Grand Design Inovasi Pendidikan Islam: Strategi Pengembangan berbasis 3 Komponen

yunandra. Inovasi Pendidikan Islam merupakan istilah populer dalam rangka merespon perkembangan zaman dan tuntutan global. Konsep dan Strategi pengembangan menjadi kunci mewujudkan inovasi pendidikan Islam.

Pendidikan tidak boleh hanya berfungsi sebagai penyadaran atau memperhatikan hal-hal yang lama. Tapi harus mampu berfungsi sebagai reproduksi dan mediasi. Keduanya bisa berjalan dengan kesadaran melakukan inovasi pendidikan. (Lihat buku Visi Baru Manajemen Sekolah)

Tulisan ini mencoba mengangkat strategi inovasi pendidikan Islam yang sesuai dengan kondisi dan perkembangan zaman, Juga menawarkan gagasan inovatif seperti konsep Madrasah Minimalis dan kompetensi 531.

Untuk gagasan inovatif yang lengkap tersedia di bagian terakhir dengan judul model pengembangan pendidikan Islam di Era Modern. Harapannya Gagasan inovatif tersebut akan menjadi sebuah buku siap cetak.


Menurut beberapa sumber, Inovasi pendidikan adalah pembaharuan atau gagasan baru dalam sistem pendidikan yang bertujuan meningkatkan kualitasnya, yang dapat berupa metode pengajaran, teknologi, atau kurikulum baru.

Ada 3 kata kunci dari pengertian di atas yaitu gagasan baru, punya tujuan dan bentuk inovasi.

Inovasi harus merupakan gagasan baru atau ide baru yang berbeda dengan sebelumnya. Hal merupakan hasil dari analisis komparatif, deskriptif atau korelatif.

Selain itu, inovasi memiliki tujuan yang berdampak. Sehingga tujuan inovasi pendidikan fokus pada tujuan dari pendidikan yaitu pembelajaran.

Areal inovasi bisa di metode, media atau kurikulum pendidikan.

Maka inovasi pendidikan Islam merupakan gagasan baru yang berlandaskan ajaran Islam untuk meningkatkan kualitas pembelajaran atau pendidikan yang Islami melalui inovasi metode, media dan kurikulum.

Pentingnya inovasi pendidikan adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, mempersiapkan siswa menghadapi tantangan masa depan, serta membuat proses belajar lebih menarik dan bermakna melalui pendekatan yang lebih relevan dengan zaman.

Maka perlu strategi khusus dalam melakukan inovasi agar lembaga pendidikan Islam mampu beradaptasi dengan tantangan teknologi di era digital.


Untuk mengetahui tujuan inovasi pendidikan Islam menurut, penulis menukil dari Tim Dosen FIP IKIP Malang (1988:202) yneg menetapkan dua tujuan utama inovasi di dalam dunia pendidikan.

Kedua tujuan inovasi pendidikan sebagai berikut:

1. Pembaruan Pendidikan sebagai Tanggapan Baru terhadap Masalah-masalah Pendidikan.

Majunya bidang teknologi dan komunikasi sekarang ini dapat memberikan pengaruh positif terhadap kemajuan di bidang lain, termasuk dalam dunia pendidikan. Tugas pembaruan pendidikan yang terutama adalah memecahkan masalah-masalah yang dijumpai dalam dunia pendidikan, baik dengan cara yang konvensional maupun dengan cara yang inovatif. Titik tolak pembaruan pendidikan adalah masalah pendidikan yang aktual, yang secara sistematis akan dipecahkan dengan cara inovatif.

Masalah-masalah pendidikan yang perlu dipecahkan melalui inovasi tersebut adalah:

  1. Kurang meratanya pelayanan pendidikan.
  2. Kurang serasinya kegiatan belajar dengan tujuan.
  3. Belum efisien dan ekonomisnya pendidikan.
  4. Belum efektif dan efisiennya sistem penyajian.
  5. Kurang lancer dan sempurnanya sistem informasi kebijakan.
  6. Kurang dihargainya unsur kebudayaan nasional.
  7. Belum kokohnya kesadaran, identitas dan kebanggaan nasional.
  8. Belum tumbuhnya masyarakat yang gemar belajar.
  9. Belum tersebarnya paket pendidikan yang memikat, mudah dicerna dan mudah diperoleh.
  10. Belum meluasnnya kesempatan kerja pembuatan dan pemanfaatan teknologi komunikasi.

2. Upaya mengembangkan pendidikan yang lebih efektif dan ekonomis.

Manusia mampu menciptakan sesuatu yang baru yang sebelumnya tidak dikenal. Manusia juga selalu berusaha dan mampu melakukan sesuatu dengan cara yang baru, yang sebelumnya tidak dikenal dan bahkan lebih sempurna.

Dengan kreativitas dan usaha yang tidak henti-hentinya, manusia menemukan sesuatu dengan cara baru yang mengantarkan pada kehidupan yang lebih baik seperti sekarang ini. Pembaruan pendidikan dilakukan dalam upaya problem solving yang dihadapi dunia pendidikan yang selalu dinamis dan berkembang. Sifat pendekatan yang diperlukan untuk pemecahan masalah pendidikan yang kompleks dan berkembang itu harus berorientasi pada hal-hal yang efektif dan murah serta peka terhadap timbulnya masalahmasalah baru di dalam pendidikan.

Berdasarkan pendapat di atas, Penulis dapat menyimpulkan, tujuan inovasi pendidikan Islam adalah

  1. Merespon perubahan zaman
  2. Mengembangkan pendidikan Islam yang lebih efektif, ekonomis dan berdampak terhadap kondisi

Berbicara tentang prinsip Inovasi Pendidikan Islam, Penulis akan mnyampaikan pendapat Drucker (Tilaar, 1999:356). Pendapat Drucker banyak dikutip beberapa peneliti yang membahas tentang Inovasi Pendidikan.

