Pembelajar

Profil Kepala Madrasah Yang Sukses?

yunandracom. Terlibat di kegiatan merancang Program Pengembangan Kompetensi Kepala Madrasah berbasis kebutuhan menginspirasi sebuah pertanyaan, apa profil kepala madrasah yang sukses?

Pertanyaan ini mendorong penulis sebagai pengawas madrasah pembelajar untuk menggali lebih dalam pertanyaan tersebut.

Usaha tersebut tertuang di artikel ini yang tersusun dengan pembahasan mulai dari problematika pertanyaan tersebut, diskusi yang berkembang di pertemuan dan gagasan inovasi dari penulis.

Buku Terbaru

Tema ini membahas tiga hal yaitu ciri, keterkaitan dengan kondisi madrasah dan mutu madrasah.

a. Ciri Kepala Madrasah Yang Sukses

Menjawab pertanyaan ini bisa dilihat dari kebijakan idealis atau kondisi yang realistis.

Jika melihat dari sudut idealis, Kepala madrasah yang sukses adalah Kepala madrasah yang memiliki kualifikasi, Kompetensi dan Kinerja yang sesuai dengan aturan.

Kalau dari sudut realistis berdasarkan pengamatan, Kepala madrasah yang Sukses adalah kepala madrasah yang mampu membawa madrasah melahirkan siswa yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Lalu, di antara tuntutan ideal dan realitas yang dihadapi, manakah yang seharusnya lebih diprioritaskan oleh seorang kepala madrasah?


b. Profil Kepala berdasarkan Madrasah Terbaik

Salah satu cara paling sederhana menilai keberhasilan kepala madrasah adalah dengan melihat kondisi madrasah yang dipimpinnya.

Logika ini cukup mudah dipahami: ketika madrasah menunjukkan kualitas yang baik, maka kepala madrasah dinilai berhasil; sebaliknya, jika kondisi madrasah belum menunjukkan mutu yang diharapkan, maka kepemimpinannya pun dipertanyakan.

Namun, persoalan tidak berhenti di sana. Pertanyaan yang lebih mendasar justru muncul: apa sebenarnya indikator madrasah yang baik itu?

Berdasarkan pengamatan di lapangan, terdapat beragam perspektif tentang ciri madrasah yang dianggap berhasil, di antaranya:

  • Madrasah dengan banyak prestasi, baik akademik maupun non-akademik
  • Lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan kondusif
  • Memiliki status akreditasi unggul (misalnya Akreditasi A)
  • Tumbuhnya budaya santun, sopan, dan religius dalam keseharian
  • Ketersediaan fasilitas yang lengkap dan memadai
  • Kemampuan literasi dan numerasi peserta didik yang baik

Berbagai indikator tersebut menunjukkan bahwa konsep “madrasah terbaik” tidak tunggal. Sebagian bersifat idealis, berangkat dari standar konseptual dan harapan normatif. Sebagian lainnya bersifat realistis berdasarkan kondisi nyata yang terlihat dan dirasakan oleh masyarakat.

Dalam konteks ini, pandangan Ahmad Tafsir menjadi relevan. Ia menegaskan bahwa pendidikan adalah persoalan yang tidak pernah selesai. Salah satu penyebabnya adalah fitrah manusia yang selalu menginginkan yang terbaik.

Akibatnya, standar “terbaik” pun akan terus bergerak, berubah, dan berbeda-beda, tergantung pada sudut pandang individu, masyarakat, bahkan bangsa.

Dengan demikian, menilai keberhasilan kepala madrasah melalui label “madrasah terbaik” bukanlah perkara sederhana. Ia menuntut pemahaman yang lebih dalam tentang konteks, kebutuhan, serta tujuan pendidikan itu sendiri.

Lalu, di tengah beragam perspektif tersebut, apa sebenarnya ciri utama madrasah yang benar-benar dapat disebut baik?

Baca: Kenapa Pendidikan Menjadi Masalah Tidak berujung?


c. Kepala Madrasah dan Mutu Pendidikan Madrasah

Kepala madrasah yang sukses adalah yang mampu menjaga dan meningkatkan mutu madrasah .

