Akhlak dan KarakterKomputer

Menanamkan Ekoteologi dalam penggunaan Prompt di Artificial Intelligence (AI)

yunandracom. Kajian ini muncul karena adanya penelitian tentang dampak penggunaan Prompt di Artificial Intelligence terhadap lingkungan sehingga perlu dilihat dari sudut Ekoteologi.

Penulis membahas ini pada 2 sudut yaitu teknologi digital dan Pendidikan Karakter melalui Kurikulum berbasis Cinta.

Dengan harapan, adanya penguatan Ekoteologi untuk menumbuhkan kesadaran bahwa penggunaan Prompt di Artificial Intelligence memiliki ecological Footprint (jejak lingkungan) yang kurang baik.

Buku Terbaru

Ekologi adalah cabang ilmu biologi yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungan sekitarnya.

Ekoteologi adalah cabang atau pendekatan teologi yang mengkaji hubungan antara ajaran agama, manusia, Tuhan, dan lingkungan hidup.

Artinya Alam ini cipta yang Maha Kuasa. Dan Manusia menjadi Khalifah di alam ini. Maka menjaga alam adalah Ibadah.


Prompt menjadi kunci penting dalam menggunakan Artificial Intelligence atau Kecerdasan Artifisial.

menurut Wikipedia, Prompt dalam bahasa Indonesia adalah instruksi, perintah, atau tanda kesiapan sistem untuk menerima masukan.

Dalam era kecerdasan buatan (AI), prompt merujuk pada kalimat perintah yang diberikan kepada sistem AI agar memberikan hasil atau respons sesuai keinginan.

Semua orang punya kesempatan menghasilkan apapun jika mampu menyusun Prompt yang tepat.

Masa teknologi digital ini bisa jadi ada perubahan definisi orang hebat.


Guru Besar MIPA UI, Prof. Agustino Zulys dalam penjelasannya mengungkapkan, satu perintah atau prompt kepada AI, jawaban yang kita peroleh dalam beberapa detik itu menggerakan ribuan chip dalam data center yang membutuhkan listrik dan menghasilkan panas.

Mengutip dari riset UC River Side, model AI seperti ChatGPT-3 “minum” setengah liter (500 ml) air untuk 50 respons, atau 50 ml air untuk satu jawaban.

Bayangkan jika penggunanya ribuan atau bahkan jutaan orang. “Satu data center berkapasitas 100 megawatt, dapat menggunakan sekitar 2 juta liter air dalam satu hari, atau setara kebutuhan 6.500 rumah tangga,” jelas Prof. Zulys di #BehindTheScience.

Artinya AI itu sangat membutuhkan air yang banyak untuk bisa bekerja dengan baik.


Dengan adanya dampak tersebut, perlu adanya kesadaran bahwa setiap kueri atau promot digital memiliki jejak lingkungan (ecological footprint).

Tanpa disadari, setiap perkembangan teknologi memiliki dampak terhadap hidup, kehidupan dan penghidupan.

Baca: Hidup, Kehidupan dan Penghidupan: Kompetensi Holistik Integratif Anak Indonesia


Perkembangan teknologi digital dengan Artificial Intelligence menguatkan kembali pentingnya Ekoteologi sebagai dasar manusia meresponnya.

Sebagai bagian dari Panca Cinta dengan Nilai Ekologi, Ekoteologi menjadi prinsip yang perlu ditanamkan kepada murid agar bisa merespon terhadap perkembangan Artificial Intelligence dengan bijak.

Tidak hanya murid, para pendidik perlu memiliki pemahaman yang baik tentang Ekoteologi sehingga dapat menggunakan prompt di Artificial Intelligence sesuai kebutuhan.

Tidak sering mengistirahatkan bernalar kritis dan menggali gagasan baru sendiri karena mengandalkan Artificial Intelligence dengan prompt yang tepat.



Sumber: Panduan Penggunaan Generic AI di Perguruan Tinggi

Madrasah yunandra
Kelas Online Pengawas Madrasah

Artikel Terbaru

Ingin Meningkatkan Kompetensi
Secara Mandiri
,

Silahkan belajar
di madrasahyunandra.com
Buka