Menurut Drucker, prinsip inovasi pendidikan adalah

  1. Inovasi memerlukan analisis berbagai kesempatan dan kemungkinan yang terbuka, artinya inovasi hanya dapat terjadi apabila mempunyai kemampuan analisis.
  2. Inovasi bersifat konseptual dan perseptual, artinya yang bermula dari keinginan untuk menciptakan sesuatu yang baru yang dapat diterima masyarakat.
  3. Inovasi harus dimulai dengan yang kecil. Tidak semua inovasi dimulai dengan ide-ide besar yang tidak terjangkau oleh kehidupan nyata manusia. Keinginan yang kecil untuk memperbaiki suatu kondisi atau kebutuhan hidup ternyata kelak mempunyai pengaruh yang sangat luas terhadap kehidupan manusia selanjutnya.
  4. Inovasi diarahkan pada kepemimpinan atau kepeloporan. Inovasi selalu diarahkan bahwa hasilnya akan menjadi pelopor dari suatu perubahan yang diperlukan. Apabila tidak demikian maka intensi suatu inovasi kurang jelas dan tidak memperoleh apresiasi dalam masyarakat.

Berdasarkan pendapat Drucker, Penulis menyimpulkan bahwa dalam proses inovasi pendidikan Islam harus mengacu kepada prinsip berikut:

  1. Berbasis Analisis kritis
  2. Bersifat konseptual dan perseptual.
  3. Mulai dri ide kecil
  4. Kepemimpian sebagai arah inovasi.

Penulis akan menampilkan beberapa pendapat tentang faktor pendorong inovasi di dunia pendidikan.

1. Empat Faktor Pendorong menurut Hasbullah

Faktor pendorong inovasi, penulis menukil dari Hasbullah (2008:194). Menurut beliau setidaknya terdapat 4 (empat) faktor yang cukup berperan dalam mempengaruhi perlunya inovasi pendidikan.

Keempat Faktor tersebut sebagai berikut:

a. Visi terhadap pendidikan.

Pendidikan merupakan persoalan asasi bagi manusia. Manusia sebagai makhluk yang dapat di didik dan harus di didik akan tumbuh menjadi manusia dewasa dengan proses pendidikan yang dialaminya.

Sejak kelahirannya, manusia telah memiliki potensi dasar yang universal, berupa:

  1. Kemampuan untuk membedakan antara yang baik dan buruk (moral identity).
  2. Kemampuan dan kebebasan untuk mengembangkan diri sendiri sesuai dengan pembawaan dan cita-citanya (individual identity).
  3. Kemampuan untuk berhubungan dan kerjasama dengan orang lain (social identity).
  4. Adanya ciri-ciri khas yang mampu memedakan dirinya dengan orang lain
    (individual difference).

Usaha dan tujuan pendidikan dilandasi oleh pandangan hidup orang tua, lembaga-lembaga penyelenggara pendidikan, masyarakat dan bangsanya. Manusia Indonesia, warga masyarakat dan warga Negara yang lengkap dan utuh harus dipersiapkan sejak anak usia dini dengan upaya pendidikan.

Tujuan pendidikan diabdikan untuk kebahagiaan individu, keselamatan masyarakat, dan kepentingan Negara. Pandangan hidup bangsa menjadi norma pendidikan nasional keseluruhan. Seperti diketahui bahwa kehidupan ini selalu mengalami perubahan, tujuan pembangunan bangsa mengalami pergeseran dan peningkatan serta perubahan sesuai dengan waktu dan keadaan dan kondisinya. Dengan demikian, pandangan dan harapan orang tua terhadap pendidikan sekarang dapat berbeda dengan pandangan sebelumnya. Perbedaan pandangan ini erat hubungannya yang kita namakan falsafah mengenai manusia dan kemanusiaan pada zamannya masing-masing.

b. Pertambahan penduduk.

Pertambahan penduduk yang cepat merupakan faktor yang sangat menentukan dan berpengaruh besar terhadap penyelenggaraan pendidikan sehingga menuntut adanya pembaruan-pembaruan di bidang pendidikan.

Akibat dari perkembangan penduduk yang sangat cepat sulit dibayangkan, misalnya bagaimana penyediaan gedung sekolah, tenaga guru, buku-buku, dan fasilitas-fasilitas lain pun turut mendapat perhatian. Juga pertambahan tenaga usia kerja yang menuntut sistem pendidikan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan tenaga kerja.

Beberapa masalah yang berkaitan langsung dengan pendidikan adalah sebagai berikut:

  1. Kekurangan kesempatan belajar. Masalah kekurangan kesempatan belajar merupakan masalah yang mendapat prioritas pertama dan utama yang perlu segera digarap. Caranya adalah dengan menciptakan sistem pendidikan yang dapat menampung sebanyak mungkin anak usia sekolah.
  2. Masalah kualitas pendidikan. Kurangnya dana, guru, fasilitas pendidikan akan mempengaruhi mutu pendidikan, oleh karena itu, dalam mengatasi masalah ini pemerintah telah berusaha meningkatkan kemampuan guru lewat pelatihan, menambah fasilitas, menambah dana pendidikan, mencari sistem pembelajaran yang tepat guna dan sistem evaluasi yang baik sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan secara bertahap.
  3. Masalah relevansi. Dalam kondisi saat ini sangat dibutuhkan output pendidikan yang sesuai dengan tuntutan masyarakat, terutama dalam hubungannyaa dengan kesiapan kerja. Hal tersebut lebih jelas dengan digulirkannya konsep link and match yang salah satu tujuannya adalah mengatasi persoalan relevansi pendidikan dan dunia kerja.
  4. Masalah efisiensi dan efektivitas. Pendidikan diusahakan agar memperoleh hasil yang baik dengan biaya dan waktu yang sedikit. Ini berarti harus dicari sistem mendidik dan mengajar yang efisien dan efektif sesuai dengan prinsip-prinsip dasar pendidikan.

c. Perkembangan ilmu pengetahuan.