Pandangan umum, Mutu selalu bicara standar. Standar yang dipakai adalah standar nasional. Padahal Setiap orang memiliki standar masing-masing. Berdasarkan standar tersebut, instrumen penilaian akreditasi mengacu kepada 8 standar tersebut

Selain akreditasi, Pengukuran mutu pendidikan menggunakan standar PISA. Sampai sekarang, posisi Pendidikan Indonesia sangat rendah. Terlihat pada rerata nilai literasi dan Numerasi siswa masih kecil dibandingkan negara lain. Padahal di rapor pendidikan, banyak sekolah atau madrasah memiliki nilai yang bagus di literasi dan numerasi.

Apakah ini yang jadi ukuran mutu?


d. Orientasi Kepala dalam Pengembangan Madrasah

Dalam buku madrasah minimalis, Penulis mengelompokkan orientasi pengembangan madrasah 4 fokus. Keempat orientasi tersebut dapat dipengaruhi oleh orientasi Kepala yaitu

  • karakteristik madrasah yaitu ilmu Islam, Pendidikan Al Qur’an, dan iklim keagamaan
  • prestasi madrasah yaitu akademik, non akademik, prestasi GTK dan lembaga
  • amanah mandatori yaitu SK penunjukan madrasah model, pemenuhan standar dan akreditasi
  • program rutin yaitu kegiatan pembiasaan, Kokurikuler dan ekstrakurikuler.

Lalu, kemana orientasi profil Kepala madrasah yang dikatakan Sukses?

Untuk lengkapnya Lihat buku Madrasah Minimalis


Tema kedua ini mengangkat beberapa isu yang muncul selama pertemuan di kegiatan Penyiapan bahan pelatihan Kepala madrasah yang sudah menjabat.

a. Pelatihan Kepala Madrasah berbasis Kebutuhan nyata

Kepala Pusbangkom, Masduki, menegaskan perlunya merancang pengembangan kompetensi kepala madrasah berbasis kebutuhan.

Makanya, beliau menyarankan untuk menggali informasi dari kepala madrasah terkait kebutuhan Mereka. Berdasarkan kebutuhan tersebut dirancang materi pelatihan.

Beliau mengajak untuk bergeser dari pedagogik dan Andragogik menuju heutagogik.

Pertanyaan, Apa alat untuk mengukur kebutuhan kepala madrasah?


b. Pengembangan Kompetensi Kepala Madrasah Berkelanjutan

Selain berbasis kebutuhan, Kepala Pusbangkom menyoroti perubahan pelatihan menjadi pengembangan, dari pusdiklat menjadi Pusbangkom.

Artinya desain program ini diharapkan memiliki kontinuitas atau Berkelanjutan. Tidak hanya untuk penguatan Kepala madrasah saja, tapi diharapkan menjadi sistem berkelanjutan.

Handoko, Direktur Inovasi menegaskan perlunya merancang ada dua hal yaitu materi dan sistem.

Beliau mengatakan bahwa sebuah sistem pelatihan dan program harus berkaitan dengan karir.

Di Kemendikdasmen pengelolaan guru dan tenaga kependidikan mengalami kendala, karena pendidikan bersifat desentralisasi. Dimana Pengelolaan karir Tenaga Kependidikan ditentukan oleh Pemerintah Daerah.

Kondisi ini berbeda dengan madrasah, Pendidikan madrasah bersifat sentralistik. Tapi masalahnya mayoritas madrasah berstatus swasta. Kewenangannya ada di yayasan.

Lalu apa yang bisa dilakukan oleh Kemenag?

Salah satunya dengan memaksimalkan potensi yang ada yaitu kantor Kemenag, Pusbangkom dan kelompok kerja guru, kepala dan pengawas.

Kolaborasi ketiganya memiliki peluang untuk meningkatkan kualitas kepala madrasah, juga guru dan tenaga kependidikan lainnya.

