GuruKepalaPengawas

Growth Level: Tingkatan Kompetensi GTK Madrasah

yunandracom. Growth Level atau Tingkatan Bertumbuh Kompetensi merupakan gagasan yang muncul saat saya mengikuti kegiatan FGD PKB Guru Madrasah.

Kegiatan Direktorat GTK Madrasah Bidang Madrasah Aliyah dengan dukungan dari INOVASI untuk merancang program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) GTK Madrasah.

Saya coba menawarkan leveling atau tahapan kompetensi guru, kepala dan pengawas madrasah dengan istilah Growth Level.

Tulisan ini menjadi usaha untuk menjadikan Growth Level atau Tahapan Bertumbuh sebagai konsep yang utuh secara akademik.

Madrasah yunandra
Kelas Online Pengawas Madrasah

Konsep Growth Level atau Tingkatan Bertumbuh lahir dari diskusi desain PKB GTK Madrasah yang menekankan bahwa pengembangan kompetensi tidak cukup bersifat administratif, tetapi harus bertahap, terukur, dan berorientasi pada pertumbuhan profesional.

Secara komparatif, Filipina telah memiliki sistem tingkatan kompetensi sebagai dasar pengembangan karier guru. Di Indonesia, kerangka tersebut ditegaskan melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi dalam Perdirjen GTK Kemendikbudristek Nomor 2626 Tahun 2023 tentang Model Kompetensi Guru. (Lihat Perdirjen 2626)

Regulasi tersebut menetapkan lima level kompetensi:

  • Memahami
  • Mempraktikkan
  • Mengevaluasi
  • Kolaborasi
  • Berbagi

Kelima level ini menunjukkan progres dari penguasaan konsep menuju kontribusi kolektif.

Dalam konteks madrasah, diskusi penguatan kompetensi juga mencakup optimalisasi sinergi platform MAGIS dan PINTAR sebagai instrumen implementasi PKB berbasis komunitas (KKG/MGMP/KKM/Pokjawas). Strategi pembelajaran yang dipadukan adalah model Inโ€“Onโ€“In dan Flipped Learning (pembelajaran terbalik).

Dari integrasi regulasi, platform, dan strategi tersebut lahirlah konsep Growth Level, yakni tahapan kompetensi guru, kepala, dan pengawas madrasah yang bertumbuh secara berkelanjutan.

Secara konseptual, Growth Level bertumpu pada tiga landasan:

  1. teori growth mindset,
  2. tanggung jawab profesi, dan
  3. tingkatan karier GTK

Teori Growth Mindset

Konsep growth mindset dikembangkan oleh Carol Dweck sebagai tandingan dari fixed mindset.

Growth mindset adalah pola pikir yang meyakini bahwa kecerdasan, keterampilan, dan potensi diri dapat berkembang melalui usaha, latihan, dan pembelajaran berkelanjutan.

Ciri individu dengan growth mindset antara lain:

  1. Melihat kegagalan sebagai kesempatan belajar.
  2. Berani mencoba hal baru meskipun berisiko gagal.
  3. Menerima kritik sebagai masukan berharga.
  4. Menghargai proses, bukan hanya hasil akhir.

Berdasarkan teori ini, kompetensi GTK madrasah tidak boleh stagnan. Ia harus terus bertumbuh. Maka, Growth Level menjadi kerangka tingkatan kompetensi yang mencerminkan proses pertumbuhan tersebut.

Tanggungjawab Profesi

Profesi guru tidak berhenti pada kemampuan mengajar dan membimbing siswa menjadi unggul. Terdapat tanggung jawab profesional untuk berbagi praktik baik, membangun komunitas belajar, dan meningkatkan mutu secara kolektif.

Dalam perspektif nilai keislaman, setelah memahami dan mengamalkan ilmu, terdapat kewajiban moral untuk menyampaikan dan menyebarluaskannya.

Karena itu, Growth Level tidak hanya memotret peningkatan kemampuan individu, tetapi juga pergeseran peran dari pembelajar, menjadi praktisi reflektif, lalu fasilitator dan maven.

Tingkatan Karier GTK

Secara regulatif, jenjang karier guru terdiri atas guru Pertama, guru Muda, guru Madya, dan Guru Utama.

Namun di samping jenjang administratif tersebut, diperlukan jenjang praktis berbasis kompetensi nyata.

Dalam kerangka Growth Level, perkembangan profesional bergerak dari Pelaksana (mampu menjalankan tugas sesuai standar) menuju Perancang (mampu merancang dan mengevaluasi praktik), hingga Ahli dan Layak Berbagi (mampu menjadi rujukan dan membimbing sejawat).

Dengan demikian, Growth Level menjadi jembatan antara regulasi kompetensi, tanggung jawab profesi, dan pengembangan karier.