Kemajuan zaman seperti saat ini justru ditandai dengan majunya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan ilmu pengetahuan berlangsung secara akumulatif dan semakin cepat jalannya.

Tanggapan yang biasa dilakukan dalam kependidikan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan ialah dengan memasukkan penemuan dan teori baru ke dalam kurikulum. Hal ini menyebabkan adanya kurikulum yang sangat sarat dengan masalah-masalah yang baru. Perkembangan ilmu pengetahuan yang cepat ini tidak harus diikuti dengan penambahan kurikulum sekolah di luar kemampuan meskipun kondisi anak didik perlu diperhatikan. Anak didik pun tidak mungkin mampu mengikuti dan menguasai segenap penemuan baru dalam dunia ilmu pengetahuan.

d. Tuntutan adanya proses pendidikan yang relevan.

Salah satu tuntutan diadakannya inovasi di dalam pendidikan adalah adanya relevansi antara dunia pendidikan dengan kebutuhan masyarakat atau dunia kerja. Berkenaan dengan hal tersebut, pendidikan dapat diperoleh dari sekolah maupun dari luar sekolah. Cukup banyak pendidikan yang sangat berarti justru tidak dapat diperoleh di sekolah, terutama yang bersifat pengembangan profesi dan keterampilan, seperti pengembangan karir, profesi tertentu dan sebagainya.


2. Sembilan Dimensi Faktor Dasar Pendorong Inovasi.

Dalin (1978) memaparkan faktor-faktor dasar sebagai pendorong terjadinya inovasi pendidikan memiliki 9 dimensi-dimensi yang meliputi:

Tingkat dan intensitas perubahan teknologi sangat penting untuk proses inovasi. Penggunaan teknologi memberikan dampak perubahan dalam metode, sarana pembelajaran dan sistem di lembaga pendidikan. Namun demikian faktor pembiayaan dan dukungan teknis menjadi perhatian dalam mengadopsi perubahan teknologi.

Perubahan bidang pendidikan seiring dengan perubahan perilaku guru, siswa, administrator, orang tua dan juga kelompok-kelompok lain yang terlibat. Upaya perubahan ditandai dengan perubahan perilaku, semakin penting untuk melibatkan pengguna dalam semua aspek pelaksanaan pendidikan mulai dari proses identifikasi awal kebutuhan sampai kepada proses pelaksanaan pendidikan.

Perubahan organisasi dapat diartikan sebagai perubahan struktur, pengambilan keputusan, peran interaksi manusia dan fungsi dan teknologi organisasi. Perubahan yang terjadi di dalam organisasi merupakan perubahan strategis untuk perubahan pendidikan dengan kata lain perubahan pendidikan perlu melibatkan seluruh organisasi dan strategi perubahan yang lebih kompleks terkait dengan proses dan hasil.

Perubahan sosial didefinisikan sebagai redistribusi kekuasaan, sumber daya, dan kesempatan dalam sistem. Hal ini dimungkinkan untuk memfasilitasi perubahan sosial dalam sektor pendidikan oleh redistribusi internal sumber daya dan sebuah peluang dalam sistem. Perubahan sosial dalam perspektif yang lebih global, menggunakan sektor pendidikan sebagai sarana yang peluang hidup yang menyamakan kedudukan di masyarakat luas. Semakin tinggi tingkat perubahan sosial, maka semakin penting adalah link (hubungan) dengan lingkungan, dan khususnya dukungan dari kekuatan politik dan sosial yang akan membantu upaya perubahan.

Sentralitas dari suatu inovasi mempengaruhi minat dan komitmen untuk mengadopsi program semua tingkat lembaga. Pentingnya administrasi yang melekat pada inovasi memberikan sinyal untuk pelaksana program. Dalam sistem yang terpusat dan keterlibatan parlemen, kementerian pendidikan dan lembaga inovasi memaksimalkan peluang untuk pelaksanaan program, tapi itu tidak menjamin. Keterlibatan tinggi dari kekuatan politik dan administrasi pusat cenderung meningkatkan peluang untuk dilakukan inovasi, namun tidak menjamin diimplementasi di lapangan.

Inovasi dan koordinasi yang baik dapat bervariasi sepanjang meliputi hal-hal sebagai berikut:

  • Target fokus kelompok. Untuk yang lebih kecil, lebih homogen atau secara khusus didefinisikan sasaran kelompok, maka inovasinya kurang kompleks. Sedangkan inovasi yang lebih kompleks, akan melibatkan peserta didik, daerah, kurikulum yang lebih luas.
  • b. Fokus kurikulum. Kurikulum daerah kecil yang terlibat maka inovasinya kurang kompleks.
  • c. Fokus prilaku. Perubahan perilaku atau sikap yang diasumsikan oleh perubahan, maka inovasinya semakin kompleks.
  • d. Integrasi kelembagaan. Faktor ini mengacu pada sejauh mana kegiatan sebuah inovasi yang saling terkait, baik di antara mereka sendiri, dan dengan lainnya. Kegiatan prosedur operasi standar lembaga, semakin besar jumlah integrasi kelembagaan yang diperlukan untuk pelaksanaan program, maka semakin kompleks inovasi tersebut.

Program yang kompleks pada umumnya menimbulkan setidaknya dua syarat bagi para perencana dan pelaksana.

  • Pertama, dukungan awal dan komitmen yang terlibat dalam implementasi.
  • Kedua, inovasi yang diadaptasi dan dimodifikasi selama pelaksanaan sehingga dapat mengakomodasi berbagai kebutuhan dan prioritas dari individu yang berbeda dan unit organisasi yang terlibat.

