaitu

  • 1n atau In Service Training yaitu pelatihan tatap muka bersama peserta lain dibimbing oleh fasilitator untuk mempelajari konsep.
  • On atau On The Job Training yaitu peserta mempraktekkan ilmu yang telah didapat di In Service Training di madrasahnya, mencatat semua temuan yang baik, termasuk kendala.
  • In-2 atau In Service Training 2 yaitu pelatihan tatap muka bersama peserta lain dibimbing oleh fasilitator untuk mendiskusikan hasil penerapnnya dan mencari solusi terhadap kendala yang dihadapinya.

Semoga pola In-On-In bisa menjadi sebuah alternatif dalam rangka meningkatkan kompetensi guru dan akan memberikan pengaruh terhadap peningkatan kualitas pembelajaran.

Selamat melaksanakan Rakercab, Semoga menghasilkan program-program berkualitas dan mudah diterapkan.

6

Yunandra

Yunandra adalah Pengawas Madrasah/Konsultan/Praktisi Pendidikan Islam yang ingin berbagi dan memberi untuk hidup lebih baik. Kata yunandra merupakan dua nama digabung dengan kata “and”. Harapannya segala kebaikan yang dilakukan menjadi Amal Jariah berdua.