Pertanyaannya, Bagaimana menyusun strategi pengembangan kompetensi kepala madrasah yang berkelanjutan?


c. Level Pemahaman Kepala Madrasah dalam Madzhab Bloom, Tighe, dan Mazano

Level “Pemahaman” menjadi diskusi menarik ketika menentukan Kompetensi Kepala madrasah.

Kemampuan memahami Kepala madrasah menjadi titik awal pengembangan atau penguatan kepala madrasah.

Permasalahan yang muncul, Pemahaman ini mau menggunakan madzhab Bloom atau Tighe dan Wiggins atau madzhab Mazano

Kalau menggunakan taxonomy Bloom, maka kompetensi berpikir kepala madrasah tahap awal hanya level 2 dari 6 level. Sehingga hal ini berdampak pada proses pelatihan dan instrumen penilaian.

Lalu pertanyaannya, apakah cukup Kompetensi pengetahuan kepala madrasah pada level 2 saja?

Kedua menggunakan madzhab Tighe dan Wiggins yang meletakkan istilah Pemahaman pada level tertinggi. Menurut Tighe dan Wiggins, Pemahaman itu memiliki 6 aspek yaitu explanation, interpretation, application, Perspective, emphaty, dan self Knowledge.

Menurut Marzano dengan 5 level yaitu Retrieval (Mengingat), Comprehension (Pemahaman), Analysis (Analisis), Utilization (Penggunaan Pengetahuan), dan Metacognition (Metakognisi/Sistem Diri)

Madzhab mana yang dianut untuk menggambarkan tingkat pemahaman seorang kepala madrasah?


d. RKJM sebagai Komitmen Kepala Madrasah

Direktur INOVASI, Handoko menyebutkan bahwa dalam Manajemen Berbasis Sekolah (MBD), Rencana Kegiatan Jangka Menengah (RKJM) sebagai komitmen Kepala madrasah dalam memimpin madrasah selama 4 tahun.

Berdasarkan pernyataan tersebut, maka Kepala madrasah yang sukses adalah kepala madrasah yang mampu merancang dan mewujudkan RKJM sebagai Komitmen pribadi selama menjabat sebagai kepala.

Kanwil Kemenag DKI Jakarta mengadakan kontrak prestasi kepala madrasah secara rutin setiap tahun. Kegiatan ini menjadi sebuah komitmen Kepala madrasah memajukan madrasah.

Lalu Apakah bisa menjadikan Kontrak Prestasi di Kanwil Kemenag DKI Jakarta sebagai dasar presentasi RKJM dan RKT Kepala Madrasah?


e. Hasil Ujicoba di Sasaran INOVASI

Pada awal pertemuan, Khairul Anam, konsultan INOVASI memaparkan hasil ujicoba di daerah sasaran terkait kepemimpinan satuan pendidikan.

Beliau menyampaikan prinsip pengembangan kompetensi kepala madrasah terdiri dari 4 yaitu berbasis masalah nyata, bertahap dan berkelanjutan, berorientasi praktik dan dipimpin dari dalam.

Pengembangan kepemimpinan yang Menggunakan metode PDIA (Problem Driven Iterative Adaptation), menghasilkan sebuah proses pengembangan sekolah berbasis masalah nyata.


f. Potensi Pusbangkom: Platform Belajar Mandiri dan Belajar Terbimbing

Pusat Pengembangan Kompetensi (Pusbangkom) merupakan bagian dari Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama RI.

Unit ini memiliki tugas mengembangkan kapasitas, kompetensi, dan profesionalisme ASN di lingkungan Kemenag.

Terobosan yang kreatif dan produktif yaitu PINTAR (Pusat Informasi Pelatihan & Pembelajaran) sebagai Platform tempat belajar bersama secara online.

Dengan memaksimalkan platform tersebut, Kabag TU Pusbangkom, Muhtadi menawarkan sistem pelatihan kepala madrasah dengan 3 tahap yaitu

  1. Belajar Mandiri di MOOC
  2. Belajar Terbimbing di Coaching Clinic
  3. Belajar Bersama di Learning Community

Tahapan ini menjadi fokus dalam merancang pelatihan Kepala Madrasah dalam jabatan.