Dalam inovasi, sifat dan jumlah perubahan diasumsikan mengacu kepada kelengkapan atau makna dari upaya perubahan yaitu individu memperoleh keterampilan teknis baru atau mendefinisikan kembali atau mengganti praktik yang lama. Dimensi ini cenderung untuk bekerja berbeda dengan gagasan kompleksitas dan sentralitas, namun memiliki dimensi yang berbeda dalam hal itu terlihat pada masalah bagi individu yang terlibat. Strategi yang memungkinkan pengembangan individu dan pembelajaran sangat penting untuk keberhasilan pelaksanaan inovasi. Semakin besar dan lebih sulit perubahan yang diperlukan maka akan memberikan strategi yang lebih efisien.

Pada umumnya individu akan bekerja untuk menerapkan inovasi jika nilai-nilai nyata yang mereka anut selaras dengan nilai-nilai dan tujuan dari reformasi/perubahan. Jika individu tidak percaya pada tujuan inovasi maka sangat tidak mungkin bahwa mereka akan mengajukan upaya perilaku belajar atau peran baru. Penegasan ini sejalan dengan penelitian Rand Change Agent yang menemukan bahwa jika tujuan dan nilai-nilai yang tersirat dalam desain program tidak sejalan dengan individu dari program tersebut maka inovasi ini mungkin bersifat simbolis belaka atau bahkan tidak dilaksanakan sama sekali. Untuk itu tampaknya diperlukan untuk keberhasilan pelaksanaan program inovasi dimasukkan modifikasi dalam desain dan program inovasi yang sesuai dengan iklim dan prioritas tertentu dari lembaga. Di mana modifikasi dibuat dalam upaya yang serius untuk melakukan perubahan, sebaliknya modifikasi tersebut menghasilkan inovasi yang lebih relevan dan kesuksesan yang lebih dari lembaga tersebut.

Tujuan dari program pembaruan cenderung berubah dari waktu ke waktu. Hal ini mungkin berkaitan dengan tingkat stabilitas di lingkungan atau tingkat stabilitas dalam sistem pendidikan. Perubahan dalam kepemimpinan di tingkat tinggi dapat menjelaskan perubahan yang lebih kecil atau lebih besar dalam tujuan yang baru. Terutama, perubahan tersebut merupakan hasil dari proses perubahan itu sendiri. Jenis keseimbangan yang dimaksud dalam konteks ini adalah sejauh mana kepemimpinan pendidikan yang bertanggung jawab untuk kegiatan pembaruan berkomitmen untuk inovasi dari waktu ke waktu.


3. Tujuan Sumber Inovasi Menurut Drucker

Pendapat ketiga tentang faktor pendorong atau sumber inovasi adalah Drucker. Beliau menyebutkan 7 sumber inovasi yang menjadi dorongan perlunya Lembaga pendidikan Islam melakukan inovasi.

Penjelasan detailnya, silahkan baca 7 Sumber Inovasi Pendidikan Adaptasi Teori Drucker


Era digital ditandai oleh perubahan besar dalam cara manusia memperoleh informasi, berinteraksi, dan belajar. Perubahan ini tidak hanya menyentuh sekolah umum, tetapi juga madrasah dan pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam yang memiliki karakter khas berbasis nilai, tradisi, dan otoritas keilmuan.

Memahami karakteristik era digital menjadi langkah awal untuk merumuskan respons yang tepat.

Sedikitnya ada 4 karakteristik era digital

1. Akses Informasi Tanpa Batas

Ciri paling nyata era digital adalah keterbukaan informasi. Santri dan siswa kini dapat mengakses kitab, jurnal, ceramah ulama, hingga tafsir Al-Qur’an hanya melalui gawai. Otoritas pengetahuan tidak lagi tunggal dan terpusat pada guru.

Kondisi seperti ini memberi dampak bagi madrasah dan pesantren antara lain:

  • Guru bukan lagi sumber ilmu, tetapi menjadi fasilitator dan kurator informasi.
  • Literasi digital menjadi kebutuhan mendesak untuk membedakan informasi yang valid dan yang menyesatkan.
  • Pendidikan karakter semakin penting agar peserta didik tidak terjebak pada informasi yang ekstrem atau tidak terverifikasi.

Dengan demikian, peran pendidik bergeser dari “penyampai ilmu” menjadi “pembimbing berpikir kritis dan beretika”.

2. Artificial Intelligence (AI)

Kemunculan Artificial Intelligence mengubah pola belajar secara signifikan. AI mampu membantu pembuatan materi, merangkum teks, menerjemahkan kitab, hingga memberikan umpan balik otomatis pada tugas siswa.

Bagi madrasah dan pesantren, AI menghadirkan dua sisi:

  1. Peluang. Kehadirian kecerdasan artifisial memberikan peluang
    • Membantu guru dalam penyusunan perangkat pembelajaran.
    • Personalisasi pembelajaran sesuai kemampuan santri.
    • Efisiensi administrasi akademik.
  2. Tantangan. Kecerdasan Artifisial menghadirkan tantangan
    • Risiko ketergantungan teknologi.
    • Potensi plagiarisme dan kemalasan berpikir.
    • Isu etika penggunaan AI dalam konteks pendidikan Islam.

Karena itu, pemanfaatan AI harus dibingkai dalam etika dan tanggung jawab moral.

3. Kelas Daring atau Online

Kelas daring memperluas akses pendidikan tanpa batas geografis. Alumni, pakar, atau kiai dari luar daerah bahkan luar negeri dapat mengajar secara virtual.

Dampak yang muncul dari kelas online yaitu kolaborasi antar-lembaga semakin terbuka dan Efisiensi waktu dan biaya.

