Madrasah Menghadapi Pendidikan Abad 21

10_Madrasah_menghadapi_model_pendidikan_abad_21

Madrasah dihadapkan model pendidikan abad 21. Perkembangan teknologi merupakan salah satu sebab perubahan paradigm baru pendidikan abad 21. Madrasah sebagai sekolah umum berciri kan Islam tidak akan lepas menghadapi tantangan tersebut. Strategi pengembangan madrasah menjadi tuntutan mutlak dalam rangka mengantisipasi visi pendidikan abad 21 tersebut.

Pada pertemuan rutin Kelompok Kerja Kepala Madrasah Ibtidaiyah (KKKMI) kecamatan Cilandak, hari Senin 17 Juni 2013, bertempat di Madrasah Ibtidaiyah Manaratul Islam (MANIS) di Gandaria Selatan, menjelaskan tentang model pengajaran abad 21.

Ciri pengajaran abad 21 adalah banyaknya sumber belajar lewat internet. Peserta didik mendapatkan sumber belajar dan informasi dengan mudah dengan menggunakan search engine seperti google, bing atau yahoo. Selain itu, model pengajaran abad 21, system komunikasi antar peserta didik bisa menggunkan saran chatting melalui social media seperti facebook dan twitter. Bahkan, peserta didik bisa bertukar informasi menggunakan email seperti gmail dan yahoo.

Sebelum menjelaskan model pengajaran abad 21, para kepala madrasah ibtidaiyah kecamatan Cilandak,ditanya tentang “lentera jiwa” nya. Pertanyaan yang dilontarkan kepada kepala madrasah adalah apakah merasa nyaman menjadi kepala Madrasah?. Salah satu tanda kenyamanya dapat dilihat dari totalitas kerja mengembangkan madrasah. Jika muncul sebaliknya, maka perlu dipertanyakan “lentera jiwa”nya.

Jawaban pertanyaan tersebut sangat dibutuhkan, karena kepala madrasah merupakan top leader pengembangan madrasah. Kondisi pendidikan abad 21  menantang kepala madrasah untuk dapat merencanakan strategi pengembangan madrasah yang sesuai dengan model pengajaran abad 21 tersebut.

Pemahaman terhadap perubahan model pengajaran abad 21, akan membuat kepala madrasah tidak antipati terhadap perubahan kurikulum 2013. Perubahan kurikulum menjadi hal yang biasa dilakukan karena adanya perubahan tuntutan zaman.

Kurikulum 2013, seperti yang disosialisasikan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (kemendikbud), memiliki ciri khas yang cocok dengan perubahan visi pendidikan abad 21. Ciri pertama adalah informasi tersedia dimana saja dan kapan saja. Model Pembelajaran diarahkan untuk mendorong peserta didik mencari tahu dari berbagai sumber observasi, bukan diberi tahu.

Ciri kedua adalah Komputasi (lebih cepat memakai mesin). Model Pembelajaran diarahkan untuk mampu merumuskan masalah [menanya], bukan hanya  menyelesaikan masalah [menjawab].

Ciri ketiga adalah Otomasi (menjangkau segala pekerjaan rutin). Model Pembelajaran diarahkan untuk melatih berfikir analitis [pengambilan keputusan] bukan berfikir mekanistis [rutin].

Ciri keempat adalah Komunikasi (dari mana saja, ke mana saja). Model Pembelajaran menekankan pentingnya kerjasama dan kolaborasi dalam menyelesaikan masalah.

Sehingga kerangka kompetensi abad 21 adalah berpengetahuan [melalui core subjects] saja tidak cukup, harus dilengkapi Berkemampuan kreatif – kritis dan Berkarakter kuat [bertanggung jawab, sosial, toleran, produktif, adaptif,...]. Disamping itu didukung dengan kemampuan memanfaatkan informasi dan berkomunikasi.

Pemerintah menghadapi pro kontra dalam rangka menerapkan kurikulum 2013. Proses sosialisasi mulai menemukan titik temu dengan disahkannya peraturan pemerintah (PP) no 32 tahun 2013 tentang perubahan PP 19 tahun 2005 tentang Standar nasional Pendidikan (SNP). Inti perubahan PP tersebut adalah pada empat Standar yaitu Standar kompetensi Lulusan (SKL) standar Isi (SI), standar proses, dan standar penilaian. Perbedaan yang paling Nampak adalah adanya bab XIA tentang Kurikulum.

Pada tahun pelajaran 2013-2014, walaupun kementerian agama (kemenag) belum melaksanakan kurikulum 2013, madrasah perlu mempersiapkan diri dari sekarang, Karena tuntutan pendidikan abad 21 sedang berjalan dan tidak dapat dihindari.

Untuk mengatisipasi tersebut, ada beberapa program pengembangan madrasah yang akan dilaksanakan pada tahun pelajaran ini. Program tersebut adalah

  1. Sosialisasi program unggulan per madrasah. Program ini bertujuan melatih kepala madrasah merencanakan program unggulan madrasahnya. Metode yang digunakan adalah presentasi program unggulan yang disampaikan oleh kepala madrasah di tiap pertemua rutin bulanan. Penanggung jawab program ini adalah ketua KKMI CIlandak Fudhali, S.Ag ( kepala MI Al Hurriyah )
  2. Pembentuk tim Trainer. Program ini ditujukan bagi madrasah-madrasah yang terlibat dalam program akreditasi kementerian agama yang didukung oleh AusAid-SSQ. Tujuannya adalah terbentuk tim trainer yang memiliki kompetensi sesuai dengan program akreditasi. Selanjutnya tim ini akan mampu membina madrasah-madrasah lain yang tidak terlibat dalam program tersebut. Proses pelaksanaanya adalah dengan mengirim 2 guru dari tiap madrasah untuk menjadi tim trainer. Tugasnya menguasai materi-materi program akreditasi dan selalu mengadakan konsultasi secara intensif dengan tim tutor AusAid-SSQ. Penanggung jawab program ini adalah Mahyudin ( Kepala MI AL Ihsan)
  3. Program B Arab dan AL Quran. Program ini ditujukan bagi guru-guru Bahasa Arab dan Al Quran. Tujuannya menyusun kurikulum bahasa Arab dan Al Qur’an serta meningkatkan profesionalisme guru bahasa arab dan AL Qur’an. Penanggunjawab program ini adalah Burhanuddin (Kepala MI Unwanul Huda)
  4. Program ICT Madrasah. Program ini ditujukan bagi tim operator madrasah. Tujuannya memiliki website khusus KKMI Cilandak yang berisi tentang informasi madrasah dan pembelajaran online madrasah ibtidaiyah. Tugas operator adalah menjadi tenaga administrasi yang mengoperasikan website KKMI Cilandak. Penanggungjawab program ini adalah Ahmad Zamroni, S.Ag ( Guru MI Nurul Huda)

Semoga program diatas menjadi awal persiapan madrasah menghadapi perubahan paradigm pendidikan abad 21. Madrasah menjadi pelopor perubahan pedidikan di Indonesia. Amin

========================

 

 

 

  245

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply