3 Landasan Pengembangan Kurikulum Berbasis Cinta
yunandracom. Landasan Pengembangan Kurikulum Berbasis Cinta merupakan bagian dari salah satu topik di Panduan Implementasi KBC.
Kurikulum Berbasis CInta (KBC) merupakan kebijakan Kementerian Agama dalam rangka memperkuat kurikulum nasional yang sudah berjalan di madrasah.
Sebagai bagian dari Kebijakan Kurikulum Madrasah, Landasan Pengembangan KBC ini memiliki posisi penting dalam merumuskan Inovasi Pendidikan Islam dari aspek kebijakan Pendidikan Nasional.
Silahkan pelajari berbagai kebijakan nasional di artikel: Kebijakan Pendidikan Nasional
Maka tulisan ini akan menganalisa landasan pengembangan berdasarkan Kepdirjen Pendis Nomor 6077 Tahun tentang Panduan Kurikulum Berbasis Cinta.

Landasan Filosofis
Penyusunan kurikulum sangat bergantung pada filosofi pendidikan yang dianut, sebab ia membentuk visi masyarakat ideal dan manusia yang ingin dicetak (Ornstein & Hunkins, 2018).
Untuk Kurikulum Berbasis Cinta, landasan filosofisnya adalah Pancasila, yang bertujuan mencerdaskan bangsa serta mewujudkan masyarakat Indonesia berlandaskan Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan Sosial.
Secara lebih operasional, kurikulum ini juga berakar pada pemikiran Ki Hajar Dewantara (1928), yang memandang pendidikan sebagai upaya membentuk manusia merdeka. Manusia merdeka adalah pribadi yang mandiri, tidak bergantung pada orang lain, namun tetap menghargai otoritas guru.
Dengan demikian, pembelajaran diarahkan untuk memerdekakan, membangun kemandirian, dan kedaulatan murid.
Berdasarkan pertimbangan di atas, berikut poin landasan filosofis pengembangan Kurikulum Berbasis Cinta.
- Pendidikan di madrasah mendorong tercapainya kemajuan dengan berpegang dan mempertimbangkan konteks Indonesia, terutama akar budaya Indonesia.
- Pendidikan di madrasah diarahkan untuk membentuk manusia Indonesia yang humanis, yang dapat mengoptimalkan potensi diri dengan baik untuk tujuan yang lebih luas dan besar.
- Pendidikan di madrasah responsif terhadap perubahan sosial, ekonomi, politik, dan budaya.
- Keseimbangan antara penguasaan kompetensi dan karakter murid.
- Keleluasaan madrasah dalam menyusun kurikulum dan mengimplementasikannya.
- Pembelajaran perlu melayani keberagaman dan menyesuaikan dengan tingkat perkembangan murid.
- Pelaksanaan pembelajaran diselenggarakan dalam suasana belajar yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi murid untuk berpartisipasi aktif dan memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik, serta psikologis murid.
- Guru memiliki otoritas dalam mendidik murid dan mengimplementasikan kurikulum dalam pembelajaran.
Landasan Sosiologis
Landasan kedua pengembangan Kurikulum Berbasis Cinta adalah landasan sosial.
Panduan Implementasi KBC membahas landasan sosiologi tentang pertimbangan sosiologis, pentingnya faktor budaya, dan Pengembangan lingkungan sosial murid.
3 Pertimbangan Sosiologis Utama
Terdapat tiga pertimbangan sosiologis utama yang membentuk pendidikan adalah revolusi industri 4.0 dan masyarakat 5.0, dinamika global, serta keragaman sosial Indonesia.
1. Revolusi Industri 4.0 dan Masyarakat 5.0
Era digital ini, terdorong oleh Revolusi Industri 4.0, menyebabkan disrupsi besar di berbagai lini kehidupan (Lim, 2019). Hal ini melahirkan gagasan Masyarakat 5.0, sebuah masyarakat kreatif yang memanfaatkan teknologi dan data digital untuk mendorong imajinasi dan inovasi. Masyarakat 5.0 mengintegrasikan teknologi dan manusia secara harmonis, menciptakan dampak positif (Deguchi, dkk., 2020; Yarash dan Ozturk, 2022).
2. Dinamika Global
Pengembangan kurikulum tak bisa lepas dari pengaruh global (Priestley et al., 2021). Perspektif kosmopolitanisme perlu menjadi pegangan, mendorong murid untuk menjadi warga dunia yang peka terhadap masalah global, menghargai keberagaman budaya, dan termotivasi berkontribusi untuk kebaikan bersama (Gunesch, 2004; Hansen, 2008, 2010).
3. Keragaman Sosial Masyarakat Indonesia
Indonesia kaya akan keragaman sosial, budaya, agama, dan etnis, yang merupakan potensi besar untuk kemajuan dan harmoni. Namun, keragaman ini juga rentan memicu konflik sosial, agama, politik, hingga kesenjangan ekonomi (Jones, 2017; Latif, 2011). Selain itu, masalah seperti korupsi, degradasi lingkungan, dan mentalitas kurang mendukung kemajuan masih menjadi tantangan (Bjork, dalam Rusman, 2021). Pendidikan, sebagai proses budaya yang memuliakan manusia, harus membina murid sesuai nilai budayanya dan mengembangkan potensi mereka.
Pentingnya Faktor Kebudayaan
Faktor kebudayaan merupakan bagian yang penting dalam pengembangan kurikulum dengan pertimbangan sebagai berikut.
1. Individu lahir tidak berbudaya
Individu lahir tidak berbudaya, baik dalam hal kebiasaan, cita-cita, sikap, pengetahuan, keterampilan, dan lain sebagainya. Semua itu dapat diperoleh individu melalui interaksi dengan lingkungan budaya, keluarga, masyarakat sekitar, dan tentu saja sekolah/lembaga pendidikan. Oleh karena itu, sekolah/lembaga pendidikan mempunyai tugas khusus untuk memberikan pengalaman kepada para murid dengan salah satu alat yang bernama kurikulum.