Namun, interaksi emosional dan pembinaan karakter berpotensi berkurang jika tidak dirancang dengan baik.

Madrasah dan pesantren perlu menjaga keseimbangan antara kehadiran fisik (keberkahan interaksi langsung) dan fleksibilitas digital.

4. Media Sosial sebagai Ruang Belajar

Media sosial kini menjadi ruang diskusi, dakwah, dan berbagi ilmu. Video pendek, infografis, dan podcast keislaman banyak dikonsumsi generasi muda.

Dampak dari media sosial di dunia pendidikan

  • Lembaga pendidikan dapat membangun branding dan dakwah digital.
  • Santri dapat belajar dari berbagai perspektif.
  • Risiko penyebaran hoaks dan paham ekstrem juga meningkat.

Oleh karena itu, literasi digital berbasis nilai Islam menjadi kebutuhan strategis.

Karakteristik era digital tidak dapat dihindari. Bagi madrasah dan pesantren, tantangannya bukan memilih antara tradisi atau teknologi, melainkan mengintegrasikan keduanya secara bijak. Era digital menuntut adaptasi, tetapi tetap dalam bingkai nilai, akhlak, dan visi pendidikan Islam yang holistik.


Pada kajian ini, penulis memberikan gambaran tentang desain besar atau Grand Design Inovasi Pendidikan Islam yang tertuang di Blog Yunandracom.

Ini merupakan hasil dari pengalaman menjadi guru dana kepala madrasah, dan pengamatan terhadap madrasah binaan selama menjadi pengawas madrasah.

Untuk mempermudah pemahaman, penulis menyusun dengan ruang lingkup mencakup dasar inovasi dan produk hasil inovasi

Penulis menawarkan strategi inovasi pendidikan Islam dengan membagi menjadi 3 klaster yaitu sumber, Gagasan, dan pertimbangan.

Tiga klaster utama yang memiliki komponen yang saling melengkapi. (Lihat gambar di atas)

  1. Sumber Inovasi
    • Teori Ilmu Pendidikan
    • Kebijakan Pendidikan Nasional
    • Implementasi Kebijakan
  2. Sasaran Inovasi Pendidikan Islam
    • Lembaga Pendidikan
    • Guru dan Tenaga Kependidikan
    • Mata Pelajaran PAI
  3. Faktor Pendukung
    • Psikologi
    • Teknologi Digital

Penulis membatasi strategi inovasi pada 4 aspek yang ada di manajemen pendidikan Islam yaitu kurikulum atau program, guru dan tenaga kependidikan, digitalisasi lembaga dan branding madrasah.

1. Inovasi Kurikulum Pendidikan Islam

Areal puncak inovasi pendidikan Islam adalah pada kurikulum. Kurikulum merupakan program yang direncanakan untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Pembahasan inovasi kurikulum di tema kelembagaan bukan di tema materi pendidikan agama Islam. Karena kurikulum tidak terbatas pada mata pelajaran, tapi rencana program pembelajaran di satuan pendidikan. Sehingga proses pembaharuan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai dengan evaluasi kurikulum.

2. Inovasi Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan

Areal inovasi kedua adalah tenaga kependidikan yiatu guru, kepala madrasah, pengawas madrasah dan dosen perguruan tinggi.

Pembahasan inovasi pengembangan SDM di tema GTK Pendidikan Islam.

3. Inovasi Tata Kelola dan Digitalisasi Manajemen Lembaga

Areal pembaharuan kedua adalah manajemen lembaga dengan tranformasi digital. Sebuah proses digitalisasi layanan dan pembelajaran di lembaga pendidikan Islam, baik madrasah, pesantren dan perguruan tinggi Islam.

Pembahasan pembaharuan digitalisasi manajemen lembaga di tema kelembagaan Islam

4. Branding Lembaga Berbasi Nilai Islam

Areal keempat adalah branding lembaga berbasis nilai Islam. Sebuah gagasan mengangkat citra madrasah dan pesantren sesuai dengan era digital tanpa mengorbankan nilai-nilai Islam. Alumni madrasah dan pesatren serta penguruan tinggi Islam harus memiliki daya saing di pasar global dengan tetap memiliki karakter dan spirit Islam.

Pembahasan branding lembaga berbasis nilai islam di tema kelembagaan.

Keempat areal pembaharuan tersebut, Grand Design YunandraCom menjadikan dua tema besar yaitu Pertama, Inovasi Kelembagaan berisi kurikulum, digitalisasi dan branding berbasis nilai. Kedua, inovasi tenaga kependidikan yaitu guru, kepala madrasah, pengawas madrasah, dan dosen serta tenaga kependidikan lainnya.



Perkembangan zaman melahirkan tantangan yang berbeda dan sekaligus peluang yang terbuka.

Pendidikan Islam dalam konteks lembaga pendidikan akan terus terawat dan memiliki dampak terhadap masyarakat jika mampu merespon perkembangan yang ada.

Inovasi menjadi kebutuhan bagi lembaga pendidikan. Agar kuat secara konsep, maka perlu pilar yang menjadi acuan atau dasar pengembangan pendidikan Islam.

Penulis menyebutnya 3 sumber untuk mendukung inovasi berjalan sesuai dengan konsep yang jelas. Ketiganya itu adalah teori pendidikan Islam, Kebijakan Pendidikan Nasional dan refleksi implementasi di satuan pendidikan.


Konsep Pendidikan Islam Makna Tujuan di YunandraCom

Teori pendidikan perlu dalam merancang sebuah gagasan menjadi program. Fungsi Teori untuk memperkuat gagasan secara konseptual dan mempermudah gagasan secara faktual.

Sebagai berpendapat bahwa teori adalah sistem konsep abstrak yang saling berhubungan untuk menjelaskan suatu fenomena.

