Fasilitator

KBC Pendidikan Nilai: Refleksi Workshop di KKGMI Palmerah Jakarta Barat

yunandracom. Pada Sabtu, 15 Agustus 2026, Penulis berkesempatan menjadi fasilitator dalam Workshop Pengembangan Profesi Guru KKGMI Palmerah Jakarta Barat. Kegiatan berlangsung di Aula Muhajirin, Slipi, Jakarta Barat, dan diikuti oleh guru-guru madrasah ibtidaiyah yang tergabung dalam KKGMI Palmerah.

Tulisan ini merupakan refleksi penulis sebagai fasilitator dari 10 peran pengawas madrasah yang multi peran.

Baca: 10 Peran Pengawas Madrasah sebagai JF Multiperan

Harapannya, refleksi ini menjadi penguatan bagi guru-guru MI di Palmerah dan inspirasi bagi guru, kepala, dan pengawas madrasah.

Buku Terbaru

KKGMI Palmerah dipimpin oleh Anton Timur dan berada dalam pembinaan Pengawas Madrasah, Andiansyah.

Workshop kali ini membahas Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dan kokurikuler.

Namun, bagi penulis, inti kegiatan bukan sekadar memahami konsep atau menghasilkan perangkat pembelajaran.

Lebih dari itu, pelatihan ini menjadi kesempatan untuk mengajak guru kembali melihat hakikat tugasnya sebagai pendidik.

KMA 512 Tahun 2026 telah memberikan definisi atau pengertian bahwa KBC adalah sebagai pendidikan nilai. Artinya menurut Penulis, pendidikan tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi berusaha menanamkan nilai yang dipahami, dihayati, dipraktikkan, dan akhirnya menjadi bagian dari sikap serta karakter peserta didik.

Lihat regulasi: KMA 512 Tahun 2026 Pedoman Kurikulum Berbasis Cinta (KBC)


Salah satu hal menarik dari kegiatan ini adalah semangat KKGMI Palmerah dalam meningkatkan kualitas pendidikan madrasah.

Pengawas Madrasah, Andiansyah, memiliki inovasi “Lulus MI Bisa Ngaji”. Gagasannya sederhana yang menguatkan peserta didik yang menyelesaikan pendidikan di MI diharapkan memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an.

Baca Al Qur’an dan Kompetensi 531

Program Lulus MI Bisa Ngaji sesuai dengan gagasan penulis pada konsep “Madrasah Minimalis” yang memperkenalkan kompetensi 531.

Kompetensi yang memiliki prinsip mudah, murah, dan lestari. Sehingga semua madrasah mampu menerapkannya.

Baca Al Qur’an merupakan salah satu dari 5 kompetensi kategori keagamaan.

Baca: Kompetensi 531, Keterampilan Siswa Madrasah Lintas Generasi

Pendidikan Madrasah Tidak Hanya tentang Nilai Akademik

Gagasan tersebut mengingatkan kita bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari nilai akademik.

Anak perlu memiliki pengetahuan, tetapi juga membutuhkan nilai, sikap, karakter, dan kebiasaan baik.

Seorang anak yang lulus madrasah diharapkan tidak hanya tahu, tetapi juga mampu dan mau melakukan kebaikan.

Di sinilah pendidikan nilai menjadi penting.


Di Awal pertemuan, penulis menyampaikan tentang perubahan kurikulum di Indonesia. Dalam kurun 10 tahun terakhir ini terjadi beberapa penyempurnaan, kalau tidak cocok dengan kata “perubahan kurikulum“.

Kurikulum Sering Dipahami sebagai Pergantian Dokumen

Di lapangan, perubahan kurikulum sering kali pertama-tama dirasakan sebagai perubahan dokumen.

Istilah berubah, format perangkat berubah, struktur pembelajaran berubah, dan guru kembali diminta menyesuaikan administrasi.

Akibatnya, perubahan kurikulum kadang dipahami sebagai:

“Kurikulum berubah, maka dokumen pembelajaran juga harus berubah.”

Padahal, perubahan yang lebih penting justru terjadi di dalam diri guru.

Inti Perubahan Kurikulum adalah Perubahan Paradigma Guru

Kurikulum pada dasarnya bukan hanya dokumen. Kurikulum adalah arah tentang peserta didik seperti apa yang ingin dibentuk dan pengalaman pendidikan seperti apa yang perlu diberikan kepada mereka.

Karena itu, ketika kurikulum berubah, yang seharusnya berubah bukan hanya dokumen guru, tetapi juga cara guru memandang peserta didik, pembelajaran, dan tugasnya sebagai pendidik.

Perubahan paradigma inilah yang kemudian memengaruhi cara guru merancang pembelajaran, memilih kegiatan, berinteraksi dengan peserta didik, melakukan asesmen, dan membangun budaya madrasah.

Dari “Membuat Perangkat” Menjadi “Merancang Pengalaman Pendidikan”

Perubahan mindset guru dapat terlihat dari perubahan pertanyaan.

Sebelumnya guru mungkin bertanya:

“Modul ajarnya bagaimana?”

Kemudian berubah menjadi:

“Pengalaman apa yang perlu dialami peserta didik agar nilai dan kompetensi yang dituju benar-benar berkembang?”

Perubahan pertanyaan tersebut sederhana, tetapi memiliki dampak besar.

Guru tidak lagi hanya berpikir tentang dokumen yang harus dibuat, tetapi tentang peserta didik yang harus berkembang.


KBC sebagai Pendidikan Nilai KBC memberikan perspektif bahwa pendidikan harus menghadirkan nilai dalam seluruh proses pendidikan.

Nilai tidak cukup ditulis dalam tujuan pembelajaran atau dicantumkan dalam modul ajar. Nilai perlu dihidupkan dalam pengalaman peserta didik.

Enam Nilai Dasar dalam KBC

Dalam pembahasan KBC, terdapat enam nilai dasar yang menjadi bagian penting dalam pendidikan, yaitu:

  • Nilai spiritual
  • Nilai personal
  • Nilai sosial
  • Nilai ekologi
  • Nilai kebangsaan
  • Nilai intelektual

Keenam nilai tersebut membantu guru melihat peserta didik secara utuh.

Anak tidak hanya perlu berkembang secara intelektual. Ia juga perlu memiliki hubungan yang baik dengan Allah, dengan dirinya sendiri, dengan orang lain, dengan alam, dan dengan bangsa.

Panca Cinta sebagai Ekspresi Nilai

Nilai-nilai tersebut juga dapat dihidupkan melalui Panca Cinta, yaitu:

  • cinta Allah dan rasul-Nya;
  • cinta ilmu;
  • cinta diri dan sesama;
  • cinta alam; dan
  • cinta tanah air.

Panca Cinta membuat pendidikan nilai lebih dekat dengan kehidupan peserta didik.

Nilai tidak berhenti sebagai konsep yang abstrak. Guru dapat mengajak peserta didik menemukan bagaimana cinta kepada Allah, cinta ilmu, cinta kepada sesama, cinta alam, dan cinta tanah air diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.


Pendidikan nilai pada akhirnya perlu terlihat dalam perkembangan peserta didik.

Prosesnya menggunakan konsep 833 pada pembelajaran mendalam yaitu 8 Dimensi Profil Lulusan, 3 prinsip, dan 3 kerangka pembelajaran.

8 Dimensi Profil Lulusan sebagai Arah Perkembangan Peserta Didik

Pembahasan KBC berkaitan erat dengan 8 dimensi Profil Lulusan, yaitu:

  • Beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa
  • Kewargaan
  • Penalaran kritis
  • Kreativitas
  • Kemandirian
  • Kolaborasi
  • Kesehatan
  • Komunikasi

Delapan dimensi tersebut memberikan gambaran tentang peserta didik seperti apa yang ingin dihasilkan oleh pendidikan.

Artinya, ketika guru merancang sebuah kegiatan, pertanyaannya tidak cukup:

“Kegiatan apa yang akan dilakukan anak?”

Tetapi perlu dilanjutkan dengan pertanyaan:

“Kompetensi apa yang ingin berkembang melalui kegiatan tersebut?”

Pertanyaan ini menjadi sangat penting ketika guru merancang kegiatan kokurikuler.

3 Prinsip Pembelajaran Mendalam: Mindful, Meaningful, dan Joyful

Pendidikan nilai juga membutuhkan proses pembelajaran yang tepat dengan 3 prinsip pembelajaran mendalam yaitu

  1. Mindful yaitu Belajar dengan Kesadaran.
  2. Meaningful yaitu Belajar yang Bermakna.
  3. Joyful yaitu Belajar dengan Perasaan Positif.

Nilai akan lebih mudah dihayati ketika peserta didik menyadari dan mengalaminya dalam konteks kehidupan mereka sendiri serta belajar dengan perasaan positif atau senang gembira.

3 Kerangka Pembelajaran: Memahami, mengaplikasikan, dan Merefleksikan

Pembelajaran mendalam dalam pendidikan nilai tidak berhenti pada memahami konsep.