Ia bukan sekadar tingkatan administratif, tetapi tahapan pertumbuhan profesional guru, kepala, dan pengawas madrasah, dari pelaksana menjadi ahli yang layak berbagi dan menginspirasi.


Berdasarkan landasan berpikir yang telah diuraikan, Growth Level Kompetensi GTK Madrasah adalah kerangka tahapan perkembangan kompetensi guru, kepala, dan pengawas madrasah yang dirancang secara bertingkat, berkelanjutan, dan berorientasi pada pertumbuhan profesional.

Growth Level menegaskan bahwa kompetensi tidak bersifat statis, melainkan terus bertumbuh seiring proses belajar, praktik, refleksi, kolaborasi, dan kontribusi kepada komunitas.

Dengan demikian, Growth Level bukan sekadar pengukuran kemampuan, tetapi sistem pembinaan yang mendorong peningkatan mutu secara progresif.


Growth Level atau Tingkatan Bertumbuh Kompetensi GTK Madrasah merupakan tahapan perkembangan profesional guru, kepala, dan pengawas yang bergerak secara progresif, dari pembelajar hingga menjadi rujukan dan agen perubahan.

Model ini menegaskan bahwa kompetensi tidak lahir secara instan, tetapi melalui proses bertahap, belajar, merancang, melaksanakan, berinovasi, dan akhirnya berbagi.

Berikut lima level tersebut berdasarkan kerangka growth level:

1. Learner (Pembelajar)

Learner adalah fondasi utama. Pada level ini, GTK Madrasah memiliki kesadaran sebagai pembelajar sepanjang hayat.

Ciri utamanya:

  • Aktif mencari pengetahuan baru.
  • Terbuka terhadap umpan balik.
  • Reflektif terhadap praktiknya sendiri.

Tanpa berada pada level ini, seorang GTK tidak dapat naik ke tingkat berikutnya. Learner adalah akar dari seluruh pertumbuhan kompetensi.

2. Planner (Perancang)

Setelah memiliki kapasitas belajar yang kuat, GTK Madrasah naik ke level Planner.

Pada tahap ini, ia tidak hanya memahami materi, tetapi mampu:

  • Merumuskan perencanaan pembelajaran atau program.
  • Mendesain strategi berdasarkan hasil belajar.
  • Mengintegrasikan teori ke dalam rancangan kerja.

Planner menunjukkan pergeseran dari sekadar memahami menjadi mampu menyusun kerangka tindakan yang sistematis.

3. Implementer (Pelaksana)

Level ketiga adalah Implementer, yaitu kemampuan melaksanakan rancangan secara efektif dan konsisten.

GTK Madrasah pada tahap ini:

  • Menerapkan rencana dalam praktik nyata.
  • Mengelola kelas, program, atau pembinaan dengan optimal.
  • Menunjukkan kinerja profesional yang terukur.

Implementer bukan sekadar pelaksana teknis, tetapi praktisi yang terampil dan matang dalam bidangnya.

4. Inovator (Penggagas Baru)

Setelah mampu melaksanakan dengan baik, tahap berikutnya adalah Inovator.

Pada level ini, GTK Madrasah:

  • Mengembangkan gagasan baru.
  • Memodifikasi atau menyempurnakan praktik yang ada.
  • Menghasilkan pendekatan kreatif untuk meningkatkan mutu.

Inovator tidak hanya menjalankan sistem, tetapi mulai memperkaya dan memperbaruinya.

5. Maven (Ahli dan Suka Berbagi)

Level tertinggi adalah Maven, istilah yang dipopulerkan oleh Malcolm Gladwell untuk menggambarkan individu yang ahli dan senang berbagi pengetahuan.

Pada tahap ini, GTK Madrasah:

  • Menguasai kompetensi secara teori dan praktik.
  • Menjadi rujukan dan pembimbing sejawat.
  • Aktif berbagi praktik baik dan menggerakkan komunitas.

Maven bukan hanya ahli, tetapi juga agen transformasi.

Jika madrasah memiliki banyak GTK pada level Maven, maka ruang transformasi mutu pendidikan akan semakin terbuka.

Maven berperan sebagai agen perubahan (agent of change), penjaga kualitas, sekaligus inspirator komunitas belajar.

Dengan demikian, Growth Level bukan hanya kerangka individu, tetapi strategi kolektif untuk membangun budaya profesional yang bertumbuh dan berdampak.

Baca: 3 Aktor Kunci Perubahan di Tipping Point Malcolm Gladwell


Untuk mengetahui gagasan lain dalam pengembangan profesi guru madrasah, silahkan berkunjung ke Jabatan Fungsional Guru Madrasah


Sumber:

Konsep Madrasah Minimalis Strategi Pengembangan Madrasah
Buku Terbaru

Artikel Terbaru

Ingin Meningkatkan Kompetensi
Secara Mandiri
,

Silahkan belajar
di madrasahyunandra.com
Buka