Model Evaluasi Pendidikan Islam
yunandracom. Model Evaluasi Pendidikanmenjadi kebutuhan para pendidik untuk mengukur sebuah proses pendidikan atau pembelajaran. Maka pembahasan model ini menjadi bagian penting apda tema Evaluasi Pendidikan Islam.
Adapun kedudukan di dalam rumusan Inovasi Pendidikan Islam, Model evaluasi masuk pada sumber inovasi yaitu teori pendidikan. Harapannya dengan memahami model evaluasi, maka akan menghasilkan rumusan inovasi Pendidikan Islam yang terukur.
Untuk memahami lebih detail tentang pendidikan Islam, silahkan buka Konsep Pendidikan Islam >>
Artikel ini akan membahas secara detail model evaluasi pendidikan Islam ari berbagai sumber dan berdasarkan penelitian yang terbaru.

Pengertian Model Evaluasi Pendidikan Islam
Model evaluasi pendidikan adalah pola acuan atau sistem terencana untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menginterpretasi data guna mengukur tingkat keberhasilan, kemajuan, serta hambatan dalam proses pencapaian tujuan pendidikan Islam, yang mencakup aspek mental, psikologis, spiritual, dan akhlak mulia.
Sederhananya, Model adalah pola acuan atau sistem terencana. Fungsi acuan tersebut untuk mengevaluasi Pendidikan Islam di semua aspek pendidikan, mulai dari hasil belajar, kurikulum, program sampai dengan mutu lembaga
5 Model Evaluasi Pendidikan
Berdasarkan beberap sumber, model evaluasi pendidkan termasuk di Pendidikan islam yaitu
1. Model Goal-Oriented dalam Pendidikan Islam
Maksud dari Model Goal-Oriented (berorientasi pada tujuan) dalam konteks pendidikan Islam umumnya merujuk pada Goal-Oriented Evaluation Model yang dikembangkan oleh Ralph Tyler. Model ini adalah pola acuan penilaian yang fokus mengukur sejauh mana tujuan pembelajaran atau program pendidikan Islam yang telah ditetapkan sebelumnya benar-benar tercapai
2. Model CIPP dalam Pendidikan Islam
Model CIPP (Context, Input, Process, Product) dalam Pendidikan Islam adalah kerangka evaluasi program yang dicetuskan oleh Daniel Stufflebeam dan diterapkan secara komprehensif untuk menilai mutu, efektivitas, serta ketercapaian tujuan pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) atau lembaga/pesantren melalui empat dimensi utama.
3. Model Stake dalam Pendidikan Islam
Model Stake dalam pendidikan Islam merujuk pada Model Evaluasi Countenance Stake yang berkembang oleh Robert E. Stake. Model ini adalah pendekatan evaluasi program—seperti pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) atau program tahfiz—yang berfokus pada dua hal utama: deskripsi (description) dan pertimbangan (judgement), melalui tiga tahapan matriks: antecedents (kondisi awal/masukan), transactions (proses), dan outcomes (hasil)
4. Model Kirkpatrick dalam Penilaian Pelatihan dan Pendidikan
Model Kirkpatrick dalam Pendidikan Islam adalah model evaluasi empat tingkat yang berguna untuk menilai efektivitas program pembelajaran atau pelatihan (seperti pelatihan guru Pendidikan Agama Islam) secara bertahap dengan melihat reaksi, pembelajaran, perilaku, dan hasil akhir peserta
5. Model Discrepancy dalam Pendidikan
Model Discrepancy atau Discrepancy Evaluation Model (Model Evaluasi Kesenjangan) dalam konteks pendidikan Islam adalah pendekatan evaluasi program yang mempopulerkan adalah Malcolm Provus untuk mengukur tingkat kesesuaian atau selisih (gap) antara standar/kriteria baku yang terstandar dengan kinerja aktual atau pelaksanaan di lapangan
Perbandingan Model Evaluasi
Perbandingan model evaluasi merujuk pada analisis perbedaan berbagai pendekatan dalam menilai program atau kinerja. Kelima model i atas merupakan model yang sering di kalangan pendidik untuk mengukur keberhasilan sebuah pendidikan atau pelatihan.
Dalam konteks pendidikan dan kurikulum, model utama meliputi model measurement (pengukuran perilaku), congruence (kesesuaian tujuan), educational system (sistem pendidikan), dan illumination (pengamatan proses).
Dengan gambaran di atas menegaskan bahwa model evaluasi bervariasi sesuai dengan kebutuhan dan fokus evaluasi.
Pemilihan Model Evaluasi
Cara melakukan pemilihan model evaluasi pendidikan dengan menyelaraskan tujuan utama, karakteristik program atau objek, serta ketersediaan sumber daya (seperti waktu, dana, dan data). Tidak ada satu model yang sempurna untuk semua situasi, sehingga pemilihannya menuntut analisis kebutuhan yang cermat.
Untuk melihat tema lain, silahkan buka Evaluasi Pendidikan Islam: Pengertian, Tujuan, Prinsip dan Model dalam Pembelajaran

Artikel Evaluasi Pendidikan Islam
- Teori Refleksi dalam Pendidikan: Pengertian, Tujuan, Manfaat, dan Cara Melakukannya

- Evaluasi Pendidikan Islam: Konsep, Tujuan, Prinsip, dan Metode, Problematika

- Evaluasi dan Supervisi Pendidikan Islam di Era Digital
- Evaluasi Mutu Lembaga Pendidikan: Pengertian, Tujuan, dan Prinsip
- Evaluasi Program Pendidikan: Pengertian, Tujuan, dan Prinsip
- Evaluasi Kurikulum Pendidikan Islam
Lainya
Artikel Terbaru
- Apa Tugas Pengurus Pokjawasnas Madrasah 2026-2030?
- KBC Pendidikan Nilai: Refleksi Workshop di KKGMI Palmerah Jakarta Barat
- 4 Strategi Mengelola Otak (Talenta) Untuk Kemajuan Bangsa: Studi Kasus 4 Negara
- Refleksi FGD Merumuskan Peta Jalan Madrasah Vokasi
- Sosialisasi KMA 512 Tahun 2026 Pedoman KBC di Webinar APPAKSI
- Uji Kompetensi Kenaikan Jabatan Fungsional guru dan pengawas
| Ingin Meningkatkan Kompetensi Secara Mandiri, Silahkan belajar di madrasahyunandra.com |
| Buka |