Ada tiga proses yang penting, yaitu

  1. Memahami. Peserta didik perlu mengetahui dan memahami makna nilai KBC.
  2. Mengaplikasikan. Peserta didik mendapatkan ruang untuk mewujudkan nilai-nilai KBC dalam tindakan.
  3. Merefleksikan. Peserta didik diajak melihat kembali apa yang sudah dilakukan.

Salah satu refleksi penting dalam pendidikan nilai adalah bahwa nilai tidak akan terbentuk hanya melalui satu kegiatan.

Nilai membutuhkan proses yang berulang dan konsisten dengan 4 tahap

  • Kegiatan pendidikan nilai dapat dimulai dari pembiasaan.
  • Ketika pembiasaan dilakukan secara konsisten, kegiatan tersebut dapat berkembang menjadi kebiasaan.
  • Kebiasaan positif yang terus berkembang dapat menjadi bagian dari karakter.
  • Jika nilai dan karakter tersebut hidup secara bersama-sama dalam lingkungan madrasah, terbentuklah budaya.

Baca: Tahapan Pembiasaan Membentuk Karakter Menurut Mendikdasmen


Di sinilah pembahasan kokurikuler menjadi sangat relevan.

Kokurikuler dapat menjadi ruang bagi peserta didik untuk mempraktikkan nilai melalui pengalaman yang dirancang oleh madrasah.

Perbedaan Intrakurikuler dan Kokurikuler

Dalam workshop dibahas bahwa intrakurikuler dan kokurikuler memiliki perbedaan dari sisi kompetensi, muatan pembelajaran, dan alokasi waktu.

AspekIntrakurikulerKokurikuler
KompetensiCapaian PembelajaranDimensi Profil Lulusan
MuatanMuatan mata pelajaranTema yang ditentukan madrasah
Alokasi waktuSesuai struktur kurikulum per 1 Tahunstruktur kurikulum per (1 Tahun)

Perbedaan ini perlu dipahami agar guru tidak menyamakan semua kegiatan pendidikan sebagai kegiatan intrakurikuler.

Perbedaan Intrakurikuler dan Pembiasaan

Kokurikuler dirancang dengan tujuan, proses, serta refleksi atau evaluasi dan tindak lanjut.

Sementara pembiasaan lebih merupakan kegiatan yang dilakukan secara rutin untuk membangun budaya positif.

Karena itu, tidak semua pembiasaan otomatis menjadi kokurikuler.

Namun, pembiasaan yang dirancang kembali dengan tujuan, proses, dan refleksi dapat dikembangkan menjadi program kokurikuler.


Penulis menggunakan metode Flipped Classroom dan experiental learning dalam kegiatan workshop, serta strategi pengembangan Pembiasaan menjadi kokurikuler

Flipped Classroom Berbasis LMS dalam Workshop KKGMI Palmerah

Lihat Kelas Online KKGMI Palmerah

Adapun tahapan Flipped Classroom di Madrasah yunandraCom sebagai berikut

  • Before Classroom (Belajar Sebelum Bertemu). Gutu mempelajari materi KBC melalui LMS sebelum kegiatan tatap muka. Materi terdiri dari 6 nilai dasar KBC dengan pembelajaran refleksi. Fokus kepada perubahan mindset guru.
  • Belajar Tatap Muka. Ketika bertemu di Aula Muhajirin, waktu pelatihan dapat digunakan untuk melakukan refleksi, penguatan, diskusi, dan kerja kelompok. Model ini membuat pertemuan tatap muka tidak hanya menjadi tempat untuk mendengarkan materi. Pertemuan menjadi ruang untuk mengolah pengalaman dan menghasilkan pemahaman yang lebih mendalam.
  • Belajar setelah Bertemu. Kegiatan tindak lanjut setelah tatap muka.

Baca: Konsep Metode Flipped Classroom pada Pembelajaran Jarak Jauh

Experiential Learning untuk Mengubah Mindset Guru

Materi KBC di LMS MadrasahYunandra dirancang dengan pendekatan experiential learning. Fokusnya bukan langsung meminta guru membuat modul ajar, tapi melakukan refleksi dengan mengikuti kegiatan yang tersedia di LMS.

Experiental Learning terdiri dari 4 tahap yaitu

  1. Pengalaman Konkret (Concrete Experience)
  2. Observasi Reflektif (Reflective Observation)
  3. Konseptualisasi Abstrak (Abstract Conceptualization)
  4. Eksperimen Aktif (Active Experimentation

Pada pelatihan KBC di Pusbangkom terkenal dengan istilah ARKA yaitu Aktivitas, refleksi, konseptual, dan aplikasi.