Dengan bahasa lain, teori adalah pendapat yang didasarkan pada penelitian dan data, didukung argumentasi ilmiah, dan berfungsi untuk menjelaskan, memprediksi, serta memberikan kerangka untuk memahami berbagai hal.

Jadi teori pendidikan adalah seperangkat penjelasan sistematis yang rasional dan terpadu yang membahas fenomena dan peristiwa dalam pendidikan.

Teori ini berfungsi sebagai kerangka kerja konseptual untuk memahami, menjelaskan, dan memprediksi proses belajar, tujuan pembelajaran, dan berbagai aspek penting dalam pendidikan

Artinya ada tiga fungsi teori pendidikan yaitu

  1. Memahami proses belajar, tujuan pembelajaran dan berbagai aspek pendidikan
  2. Menjelaskan yang terkait dengan proses, tujuan dan bidang-bidang pendidikan
  3. Memprediksi proses dan tujuan pendidikan

Dalam Kerangka besar inovasi pendidikan Islam di yunandraCom, teori pendidikan Islam meliputi:

  1. Filsafat Pendidikan Islam. Bahasan hakikat, metode dan tujuan dari pendidikan Islam.
  2. Manajemen Pendidikan Islam. Strategi pengelolaan pendidikan berbasis ajaran Islam.
  3. Kurikulum Pendidikan Islam. Muatan pendidikan yang bersumber dari ajaran Islam sebagai bekal generasi emas.
  4. Metode Pendidikan Islam. Cara memfasilitasi proses pendidikan berbasis Iskan
  5. Evaluasi Pendidikan Islam. Instrumen pengukuran berorientasi pada pencapaian tujuan pendidikan Islam
  6. Manajemen Siswa. Pengelolaan potensi dan bakat peserta didik sesuai dengan tuntutan ajaran Islam.

Kebijakan Pendidikan Nasional

Selain tataran konseptual, Inovasi perlu menyesuaikan dengan sistem pendidikan yang sedang berjalan. Sistem Pendidikan yang mengacu kepada kebijakan yang telah diambil.

Inovasi perlu melihat keputusan yang diambil sebagai dasar pelaksanaan pendidikan di Indonesia. Hal ini sebagai strategi agar inovasi pendidikan Islam sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat.

Dalam grand design yunandraCom, penulis membagi Kebijakan Pendidikan Nasional menjadi 4 tema yaitu

  1. Analisa regulasi yaitu proses meninjau peraturan dan keputusan yang terbit dari Instansi yang mengurusi bidang pendidikan nasional.
  2. Kurikulum Nasional yaitu kebijakan program pendidikan yang bersumber dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
  3. Kurikulum Madrasah yaitu kebijakan pengembangan program pendidikan Islam yang bersumber dari Kementerian Agama.
  4. Standar Nasional Indonesia dan Akreditasi Pendidikan Nasional yaitu sistem penjaminan mutu pendidikan nasional bersumber dari standar nasional pendidikan.

Kajian kebijakan pendidikan nasional menghasil sebuah gagasan baru yang tertuang di inovasi lembaga pendidkan Islam, GTK Pendidikan Islam, dan PAI di Indonesia.


Pengawas Madrasah Jabatan Fungsional Multiperan

Gagasan inovatif tidak akan berjalan tanpa melihat Implementasi teori dan kebijakan di lapangan. Grand Design yunandraCom, menetapkan hasil refleksi terhadap perubahan di satuan pendidikan menjadi sumber inovasi pendidikan Islam.

Proses refleksi Implementasi dengan memposisikan penulis dalam berbagai peran di dunia pendidikan. Maka tema yang diambil adalah kegiatan profesi pengawas madrasah.

Aktivitas profesi merupakan catatan refleksi atau jurnal kegiatan yang dilakukan oleh penulis.

Profesi yang tidak lepas dari dunia pendidikan yaitu

  1. Pendamping satuan pendidikan. Peran baru pengawas madrasah dalam melakukan supervisi manajerial dan akademik.
  2. Dosen Pendidikan Islam. Profesi yang menghubungkan pengalaman praktis dengan konsep teoritis.
  3. Asesor Program Penjaminan mutu. Profesi menilai dan mereview program pendidikan.
  4. Fasilitator Pelatihan. Profesi memfasilitasi kegiatan atau forum ilmiah.
  5. Organisator. Kegiatan keterlibatan di Organisasi profesi atau kelompok kerja pengawas (Pokjawas)
  6. Pembelajar. Aktivitas mencari dan menuntut ilmu dalam rangka update Ilmu pengetahuan dan wawasan Pendidikan.

Selain keenam di atas, profesi lainnya yaitu konsultan pendidikan Islam, penulis buku dan pengelola digital media. Dan terakhir pembimbing ibadah haji.

Hasil dari refleksi kegiatan pengawas madrasah memunculkan gagasan inspiratif yang akan menjadi sumber penulisan gagasan baru di inovasi lembaga, GTK maupun PAI di Indonesia


Selain perpaduan ketiga komponen, Kedua produk pembaharuan pendidikan Islam harus mempertimbangkan dua faktor yaitu perkembangan teknologi digital dan psikologi populer.

Psikologi dalam Inovasi Pendidikan Islam

Psikologi menjadi pertimbangan dalam merancang pembaharuan lembaga pendidikan Islam. Berbeda dengan perkembangan teknologi yang fokus pada eksternal, Psikologi lebih kepada perkembangan psikologi atau internal para pelaku pendidikan yaitu siswa dan sumber daya manusia pendidikan.

Pembahasan Psikologi sebagai bahan pertimbangan pembaharuan pendidikan Islam meliputi 3 aspek. Ketiga aspek tersebut menjadi fokus bahasan di tema Psikologi Populer.

