Fasilitator

Dari CINTA Menuju Budaya: Merancang Implementasi KBC di FKMA

yunandracom. Hari Sabtu (4 Oktober 2025), Forum Komunikasi Madrasah Aliyah (FKMA) menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di Pondok Pesantren Darunnajah Ulujami, Jakarta Selatan.

Para wakil kepala madrasah dan perwakilan guru dari berbagai MA hadir sebagai peserta yang akan belajar tentang bagaimana mengimplementasikan kurikulum berbasis cinta di madrasah.

Selain KBC, peserta belajar memahami Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) sebagai pendekatan yang menjadi kebijakan baru pada pendidikan nasional.

Berkesempatan menjadi fasilitator pada materi kurikulum berbasis cinta, tulisan ini menjadi catatan ringan tentang proses bimtek.

FKMA merupakan forum komunikasi Madrasah Aliyah Swasta (MAS ) yang sekarang ini beranggotakan dari dua kota yaitu Jakarta Selatan dan Jakarta Barat.”

Madrasah yunandra
Kelas Online Pengawas Madrasah

Sebagai fasilitator, berusaha merancang Bimtek tidak hanya membuat peserta memahami teori saja, tetapi juga mampu merancang dan menerapkan program nyata di madrasah.

Dengan durasi sekitar 3 jam, Bimtek Kurikulum Berbasis Cinta tersusun dalam tahapan yang sistematis dengan akronim CINTA, yaitu:

C = Catat Ide Panca Cinta

Peserta menuliskan indikator setiap Panca Cinta di kertas post-it. Panca Cinta yaitu

  • 1. Cinta Allah dan Rasul-Nya
  • 2. Cinta Ilmu
  • 3. Cinta Alam
  • 4. Cinta Diri dan Sesama
  • 5. Cinta Tanah Air

Kemudian setiap peserta menempelkan jawabannya di lima tempat berbeda sesuai kategorinya.

I = Identifikasi dan Diskusi

Peserta dibagi menjadi lima kelompok sesuai jenis cinta untuk mendiskusikan makna dan contoh nyata dari indikator yang telah ditulis.

N = Nyatakan dalam Kegiatan

Setiap kelompok memilih aktivitas madrasah yang dapat menanamkan nilai cinta, lalu melakukan simulasi atau peragaan kegiatan tersebut.

T = Tampilkan Simulasi

Masing-masing kelompok menampilkan hasil simulasi di depan kelompok lain sebagai ajang berbagi inspirasi.

A = Analisis dan Refleksi

Tahap terakhir yaitu refleksi bersama dan masukan dari fasilitator, untuk memperdalam makna dan mengaitkan kegiatan dengan konsep Panca Cinta.

Baca juga : ARKA: Tahapan Pelatihan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC)

Tahapan CINTA bukan sekadar akronim, tetapi strategi pembelajaran aktif yang mengintegrasikan konsep, refleksi, dan simulasi kegiatan nyata. Ia mengubah Bimtek dari forum mendengar menjadi ruang berlatih menanam nilai.


Dari strategi CINTA lahir lima simulasi kegiatan rutin madrasah yang tampak sederhana, namun jika madrasah menjalankan dengan konsisten, dapat membentuk budaya madrasah yang penuh cinta.

1. Peduli Sampah

Kelompok yang tampil pertama adalah cinta tanah air. Mereka melakukan simulasi tentang kegiatan membuang sampah sesuai kategori untuk mendukung daur ulang.

Pelajaran dari simulasi ini adalah menanamkan sikap peduli lingkungan. Menjaga kebersihan madrasah berarti berkontribusi terhadap Indonesia yang lebih sehat, bersih, dan beradab.

2. Jumat Berbagi

Kelompok kedua yaitu kelompok cinta diri dan sesama menampilkan tiga kegiatan:

  • Guru menyambut siswa dengan senyum, salam, dan sapa.
  • Refleksi diri dengan menempelkan tangan di dada sambil bersyukur.
  • Sedekah bersama setelah refleksi.

Simulasi ini memberikan pelajaran bahwa cinta diri tidak egois, tapi mendorong berbagi kebahagiaan dengan sesama. Refleksi diri membantu siswa mengenal nikmat Allah dan menumbuhkan empati.

3. Penggunaan Tumbler

Penampilan ketiga yaitu kelompok cinta alam yang menampilkan simulasi tentang situasi sebagian siswa masih menggunakan botol plastik. Kepala madrasah memberikan arahan untuk beralih ke tumbler dan menjelaskan dampaknya terhadap alam.

Simulasi ini menanamkan kesadaran bahwa mencintai alam berarti menjaga ciptaan Allah. Mengurangi sampah plastik adalah bentuk ibadah ekologis yang sederhana namun berdampak besar.

4. Kunjungan ke Perpustakaan

Kelompok keempat yaitu cinta ilmu yang menampilkan simulasi guru mengajak siswa ke perpustakaan. Siswa menonton video peragaan tentang perilaku tidak disiplin dan tidak menghormati guru. Setelah itu, guru meminta siswa mengomentari dua peristiwa tersebut.

