Regulasi Pendidikan

Strategi Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta Menurut Direktur GTK Madrasah

yunandra. Thobib Al Asyhar, Direktur GTK merespon gagasan Menteri Agama tentang Kurikulum Berbasis Cinta dengan menawarkan strategi implementasi.

Kurikulum Berbasis Cinta bertujuan untuk menumbuhkan generasi yang toleran, empatik, dan mampu hidup harmonis dalam masyarakat yang majemuk

Pada kolom opini website Kemenag, Dosen Dosen Sekolah Kajian Strategis dan Global Universitas Indonesia menulis 3 strategi implementasi kurikulum berbasis cinta. (lihat: Rawat Keragaman Indonesia Dengan-Kurikulum Berbasis Cinta)

Tulisan ini mencoba menganalisis 3 strategi implementasi kurikulum berbasis cinta dengan analisis deskriptif berdasarkan pengembangan kurikulum nasional.

Buku Strategi Mengembangkan Madrasah

“Bagaimana mengajarkan agama, tapi tidak mengajarkan kebencian kepada orang beragama lain. Tapi juga jangan sampai menyamakan semua agama, itu juga sama-salahnya. Tetap lah, agama mereka, agama mereka, agama kita, agama kita,” (di depan Tanwir Aisyiyah 16 Januari 2025)

Menteri Agama menegaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta bukanlah upaya menyeragamkan ajaran agama, tetapi memurnikan cara kita mengajarkan agama.

Tujuan utamanya adalah mengajarkan agama tanpa menanamkan kebencian kepada pemeluk agama lain.

Tetap menjaga keyakinan masing-masing tanpa mencampuradukkan akidah.

Kurikulum ini menempatkan madrasah sebagai pusat pembentukan karakter yang menghargai keberagaman.


Dalam pendidikan agama, madrasah memiliki peran strategis. Bukan hanya mengajarkan ilmu agama, madrasah juga membentuk karakter siswa.

1. Memperkuat Pendidikan Multikultural

Thobib menegaskan bahwa madrasah perlu menanamkan kemampuan memahami dan mengelola keragaman.

Pendidikan multikultural bukan sekadar materi tambahan, tetapi kerangka pembiasaan sikap dalam:

  • Intrakurikuler (materi pelajaran).
  • Ko-kurikuler (tugas dan proyek belajar).
  • Ekstrakurikuler.
  • Hidden curriculum (pembiasaan perilaku sehari-hari).

Madrasah sebenarnya sudah akrab dengan nilai moderasi beragama, namun selama ini implementasinya sering bersifat seremonial. Pendidikan multikultural perlu dipraktikkan melalui aktivitas nyata: dialog lintas budaya, studi kasus sosial, dan pembiasaan empati. Tanpa praktik, kurikulum hanya menjadi slogan.


2. Pelatihan Guru Berbasis Nilai Rahmatan lil ‘Alamin

Guru menjadi penentu keberhasilan kurikulum.

Karena itu, Thobib menekankan penguatan kompetensi guru melalui pelatihan yang berfokus pada 10 nilai Rahmatan lil ‘Alamin, yang terintegrasi dalam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Rahmatan Lil ‘Alamin (P5RA).

Penekanan utama:

  • Guru memahami makna Rahmatan lil ‘Alamin.
  • Guru menerapkan nilai cinta, moderasi, dan toleransi dalam pembelajaran.
  • Pelatihan dilakukan melalui tatap muka, daring, atau kombinasi.
  • Ada modul, juknis, strategi, dan penilaian perkembangan karakter.

Pelatihan guru adalah titik paling krusial. Banyak guru memahami konsepnya, tetapi belum mampu menerjemahkannya dalam RPP, metode mengajar, atau asesmen.

Kurikulum Berbasis Cinta baru benar-benar hidup ketika guru mampu menghadirkan suasana kelas yang inklusif, aman, dan menyenangkan.


3. Membangun Kolaborasi Semua Pihak

Kurikulum Berbasis Cinta tidak bisa dijalankan sendiri oleh madrasah. Thobib menekankan pentingnya membangun super team antara:

  • Satuan pendidikan
  • Keluarga
  • Masyarakat
  • Organisasi keagamaan
  • Lembaga pendidikan lain

Ini selaras dengan konsep Tripusat Pendidikan: sekolah, keluarga dan masyarakat.

Kolaborasi selama ini sering muncul hanya dalam bentuk kegiatan insidental.

Agar strategi ini efektif, madrasah perlu memiliki peta kolaborasi yaitu siapa mitra utama, peran masing-masing, dan indikator keberhasilannya.

Implementasi nilai cinta justru paling kuat ketika masyarakat menjadi lingkaran pendukung utama.


Kurikulum Berbasis Cinta bukan hanya gagasan normatif, tetapi strategi besar membangun kerukunan bangsa.

Seperti disampaikan Thobib Al Asyhar, implementasinya memerlukan pendidikan multikultural yang kuat, guru yang berpegang pada nilai Rahmatan lil ‘Alamin, dan kolaborasi lintas pihak.

Tanpa kerukunan, stabilitas sosial sulit terjaga dan kurikulum ini menjadi ikhtiar kolektif membangun Indonesia yang damai.



Sumber: www.kemenag.go.id

Baca juga: Analisis 8 karakter utama bangsa–>

Buka juga: Artikel analisis kebijakan –>>

Madrasah yunandra
Kelas Online Para Pembelajar

Lainya