Dengan melihat pertanyaan di atas, penulis menawarkan sebuah gagasan yang berharap menjadi inspirasi

a. Pendidikan Rohani Kepala Madrasah

Perlunya Pendidikan Rohani berdasarkan kondisi sekarang yang dikenal dengan era teknologi dan kecerdasan artifisial. Kondisi tersebut telah mengambil 2/3 dari komponen diri manusia.

Ada pendapat bahwa komponen manusia terdiri dari jasmani, rohani dan akal. Ketiganya memiliki peran dan memerlukan asupan untuk terus berkembang.

Perkembangan teknologi mulai era industri 1.0 telah mengambil komponen jasmani manusia. Semua pekerjaan manusia bisa digantikan oleh mesin.

Artifisial Intelligence atau Kecerdasan Artifisial berkembang sangat dahsyat sehingga komponen akal sebagai alat berpikir sudah tergantikan oleh kecanggihan AI. Jika bermadzhab taxonomy Bloom, AI sudah bisa mencapai level tertinggi yaitu mencipta.

Jika mengambil dari sudut positif, keberadaan teknologi dan Kecerdasan Artifisial meringankan tugas pendidikan, karena dua ranah pendidikan sudah terselesaikan oleh keduanya yaitu jasmani dan akal.

Jadi pendidikan bisa fokus pada penguatan Rohani. Rohani tidak bisa tergantikan oleh teknologi atau kecerdasan artifisial. Walaupun ada penelitian yang mengatakan bahwa rohani bisa tergantikan oleh AI. Tapi itu sebatas data

Secara Regulasi, pendidikan rohani bisa masuk menjadi Pendidikan yang menguatkan kompetensi spiritual dan sosial atau menjadi Pendidikan karakter.

Sebagai sebuah strategi, Penguatan Kepala madrasah fokus pada penguatan karakter moral dan kinerja Kepala madrasah (lihat Thomas Lickona)


b. Learning Skill Kepala Madrasah berbasis Siklus 4C

4C atau Kompetensi abad 21 terdiri dari critical thinking, creativity, collaboration dan communication.

Menurut penulis, Keempat kompetensi tersebut merupakan siklus berpikir Kepala madrasah dalam mengelola madrasah.

Melalui kemampuan bernalar kritis terhadap permasalahan madrasah sehingga menghasilkan sebuah solusi praktis.

Lalu kepala madrasah menyusun program secara kreatif dengan kompetensi kreativitas.

Sebelum melaksanakan program tersebut, Kepala madrasah perlu mengkomunikasikan kepada warga madrasah dengan kompetensi Komunikasi.

Sehingga dalam menyukseskan program tersebut bisa tercipta kolaborasi semua pihak dengan kompetensi kolaborasi Kepala madrasah.

Baca: Siklus 4C: Cara Pengawas Memaksimalkan Aplikasi MAGIS dengan Kompetensi Abad 21


c. Level Implementer Kepala Madrasah Berbasis Konsep Growth Level

Gagasan ketiga dalam mendukung pelatihan kepala madrasah adalah level Kompetensi minimal Kepala madrasah.

Jika mengacu kepada konsep Growth Level, Penulis menyarankan kompetensi Kepala madrasah yang sudah duduk dalam jabatan minimal berada pada level Implementer.

Dimana Kepala madrasah diharapkan telah melalui level learner dan planner.

Melalui program belajar mandiri melalui MOOC dan belajar terbimbing melalui coaching clinic, Kepala madrasah berada di level learner (pembelajar).

Sedangkan belajar bersama mengantar kepala madrasah ke level planner.

Sehingga tiga kegiatan tersebut mengantarkan kepala madrasah menuju level Implementer.

Bagaimana memastikan Kepala madrasah berada di level Implementer?