Simulasi ini memberikan pelajaran bahwa ilmu bukan hanya pengetahuan, tetapi juga adab dan perilaku. Mencintai ilmu berarti menghargai guru, belajar dari kesalahan, dan mengamalkan nilai-nilai kebenaran dalam kehidupan.

5. Budaya Mengingatkan

Simulasi terakhir dari kelompok cinta Allah dan Rasul-nya yang menggambarkan dua siswa yang langsung pulang dari madrasah tanpa shalat Ashar, dan dua siswa lain yang menunaikan shalat terlebih dahulu. Keesokan harinya guru menasihati pentingnya shalat di awal waktu.

Dari simulasi ini, memberikan pelajar tentang bagaimana budaya mengingatkan dalam kebaikan dengan penuh cinta adalah wujud cinta Allah dan Rasul-Nya.

Guru madrasah menjadi teladan yang menanamkan kesadaran ibadah, bukan sekadar memberi perintah.

Baca juga : Panca Cinta di Pokjawas Jaksel: Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC)

Lima kegiatan sederhana ini bisa menjadi prototipe program KBC di madrasah. Mudah dilaksanakan, murah biaya, namun tinggi nilai dan berdampak spiritual.


Panca Cinta di Kurikulum Berbasis Cinta terdiri atas tiga bagian: Sumber Cinta, Tanda Cinta, dan Tali Cinta.

1. Sumber Cinta

Bagian pertama adalah sumber cinta, dimana segala cinta berawal dari Allah dan Rasul-Nya. Hal ini mengarah pada sifat-sifat Allah yang penuh cinta juga keteladanan Rasulullah saw. yang penuh cinta.

Sumber Cinta adalah hubungan vertikal antara manusia dan Sang Pencipta. Nilai ini menumbuhkan cinta Allah dan Rasul-Nya sebagai dasar semua aktivitas pendidikan.

2. Tanda Cinta

Bagian kedua adalah tanda cinta. Alam semesta adalah bentuk pancaran (tajalli) dari cinta Allah, yang menjadi tanda-tanda hadirnya Allah.

Ke mana pun kamu menghadapkan wajah, maka akan tampak wajah Allah” (QS. Al-Baqarah 115).

Secara urutan, pada bagian ini, diawali dengan cinta ilmu, merujuk pada kenyataan bahwa Allah memberikan tanda-tanda-Nya pada ayat-ayat tertulis (qauliyah) dengan ayat-ayat di semesta (kauniyah).

Pada ayat kauniyah Allah berfirman,

Kami perlihatkan tanda-tanda Kami di ufuk (alam semesta) dan pada diri-diri mereka.” (QS. Fusilat ayat 53).

Merujuk pada ayat ini maka cinta pada lingkungan diletakkan sebelum cinta pada diri sendiri dan sesama manusia.

Maka Tanda Cinta adalah manifestasi cinta dalam perilaku nyata terhadap ilmu dan alam

3. Tali Cinta

Bagian terakhir adalah tali cinta. Tali Cinta membahas relasi manusia dengan diri, dengan sesama manusia, dan dengan negara atau bangsa.

Tali Cinta adalah hubungan sosial dan nasionalisme yang merekatkan semua unsur madrasah dalam cinta diri dan sesama, juga cinta tanah air.

Baca juga: The Power of Yet: Rahasia Mengubah Kegagalan Menjadi Kesempatan


Melalui Bimtek Kurikulum Berbasis Cinta, para peserta belajar bahwa KBC bukan sekadar dokumen, tetapi ruh pendidikan Islam yang menumbuhkan rasa cinta yaitu Panca Cinta (Cinta Allah dan Rasul-nya, ilmu, alam, diri dan sesama, dan tanah air.

Dengan strategi CINTA, diharapkan peserta mendapatkan inspirasi untuk mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Cinta di madrasah masing-masing

Kelima simulasi memberikan gambaran bahwa program rutin madrasah yang berjalan dengan terencana bisa melahirkan dampak besar, mengubah perilaku, menanamkan nilai, dan menumbuhkan budaya positif dalam kehidupan madrasah.

Pelaksanaan KBC di madrasah memerlukan komitmen bersama karena proses membangun budaya bukan proses instan, melainkan perjalanan panjang yang harus dijalani bersama.

Keberhasilan KBC bukan diukur dengan angka tapi diukur dengan mata dan hati.

Baca juga: Model CINTA: Lahir dari Bimtek Kurikulum Berbasis Cinta di FKMA


Sumber: Panduan Kurikulum Berbasis Cinta di Madrasah

Konsep Madrasah Minimalis Strategi Pengembangan Madrasah

    Artikel Terbaru

    Ingin Meningkatkan Kompetensi
    Secara Mandiri
    ,

    Silahkan belajar
    di madrasahyunandra.com
    Buka