Adapun ruang lingkup psikologi populer adalah

  • Psikologi pendidikan. Tema yang membahas tentang pengertian psikologi pendidikan dan perkembangan kondisi kejiwaan masyarakat madrasah. Inovasi menyesuaikan faktor psikologis siswa dan guru serta Tenaga Kependidikan.
  • Kecerdasan Manusia. Pemahaman kecerdasan yang bergeser dari hanya kecerdasan intelektual menjadi kecerdasan ganda. Pembaharuan pendidikan Islam harus memperhatikan perkembangan kecerdasan siswa.
  • Kisah dan kata Inspiratif. Tema ini berfokus kepada ungkapan atau kata mutiara yang memberikan pelajaran bagi semua insan madrasah.

Sistematika penulisan di keempat tema tersebut menggunakan tahapan yaitu pengertian, tujuan, manfaat dan peran penting dalam mendukung pembaharuan pendidikan Islam.


Teknologi Media Digital

Proses inovasi tetap memperhatikan perkembangan teknologi digital yang sangat cepat. Istilah Disruption menjadi populer karena ketertinggalan bukan karena tidak bagus, tapi kurang responsif terhadap inovasi baru.

Teknologi Digital dan Media Pembelajaran akan membahas sebagai berikut

  1. Literasi Digital. Pembahasan konsep literasi digital dari sudut bahasa, isitlah dan juga perbedaan pendapat tentang instilah transformasi digital.
  2. Media Pembelajaran. Penyiapan media pembelajaran yang relevan dengan perkembangan zaman teknologi digital. Juga membahas secara teori tentang fungsi dan manfaat media dalam proses pembelajaran.
  3. Review platform pendidikan. Mengupas aplikasi-aplikasi yang berasal dari Kemendikdasmen dan Kemendikbud, juga lembaga atau institusi non pemerintah.
  4. Tutorial Aplikasi digital. Tema ini fokus kepada peningkatan keterampilan atau praktek kompetensi digital guru, kepala madrasah dan pengawas madrasah. Berbagai tutorial penggunaan program aplikasi yang mendukung kinerja di lembaga pendidikan Islam.

Ketertinggalan bukan karena tidak bagus, tapi karena kurang responsif terhadap perkembangan

Hasil perpaduan antara teori pendidikan Islam, kebijakan pendidikan nasional dan refleksi implementasi di satuan pendidikan menghasilkan produk inovasi.

Di Grand Design yunandraCom, produk inovasi terdiri dari lembaga pendidikan Islam dan Guru dan Tenaga Kependidikan.

Sebenarnya, GTK Madrasah atau Pendidikan Islam merupakan bagian dari pembaharuan Lembaga Pendidikan Islam. Penulis membahas secara terpisah karena peran GTK sangat penting dalam proses pembaharuan.

Lembaga Pendidikan Islam

Setiap jenjang pendidikan Islam memiliki tujuan dan karakteristik berbeda. Inovasi pendidikan harus menyesuaikan dengan keduanya.

Pembaruan di lembaga pendidikan Islam tidak lepas dari bidang yang di sebuah instansi yaitu kurikulum, kesiswaan, sarana prasarana, pembiayaan, Hubungan masyarakat dan kemitraan, dan ketenagaan atau sumber daya manusia.

Artinya inovasi tidak lepas dari bidang manajemen pendidikan.

Fokus inovasi lembaga pendidikan Islam pada tata kelola kelembagaan, kesiswaan, sarana dan prasarana dan pembiayaan. Sedangkan Ketenagaan atau SDM Pendidikan akan dibahas di inovasi pengelolaan GTK Pendidikan Islam. Juga kurikulum akan dibahas di Inovasi Kurikulum PAI di Indonesia

Keenam bidang manajemen pendidikan menjadi target inovasi sesuai dengan tujuan dan karakteristik setiap jenjang pendidikan Islam.

Andapun ruang lingkup pembaharuan Lembaga Pendidikan Islam di yunandraCom adalah

  1. Raudhatul Athfal. Pendidikan Anak Usia Dini berciri khas Islam
  2. Madrasah. Sekolah Umum berciri khas Islam
  3. Pesantren. Lembaga Pendidikan Keagamaan Islam.
  4. Perguruan Tinggi Islam. Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam

Selain keempat di atas, penulis membahas Pendidikan keluarga menjadi sasaran inovasi lembaga pendidikan Islam yang terdekat dengan siswa.

Hasil dari kajian inovasi lembaga pendidikan Islam melahirkan konsep inovasi pengembangan lembaga pendidikan Islam, baik madrasah, pesantren, maupun perguruan tinggi Keagamaan Islam pada aspek tata kelola maupun branding lembaga.


Guru dan Tenaga Kependidikan GTK Madrasah

GTK Madrasah atau Pendidikan Islam terdiri dari guru, kepala madrasah, pengawas madrasah, dosen, dan Tenaga Kependidikan lainnya.

Pembaharuan GTK Madrasah atau Pendidikan Islam secara umum memiliki ruang lingkup sebagai berikut

  1. Guru Profesional, Tema Pengelolaan Guru Profesional Madrasah dan Pesantrean, dan Guru PAI di Sekolah
  2. Kepala Madrasah. Pengembangan kualifikasi dan kompetensi kepala madrasah sebagai pemimpin satuan pendidikan
  3. Pengawas Madrasah dan PAI. Kedudukan Pengawas Madrasah dalam Kebijakan Pendidikan Nasional, kompetensi dan proses pengembangan profesi serta perubahan peran menjadi pendamping satuan pendidiikan
  4. Dosen Pendidikan Islam. Peran dan tugas dosen pendidikan Islam dengan tridarma perguruan tinggi yaitu pembelajaran, penelitian, dan pengambdian masyarakat.
  5. Tenaga Kependidikan Lainnya seperti laboran, pustakawan dan tenaga kependidiikan lainnya.