Baca: ARKA: Tahapan Pelatihan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC)

Mengubah Pembiasaan Menjadi Kokurikuler

Gagasan inilah yang kemudian menjadi salah satu aktivitas utama dalam workshop.

Guru diajak melihat kembali kegiatan pembiasaan yang sudah dilakukan di madrasah.

Bukan untuk sekadar mengganti namanya menjadi kokurikuler, tetapi untuk melihat kemungkinan pengembangannya sebagai pengalaman belajar yang terencana.

Proses perubahannya dengan 3 tahapan.

  • Menentukan Tujuan dan Dimensi Profil Lulusan. Madrasah terlebih dahulu menentukan tujuan kegiatan. Kemudian menentukan dimensi Profil Lulusan yang akan dikembangkan. Dengan demikian, kegiatan memiliki arah yang jelas.
  • Merancang Pengalaman Belajar. Selanjutnya Madrasah merancang proses.Peserta didik perlu mendapatkan pengalaman untuk memahami dan mempraktikkan nilai. Di sinilah prinsip mindful, meaningful, dan joyful dapat diterapkan.
  • Mengakhiri Kegiatan dengan Refleksi. Setelah kegiatan selesai, guru mengajak peserta didik melakukan refleksi.Refleksi menjadi bagian penting karena melalui refleksi peserta didik dapat menyadari pengalaman dan nilai yang telah mereka pelajari.

Secara umum, workshop dilakukan melalui dua langkah utama;

Tahap Pertama: Refleksi Materi KBC di LMS

Peserta mengerjakan kegiatan refleksi materi KBC di LMS MadrasahYunandra. Setelah itu dilakukan refleksi dan penguatan bersama. Tujuannya bukan sekadar memastikan peserta memahami materi, tetapi membantu guru menemukan hubungan antara nilai KBC dengan tugas dan praktiknya sebagai pendidik.

Tahap Kedua: Mengembangkan Pembiasaan Menjadi Kokurikuler

Tahap kedua dilakukan secara berkelompok.Guru memilih kegiatan pembiasaan yang selama ini dilakukan di madrasah.

Kemudian kegiatan tersebut dikembangkan dengan merumuskan tujuan, menentukan dimensi Profil Lulusan, menyusun proses kegiatan, serta menyiapkan refleksi dan evaluasi tindak lanjut.


Workshop Tanpa Membuat Perangkat

Workshop ini kembali mengingatkan Penulis bahwa pelatihan guru tidak selalu harus dimulai dari membuat perangkat pembelajaran.

Perangkat memang penting.Tetapi ada sesuatu yang lebih mendasar: kesadaran guru tentang nilai dan tujuan pendidikan.

Jika mindset guru berubah, perangkat pembelajaran dapat mengikuti.

Jika guru memahami bahwa KBC adalah pendidikan nilai, maka nilai tidak lagi sekadar ditulis dalam dokumen. Nilai akan dicari dalam pengalaman belajar, pembiasaan, kokurikuler, keteladanan, dan budaya madrasah.

KBC, Kokurikuler, dan Pendidikan Nilai yang Hidup

Dari workshop KKGMI Palmerah ini, Penulis membawa satu kesimpulan sederhana. Pendidikan nilai bukan sekadar mengajarkan nilai.

  • Pendidikan nilai adalah membuat nilai hidup dalam pengalaman peserta didik.
  • KBC memberikan nilai yang hendak dihidupkan.
  • Panca Cinta memberikan arah ekspresi nilai tersebut.
  • Delapan dimensi Profil Lulusan memberikan gambaran kompetensi yang ingin dikembangkan.
  • Pembelajaran mendalam memberikan prinsip mindful, meaningful, dan joyful.
  • Proses memahami, mempraktikkan, dan merefleksikan membantu peserta didik mengalami nilai secara lebih utuh.
  • Sementara pembiasaan yang konsisten dapat berkembang menjadi kebiasaan, karakter, dan akhirnya budaya.
  • Dan kokurikuler dapat menjadi salah satu ruang penting untuk mewujudkan proses tersebut.

Pada akhirnya, penulis kembali pada satu keyakinan sederhana:

Guru bukan hanya mengajarkan apa yang harus diketahui anak. Guru membantu anak mengalami nilai yang kemudian menjadi bagian dari dirinya.


Untuk melihat refleksi lainnya, silahkan buka Catatan Refleksi Sebagai Fasilitator

Madrasah yunandra
Kelas Online Pengawas Madrasah

Artikel Terbaru

Ingin Meningkatkan Kompetensi
Secara Mandiri
,

Silahkan belajar
di madrasahyunandra.com
Buka