Maka peran MAGIS (Madrasah Digital Supervision) menjadi penting

Baca: Leveling kompetensi dengan Growth Level


d. Penilaian Potensi Kepemimpinan dalam Program CKS LPPKS

Gagasan keempat ini hanya berbagi pengalaman dan analisa Penulis terhadap program yang pernah berjalan.

Kemendikdasmen pernah memiliki lembaga khusus untuk pengembangan Kepala Sekolah bernama LPPKS (Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah)

Lembaga ini merancang sistem pelatihan calon kepala sekolah dengan tahapan berikut

  1. Seleksi Administratif
  2. Seleksi Akademik yaitu penilaian potensi kepemimpinan)
  3. Diklat Calon Kepala dengan sistem IN-On-In

Seleksi akademik atau penilaian potensi kepemimpinan calon kepala sekolah menghasilkan gambaran (deskripsi) potensi kepemimpinan yang diperoleh secara kualitatif untuk memprediksi pencapaian keberhasilan yang berkualitas dari seorang calon kepala sekolah.

Penilaian potensi kepemimpinan sekolah dengan instrumen yang mengukur Kepala sekolah dalam merespon tiga hal yaitu

  1. situasional
  2. Kreativitas dan pemecahan masalah
  3. wawasan kepemimpinan dan pengambilan keputusan berdasarkan bukti-bukti

Proses seleksi akademik ini sangat bagus dan menarik untuk melihat potensi kepemimpinan calon kepala sekolah.


Catatan di atas merupakan refleksi sederhana yang lahir dari pengamatan penulis selama mengikuti berbagai kegiatan pengembangan kepala madrasah.

Meskipun bersifat ringan, gagasan ini mengarah pada satu hal penting: profil kepala madrasah tidak boleh dipandang sepele, karena darinya akan ditentukan arah kebijakan, materi pelatihan, serta sistem pendukung yang dibangun.

Profil kepala madrasah yang jelas akan memandu lahirnya program-program yang terarah. Namun demikian, program pendidikan sejatinya tidak berhenti pada kepala madrasah sebagai aktor utama.

Lebih jauh, seluruh upaya tersebut harus bermuara pada satu tujuan utama, yaitu profil anak atau peserta didik madrasah.

Selama ini, istilah yang sering digaungkan adalah pendidikan yang berpihak kepada anak.

Pertanyaannya, seperti apa pendidikan yang benar-benar berpihak kepada anak? Apakah cukup dengan pendekatan ramah anak, ataukah harus menyentuh dimensi yang lebih mendasar?

Dari sini muncul pertanyaan lanjutan yang lebih substantif: profil anak seperti apa yang ingin diwujudkan oleh madrasah?

Jawaban atas pertanyaan ini menjadi kunci, karena seluruh program, baik kurikulum, pembinaan guru, hingga kepemimpinan kepala madrasah, pada akhirnya harus mengarah ke sana

Namun refleksi tidak berhenti di situ. Pertanyaan yang lebih mendasar perlu diajukan: anak itu milik siapa?

Secara ideal, pendidikan harus diselenggarakan selaras dengan nilai dan tujuan dari “pemilik” anak tersebut.

Jika anak dipandang sebagai amanah, maka pendidikan harus berorientasi pada nilai-nilai yang menjaga dan mengembangkan amanah itu secara utuh, baik aspek intelektual, spiritual, maupun karakter.

Dengan demikian, ketika pertanyaan tentang “siapa pemilik anak” telah terjawab secara filosofis dan teologis, maka arah pendidikan akan menjadi lebih jelas.

Dari sanalah madrasah dapat merancang sistem pendidikan yang tidak hanya efektif secara teknis, tetapi juga benar secara nilai.

Pada akhirnya, profil kepala madrasah harus selaras dalam satu garis lurus menuju terwujudnya profil anak madrasah yang diharapkan.

Di titik inilah kualitas pendidikan menemukan maknanya yang sesungguhnya.


Catatan lainnya, silahkan buka jurnal pengawas madrasah pembelajar


Sumber: Kumpulan regulasi kepala madrasah

Madrasah yunandra
Kelas Online Pengawas Madrasah

Lainya


Artikel Terbaru