Pembelajaran Jarak Jauh Pada Pendidikan Islam: Strategi Digital Berbasis Islam
yunandracom. Pembelajaran jarak Jauh mulai masif saat pandemi Covid 19 melanda Indonesia. Semua aktivitas manusia terhenti termasuk pendidikan.
Lembaga Pendidikan termasuk madrasah dan pesantren terhenti kegiatan belajar mengajar sehingga muncul istilah Belajar dari rumah (BDR).
Sekarang ini istilah pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau pembelajaran daring mulai sering terdengar. Terutama saat kondisi tidak memungkinkan pembelajaran tatap muka berjalan. seperti bencana alam atau kondisi sekolah dalam proses rehab atau pembangunan.
Seperti saat ini, Setelah BMKG menyampaikan kondisi cuaca yang ekstrim, Pemerintah Daerah memutuskan untuk pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau daring. Termasuk Pemda DK Jakarta dan Kanwil Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta memutuskan sekolah dan madrasah mengadakan pembejaran jarak jauh mulai tanggal 23 sampai dengan 28 Januari 2026
Pengertian Pembelajaran Jarak Jauh
Secara regulasi, pengertian pembelajaran jarak jauh tertulis di UU 12 Tahun 2012 tentang pendidikan tinggi dengan menggunakan istilah pendidikan jarak jauh.
Pasal 31 menyebutkan bahwa Pendidikan jarak jauh merupakan proses belajar mengajar yang dilakukan secara jarak jauh melalui penggunaan berbagai media komunikasi.
Latar Belakang
Pembelajaran jarak jauh memberikan fleksibilitas bagi masyarakat untuk mendapatkan hak pendidikan.
Dengan perbedaan kondisi dan cuaca tidak menentu, kebijakan pendidikan jarak jauh memberikan kesempatan kepada satuan pendidikan Islam melakukan fleksibiltas dalam proses pembelajaran.
PJJ memberikan manfaat dalam mencapai tujuan pendidikan jarak jauh.
Karakteristik Pembelajaran Jarak Jauh
Berdasarkan berbagai sumber, karakteristik utama Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang umum berjalan di lembaga pendidikan Islam yaitu
- Bebas ruang dan waktu. Pembelajaran dapat berjalan dari mana saja dan kapan saja sesuai kesepakatan, tidak terbatas pada ruang kelas fisik.
- Berbasis teknologi digital. PJJ memanfaatkan perangkat digital, internet, dan platform pembelajaran daring sebagai sarana utama.
- Interaksi tidak langsung. Interaksi guru dan peserta didik berlangsung secara daring, baik secara sinkron (langsung) maupun asinkron (tidak langsung).
- Kemandirian belajar. Peserta didik perlu memiliki sikap mandiri, disiplin, dan bertanggung jawab dalam mengelola waktu serta tugas belajar.
- Digitalisasi Materi pembelajaran. Bahan ajar tersedia dalam bentuk digital seperti modul, video, audio, dan media interaktif.
- Evaluasi berbasis proses dan hasil. Penilaian tidak hanya menekankan hasil akhir, tetapi juga proses belajar, partisipasi, dan keterlibatan siswa.
- Fleksibel dan adaptif. PJJ mudah menyesuaikan dengan kondisi peserta didik, ketersediaan teknologi, dan kebutuhan satuan pendidikan.
Untuk tahu metode pendidikan Islam lainnya, SIlahkan baca: Modifikasi Metode dan Strategi Pendidika Islam di Era Digital
Sumber: UU Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan

Metode Pembelajaran
- Model CINTA: Lahir dari Bintek Kurikulum Berbasis Cinta di FKMA

- Mindset, Skillset, dan Toolset: Strategi Madrasah di Era Digital

- Apa itu Appreciative Inquiry (AI) dalam Panduan Kurikulum Berbasis Cinta

- 5K Strategi Komunikasi Program Unggulan Madrasah

- 5 Alasan Guru Perlu Menerapkan Metode Flipped Classroom
- Pendekatan 5M Pada Alur Kegiatan P5 Kurikulum Merdeka

Artikel Terbaru
- Memahami Tujuan Upacara Bendera di Sekolah atau Madrasah
- Pembelajaran Jarak Jauh Pada Pendidikan Islam: Strategi Digital Berbasis Islam
- Kenapa Tampilan Website WordPress Berubah Ke Tampilan Lama?
- Memahami Arti Indonesia Emas 2045: Visi, Misi, Arah dan Indikator Utama
- 4 Indikator Budaya dan Ciri Sekolah Aman dan Nyaman
- 20+ Aplikasi AI Terbaik untuk Riset Akademik dan Penulisan Ilmiah Pendidikan Islam
| Ingin Meningkatkan Kompetensi Secara Mandiri, Silahkan belajar di madrasahyunandra.com |
| Buka |





