Tantangan Pembelajaran Bahasa Arab di Madrasah

Tantangan Kurikulum Bahasa Arab pada Madrasah

Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 183 tahun 2019 tentang Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Bahasa Arab pada Madrasah menjelaskan tentang tantangan kurikulum Bahasa Arab pada Madrasah. Tantangan tersebut menjadi faktor penyebab perlunya pengembangan kurikulum Bahasa Arab pada Madrasah.

Tantangan pengembangan kurikulum Bahasa Arab pada Madrasah terbagi menjadi dua yaitu tantangan Internal dan tantangan Eksternal. Di dalam KMA no. 183 tahun 2019 bahwa tantangan pengembangan kurikulum bahasa Arab ada 6 tantangan yaitu 3 di tantangan internal dan 3 di tantangan eksternal.

A. Tantangan Internal

Kurikulum Bahasa Arab pada Madrasah perlu dikembangkan sesuai dengan tantangan dan tuntutan zaman. Secara internal, Tantangan Internal dalam pengembangan kurikulum Bahasa Arab pada Madrasah antara lain:

1. Pembelajaran Bahasa Arab Masih Strukturalistik kurang fungsional dan Komunikatif

Struktural yang dimaksud adalah fokus kepada tata bahasa atau kaidah Bahasa Arab. Penting sekali mempelajari kaidah-kaidah bahasa Arab, agar terjaga dari pemahaman yang salah. Peserta didik perlu menguasai dan memahami kaidah-kaidah bahasa Arab, tapi jangan sampai terhenti pada kaidah saja, tapi perlu dikembangkan pada penggunaan bahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi bahasa komunikasi aktif.

Maka Perlu dikembangkan pembelajaran Bahasa Arab yang tidak berhenti pada kaidah Bahasa Arab akan tetapi juga pada keterampilan berbahasa Arab, Walaupun perlu strategi dan skala prioritas dalam menentukan materi esensial karena keterbatasan alokasi waktu. Menurut PMA 184 Tahun 2019, Alokasi waktu Bahasa Arab untuk MI sekitar 2 Jam Pelajaran per minggu, di MTs sekitar 3 per minggu, dan di MA sekitar 4 dan 2 jam pelajaran per minggu.

Ada dua cara yang bisa dilakukan yaitu

  1. Pemisahan, yaitu Keterampilan Bahasa Arab difokuskan di MI, sedangkan Kaidah di kelas MTs, dan MA
  2. Integrasi dengan materi esensial, yaitu Kaidah dan Keterampilan bahasa dipelajari di semua jenjang dengan porsi minimalis.

Oleh Karena itu, perlu strategi khusus dalam pengembangan kurikulum Bahasa Arab jika ingin menjadi bahasa yang fungsional dan komunikatif tanpa mengesampingan pemahaman terhadap kaidah Bahasa Arab.

2. Bahasa Arab adalah Alat memahami Al Quran dan Hadits

Tantangan Internal yang kedua adalah Bahasa Arab memiliki peran yang penting sebagai alat memahami ajaran-ajaran agama Islam dari sumber otentiknya berbahasa Arab yang merujuk kepada al-Quran dan Hadis,

Maka pengembangan bahasa Arab diharapkan dapat menyiapkan peserta didik yang menguasai bahasa Arab agar dapat memahami AL-Qur’an dan hadits dengan baik.

3. Turunnya minat mempelajari dari sumber otentik

Tantangan Internal yang ketiga adalah penguasaan Bahasa Arab yang kurang, di samping menimbulkan kesalahpemahaman terhadap kitab suci, juga menurunkan minat mempelajari agama Islam dari sumber otentiknya seiring dengan kemudahan mengakses konten agama Islam secara instan melalui internet, media sosial dan kemajuan dunia teknologi informasi lainnya.

Karena itu kurikulum Bahasa Arab harus lebih mendalam dan meluas sehingga cukup membekali kompetensi literasi peserta didik. Diharapkan pembelajaran bahasa Arab disajikan dalam sistem yang komunikatif, ekspresif, fungsional, inspiratif, dan menantang, sehingga bahasa Arab dipersepsikan sebagai bahasa yang mudah dan menyenangkan namun tidak terlepas dari konteks budaya ke-Indonesiaan.

B. Tantangan Eksternal

Tantangan Eksternal dalam pengembangan kurikulum Bahasa Arab pada Madrasah antara lain

1. Pergeseran dari Bahasa Fushhah ke Bahasa Amiyah

Pada KMA No. 183 Tahun 2018 bahwa tantangan ekternal yang pertama adalah Bahasa Arab sebagai bahasa internasional saat ini juga mengalami perubahan yang cepat dan cenderung beragam, sehingga kecenderungan Bahasa Arab dengan pola fushha (baku) sudah bergeser dengan pola amiyah (bahasa pasaran).

Penetapan KMA No. 183 tahun 2018 merespon terhadap visi Indonesia sebagai pusat studi agama Islam dunia maka pengembangan kurikulum Bahasa Arab harus dapat merespon kecenderungan tersebut, dengan mengorientasikan pembelajaran Bahasa Arab tidak hanya fushha namun juga dengan pola Amiyah yang komunikatif-fungsional sehingga dapat berperan dalam percaturan dunia global.

2. Bahasa Arab menjadi Bahasa Komunikasi di lebih dari 60 negara dan 350 juta orang.

Tantangan eksternal yang kedua bahasa Araba adalah Penutur Bahasa Arab lambat laun mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Lebih dari 60 negara dan 350 juta orang menggunakan Bahasa Arab sebagai bahasa komunikasi sehari-hari. Bahasa Arab tidak saja dijadikan sebagai bahasa “studi agama” akan tetapi juga dipakai sebagai bahasa ekonomi, pariwisata, politik dan keamanan global.

Maka pengembangan kurikulum bahasa Arab di Madrasah diharapkan dapat menyiapkan peserta didik yang mampu menguasai bahasa Arab yang dapat digunakan di bidang ekonomi, pariwisata, politik dan keamanan global.

3. Kemudahan mengakses Agama Islam dari Internet

Tantangan eksternal yang ketiga bahasa Arab adalah Kemajuan teknologi informasi dalam menyediakan konten agama Islam secara instan menimbulkan kecenderungan rendahnya minat generasi muda menggali ilmu agama Islam dari sumber otentik yang pada umumnya berbahasa Arab.

Semua orang dapat menemukan dengan mudah permasalahan yang dihadapi terkait ajaran agama Islam di internet. Mereka tidak perlu menguasai bahasa Arab untuk mengetahui ajaran agama Islam.

Karena itu kurikulum Bahasa Arab diharapkan dapat mendorong dan membekali peserta didik dengan bahasa Arab agar dapat mendalami ajaran Agama Islam dari sumber aslinya.

12

Yunandra

Yunandra adalah Pengawas Madrasah/Konsultan/Praktisi Pendidikan Islam yang ingin berbagi dan memberi untuk hidup lebih baik. Kata yunandra merupakan dua nama digabung dengan kata “and”. Harapannya segala kebaikan yang dilakukan menjadi Amal Jariah berdua.