Apa itu Appreciative Inquiry (AI) dalam Panduan Kurikulum Berbasis Cinta
yunandracom. Panduan kurikulum berbasis cinta (KBC) telah terbit. Ruang lingkup panduan tersebut menggunakan pendekatan Appreciative Inquiry (AI) dengan 4 langkah. Lalu apa itu Appreciative Inquiry (AI)?
Baca lengkap: Panduan Lengkap Kurikulum Berbasis Cinta
Tulisan ini mencoba menganalisa pendekatan Appreciative Inquiry yang kategori Pengembangan Lembaga Pendidikan Islam yang tersedia di yunandra.com
Pengembangan Lembaga Pendidikan Islam menjadi sasaran inovasi pendidikan Islam di era Digital
Untuk mengetahui Kerangka Besar pembaharuan, silahkan buka Strategi Inovasi Pendidikan Islam
Pendekatan Appreciative Inquiry (AI)
Appreciative Inquiry (AI sebuah metode pengembangan organisasi dan perubahan sosial yang berbasis pada kekuatan (strength-based approach), bukan kelemahan.
Pendekatan Appreciative Inquiry mengenalkan Model 4D (discover, dream, design, destiny). Model 4D merupakan kerangka kerja utama dalam pelaksanaan Appreciative Inquiry. Keempat tahapan tersebut menciptakan siklus refleksi dan aksi yang berkesinambungan.
1. Discover (Menemukan)
Tahap ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengeksplorasi pengalaman positif, kekuatan, nilai-nilai, dan capaian terbaik yang pernah terjadi dalam organisasi atau individu.
Pendekatan ini menggunakan pertanyaan-pertanyaan apresiatif untuk menggali narasi keberhasilan dan praktik baik yang sudah ada.
Contoh:
- Kapan Anda merasa paling bangga dengan pekerjaan Anda?
- Apa yang membuat momen itu berhasil?
2. Dream (Memimpikan)
Berdasarkan kekuatan yang ditemukan pada tahap discover, tahap ini mendorong individu atau organisasi untuk membayangkan masa depan ideal yang ingin dicapai.
Visualisasi positif ini menjadi dasar untuk merancang arah strategis perubahan yang diinginkan.
Contoh:
- Menyusun visi kolektif tentang sekolah ideal yang menginspirasi.
- Menulis narasi masa depan:
- “Sekolah impian saya adalah…”
3. Design (Merancang)
Tahap perancangan berfokus pada penciptaan struktur, sistem, dan strategi yang dapat mendukung tercapainya visi tersebut.
Dalam konteks pendidikan, ini dapat berupa perencanaan kurikulum, program peningkatan kompetensi guru, atau desain lingkungan belajar yang inovatif.
Contoh:
- Mendesain program pembelajaran yang berbasis kekuatan siswa.
- Membuat kebijakan sekolah yang mendukung budaya kolaboratif
4. Destiny/Deliver (Mengaktualisasikan)
Tahap ini merupakan implementasi dan pelestarian perubahan yang telah dirancang.
Fokusnya adalah pada pemberdayaan partisipan, kolaborasi berkelanjutan, serta evaluasi adaptif untuk memastikan perubahan berjalan secara organik dan berkelanjutan.
Contoh:
- Membentuk komunitas praktik antar guru.
- Monitoring dan refleksi berkala terhadap implementasi program.
Untuk mengetahui Framework Pengembangan lebih dalam, silahkan berkujung ke: Inovasi Pengembangan Lembaga Pendidikan Islam
Sumber: Panduan Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta di Madrasah
Framework Pengembangan Lembaga Pendidikan
- 4 Disiplin Eksekusi: Strategi Optimalisasi Rapat Kerja (Raker) Lembaga Pendidikan
- Strategic Luck Jiang: Implementasi Rumus Keberuntungan dalam Pendidikan Islam
- Apa itu Appreciative Inquiry (AI) dalam Panduan Kurikulum Berbasis Cinta
- Apa Itu The Tipping Point Gladwell?, Pengertian dan 3 Elemen Kunci
Artikel Terbaru
- Apa Tugas Pengurus Pokjawasnas Madrasah 2026-2030?
- KBC Pendidikan Nilai: Refleksi Workshop di KKGMI Palmerah Jakarta Barat
- 4 Strategi Mengelola Otak (Talenta) Untuk Kemajuan Bangsa: Studi Kasus 4 Negara
- Refleksi FGD Merumuskan Peta Jalan Madrasah Vokasi
- Sosialisasi KMA 512 Tahun 2026 Pedoman KBC di Webinar APPAKSI
- Uji Kompetensi Kenaikan Jabatan Fungsional guru dan pengawas
| Ingin Meningkatkan Kompetensi Secara Mandiri, Silahkan belajar di madrasahyunandra.com |
| Buka |

