Self-Determination Theory dan Komitmen Belajar
yunandra. Salah satu teori motivasi untuk meningkatkan komitmen belajar adalah Self Determination Theory.
Self Determination Theory (SDT) merupakan gagasan dari Edward Deci dan Richard Ryan pada tahun 1985
Self Determination Theory dan Komitmen Belajar
Motivasi adalah kunci penting dalam proses belajar. Ketika siswa termotivasi dari dalam dirinya, mereka akan lebih konsisten, bertanggung jawab, dan berkomitmen terhadap tugas-tugas belajar.
Menurut Self-Determination Theory, motivasi akan tumbuh secara optimal jika tiga kebutuhan psikologis dasar terpenuhi.
Ketiga elemen ini sebagai fondasi universal yang mendorong perkembangan pribadi dan komitmen belajar.
Adapun ketiga kebutuhan psikologi dasar tersebut adalah
1. Autonomy (kebebasan)
Kebutuhan pertama yaitu Autonomy yang berarti rasa memiliki kendali. Autonomy berarti siswa merasa bebas memilih cara belajar dan bertanggung jawab atas pilihannya.
Misalnya, siswa mendapatkan kebebasan memilih topik proyek atau cara menyelesaikan tugas.
Ketika siswa merasa tindakannya berasal dari dirinya sendiri, mereka lebih terlibat secara emosional dan intelektual.
2. Competence (kemampuan)
Psikologi dasar kedua adalah Competence yaartinya Merasa Mampu dan Percaya Diri. Competence merujuk pada rasa percaya diri dalam menyelesaikan tantangan belajar.
Rasa ini tumbuh ketika siswa mendapatkan tugas yang bertahap dan mendapatkan umpan balik positif.
Guru berperan penting dalam menciptakan keberhasilan kecil yang mendorong siswa terus berkembang.
3. Relatedness (keterhubungan sosial)
Terakhir adalah Relatedness yang artinya merasa terhubung dan dihargai. Relatedness merupakan kebutuhan untuk merasa mendapatkan penerimaan dan terhubung dengan orang lain.
Dalam konteks belajar, hal ini terwujud saat guru menyapa siswa dengan empati, memberi perhatian, dan membangun relasi yang suportif.
Lingkungan sosial yang hangat akan membuat siswa lebih terbuka dan nyaman.
Ketiga kebutuhan ini saling memperkuat. Siswa yang merasa mendapatkan penghargaan (relatedness) akan lebih percaya diri untuk mengambil keputusan sendiri (autonomy), dan ketika berhasil, kepercayaan dirinya akan meningkat (competence).
Jika salah satu kebutuhan terabaikan, motivasi siswa dapat melemah.
Maka Madrasah harus menyiapkan lingkungan yang dapat memenuhi ketiga kebutuhan psikologi dasar
Silahkan membaca artikel terkait pengembangan diri di: Psikologi Pendidikan Islam dalam Inovasi Pendidikan Islam >>
Pengembangan Diri
- Pentingnya Psikologi dalam Inovasi Pendidikan Islam

- Psikologi Pendidikan Islam: Inovasi Berbasi Mental dan Jiwa Anak

- Keterampilan Abad 21 dan Growth Mindset
- Digital Mindset: Kunci Transformasi Digital
- Perbedaan Mindset, Skillset, dan Toolset
- Strategi Membangun Kreativitas dan Inovasi dengan Pola Pikir Bertumbuh
Artikel Terbaru
- Menjaga Identitas dan Karakter Pendidikan Islam: Peran Penting Pengawas Madrasah Ahli Utama
- Strategi Implementasi Kepemimpinan Pembelajaran dalam Pencapaian Renstra Kemenag
- Menjadi Pengawas Madrasah 5.0 di Era AI: Catatan Silatnas IV 2026
- Korelasi antara KBC dan Konsep Madrasah Minimalis dalam Implementasi di Madrasah
- Training of Fasilitator: Implementasi KBC Menggunakan MAGIS
- Karakteristik Teknologi Digital pada Pendidikan Islam
| Ingin Meningkatkan Kompetensi Secara Mandiri, Silahkan belajar di madrasahyunandra.com |
| Buka |