Materi di GTK Pendidikan islam fokus pada pengelolaan sumber daya manusia. Mulai dari rekrutmen, seleksi, pelatihan, penempatan, penilaian kinerja.

Juga penulisan membahas kedudukan dan peran pada kebijakan pendidikan nasional.

Hasil kajian inovasi pengelolaan guru dan tenaga kependidikan melahirkan konsep baru strategi pengembangan Guru dan Tenaga Kependidikan di Era Digital.


Pendidikan Agama Islam PAI antara Rumpun dan Mata Pelajaran

Komponen penting dalam Proses Inovasi, baik sebagai dasar, produk maupun pertimbangan adalah materi Pendidikan Agama Islam.

Unsur yang berada di tiga pilar inovasi pendidikan Islam.

Mata pelajaran yang menjadi fokus pembahasan yaitu

  • Qur’an. Materi Qur’an yang berlaku di setiap jenjang
  • Hadist. Kumpulan materi hadis yang berlaku di setiap jenjang juga ilmu-ilmu yang menyertai hadis
  • Akhlak dan Karakter. Pembahasan tentang pendidikan akhlak dan materi ajar di lembaga pendidikan Islam
  • Fikih. Materi pemahaman setiap jenjang pendidikan.
  • Sejarah Kebudayaan Islam. Muatan mata pelajaran sejarah Islam dan budaya Islam.
  • Bahasa Arab. Pembahasan tentang teori pendidikan Bahasa Arab dan materi ajar bahasa Arab sesuai kebijakan nasional.
  • Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi. Materi yang menjadi referensi dosen pendidikan agama Islam.

Pembahasan materi Pendidikan Agama Islam (PAI) tidak lepas dari ajaran Islam secara umum dan regulasi pendidikan Islam secara khusus.

Hasil dai kajian inovasi kurikulum pendidikan agama Islam di Indonesia menghasilkan gagasan inovatif terkait pembaharuan kurikulum PAI berdasarkan jenjang pendidikan maupun mata pelajaran PAI atau Bahasa Arab.


Sebagai blog pendidikan milik pengawas madrasah, artikel di yunandraCom berisi gagasan ringan sesuai dengan bidang-bidang pendidikan yaitu kurikulum, guru dan Tenaga Kependidikan, kesiswaan, kelembagaan, dan sarana prasarana.

Berdasarkan Kumpulan artikel ini di yunandraCom menghasilkan gagasan-gagasan inovatif pengembangan madrasah.

Gagasan inovatif akan menjadi gagasan utuh yang terdokumentasi manjadi sebuah buku dengan harapan bisa memberikan tambahan hazanah ilmu pendidikan Islam di Indonesia.


Konsep Madrasah Minimalis Strategi Pengembangan Madrasah

Madrasah merupakan lembaga pendidikan formal yang memiliki ciri khas Islam.

Terlahir dari respon positif pesantren terhadap perkembangan dan tuntutan zaman. Sehingga ruh madrasah tetap pesantren dan mampu beradaptasi dengan zaman.

Madrasah minimalis lahir dari hasil pengalaman menjadi praktisi pendidikan di madrasah. Berbagai kondisi dan peluang mendorong perlunya inovasi yang menjadi alternatif pengelola pendidikan Islam.

Konsep madrasah minimalis terus diujicoba di setiap aktivitas profesi pendidik. Secara konseptual diujicoba dengan gagasan dan pemikiran lainnya.

Madrasah Minimalis adalah strategi pengembangan madrasah berbasis pada potensi guru, kebutuhan siswa dan inovasi program rutin.

Tulisan ini sudah men jadi buku dengan judul yang sama yaitu Madrasah Minimalis: Strategi Baru Pengembangan Sekolah Unggul Berbasis Islam

Berikut ini merupakan gagasan awal pengembangan madrasah minimalis sebagai strategi baru pengembangan madrasah.

Konsep madrasah minimalis lahir dari pengalaman saya mendampingi madrasah yang berbagai kondisi dan karakterisk. Juga memerankan berbagai jabatan fungsional yang tidak lepas dari dunia pendidikan. Peran-peran tersebut, saya tulis di halaman Pengawas Madrasah Multiperan


Gagasan kedua terkait pengembangan kurikulum. Sebuah gagasan kurikulum yang murah, mudah dan lestari yaitu Kompetensi 531.

531 dibaca lima, tiga dan satu merupakan kumpulan keterampilan yang perlu dimiliki oleh siswa. Terdiri dari 3 kategori yaitu keagamaan, kebahasaan dan teknologi.

Apa pengertian Strategi Inovasi Pendidikan Islam?

Strategi Inovasi Pendidikan Islam adalah cara melakukan pembaharuan di semua bidang pendidikan berdasarkan ajaran Islam.
______

Sebutkan 3 pilar dalam Grand Design Inovasi Pendidikan Islam di yunandraCom?

Grand Design Inovasi Pendidikan Islam di yunandraCom terdiri dari 3 pilar yaitu pilar sumber pengembangan, produk inovasi, dan dasar pertimbangan pembaharuan.
____&

Sebutkan sumber inovasi pendidikan Islam?

Dasar inovasi pendidikan Islam yaitu teori pendidikan Islam, kebijakan pendidikan nasional, dan refleksi implementasi di madrasah dan satuan pendidikan lainnya.
_____

Apa dasar pertimbangan dalam melakukan inovasi pendidikan Islam?

Dasar pertimbangan pembaharuan dalam pendidikan Islam adalah perkembangan teknologi digital dan psikologi populer.
_____

Apa Produk Inovasi Pendidikan Islam di yunandraCom?

Produk Inovasi Pendidikan Islam di yunandraCom ada 2 yaitu pembaharuan lembaga pendidikan Islam dan Inovasi Peningkatan Profesionalisme Guru dan Tenaga Kependidikan.