2. Kurikulum adalah Refleksi
Kurikulum dalam setiap masyarakat pada dasarnya merupakan refleksi dari cara orang berpikir, berasa, bercita-cita, atau kebiasaan-kebiasaan. Karena itulah, dalam mengembangkan suatu kurikulum perlu memahami kebudayaan. Kebudayaan adalah pola perilaku yang secara umum terdapat dalam satu masyarakat yang meliputi keseluruhan ide, cita-cita, pengetahuan, kepercayaan, cara berpikir, kesenian, dan lain sebagainya.
3. Seluruh nilai adalah kebudayaan
Seluruh nilai yang telah disepakati masyarakat dapat pula disebut kebudayaan. Kebudayaan dapat menjadi suatu konsep yang memiliki kompleksitas tinggi. Kebudayaan adalah hasil dari cipta, rasa, dan karsa manusia yang diwujudkan dalam tiga gejala sebagai berikut.
- Ide, konsep, gagasan, nilai, norma, peraturan, dan lain-lain. Wujud kebudayaan ini bersifat abstrak dan berada dalam alam pikiran manusia serta warga masyarakat di tempat kebudayaan itu berada.
- Kegiatan, yaitu tindakan berpola dari manusia dalam bermasyarakat. Tindakan ini disebut sistem sosial. Dalam sistem sosial, aktivitas manusia sifatnya konkret, bisa dilihat dan diobservasi. Tindakan berpola manusia tentu didasarkan oleh wujud kebudayaan yang pertama. Artinya sistem sosial dalam bentuk aktivitas manusia merupakan refleksi dari ide, konsep, gagasan, nilai, dan norma yang telah dimilikinya.
- Benda hasil karya manusia. Wujud kebudayaan yang ketiga ini ialah seluruh hasil karya manusia di masyarakat. Wujud kebudayaan yang ketiga ini adalah produk dari wujud kebudayaan yang pertama dan kedua.
Fokus Pengembangan Lingkungan Sosial Murid
Pengembangan Kurikulum Berbasis Cinta fokus pada pengembangan murid yang berkaitan dengan lingkungan sosial setempat.
Lingkungan sosial budaya merupakan sumber daya yang mencakup kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi.
Berdasarkan uraian di atas, sangatlah penting memerhatikan faktor kebutuhan masyarakat dalam pengembangan kurikulum.
Salah satu ciri masyarakat adalah selalu berkembang. Perkembangan masyarakat terpengaruhi oleh falsafah hidup, nilai-nilai, IPTEK, dan kebutuhan yang ada dalam masyarakat. Perkembangan masyarakat menuntut tersedianya proses pendidikan yang relevan.
Untuk menciptakan proses pendidikan yang sesuai dengan perkembangan masyarakat maka perlu rancangan kurikulum yang landasan pengembangannya memerhatikan faktor perkembangan masyarakat.
Landasan Psikopedagogis
Psikologi Pengembangan kurikulum mutlak memerlukan landasan psikologi, sebab psikologi mempelajari tingkah laku manusia dan kurikulum adalah program untuk mengubah perilaku tersebut.
Tujuannya adalah memastikan pendidikan sesuai dengan hakikat murid yang sedang berkembang secara fisik, intelektual, sosial, emosional, dan moral. dan guru bertugas mengoptimalkan perkembangan ini.
Landasan psikopedagogis (gabungan psikologi perkembangan dan pedagogi) memastikan pengalaman belajar sesuai dengan kapasitas murid demi keterlibatan aktif dan hasil optimal (Ryan & Deci, 2017).
Ini melibatkan empat teori: perkembangan, pembelajaran, kompetensi emosional/kejiwaan, dan motivasi.
Teori perkembangan mencakup
- tahapan kognitif Piaget (1970) yang menekankan eksplorasi aktif;
- teori sosiokultural Vygotsky (1978) tentang interaksi sosial dan zona perkembangan proksimal; serta
- teori psikososial Erikson (1963) yang berfokus pada tantangan setiap tahap perkembangan.
Perpaduan teori-teori ini dalam kurikulum bertujuan menciptakan pembelajaran interaktif, efektif, dan menyenangkan.
Kurikulum Berbasis Cinta berupaya mengintegrasikan semua teori tersebut dalam perancangannya demi mendukung perkembangan optimal murid.
Artikel Kurikulum Berbasis Cinta
- 3 Peran Guru Madrasah dalam Implementasi KBC di Madrasah
- Instrumen Asesmen KBC: Cara Mengukur Internalisasi Nilai KBC
- Peran Fundamental Guru dan Tenaga Kependidikan dalam Implementasi KBC
- Pendekatan Pembelajaran Mendalam dan 12 Metode Implementasi KBC
- Strategi Implementasi KBC pada Program Kurikuler
Untuk mengetahui perkembangan kurikulum madrasah, Silahkan buka Dinamika Kebijakan Kurikulum Madrasah di Era DIgital

Artikel Terbaru
- 3 Peran Guru Madrasah dalam Implementasi KBC di Madrasah
- Refleksi Pengawas Madrasah: Belajar Implementasi KBC melalui Program 1 Pengawas 1 Madrasah
- Instrumen Asesmen KBC: Cara Mengukur Internalisasi Nilai KBC
- Peran Fundamental Guru dan Tenaga Kependidikan dalam Implementasi KBC
- Pendekatan Pembelajaran Mendalam dan 12 Metode Implementasi KBC
- Strategi Implementasi KBC pada Program Kurikuler
| Ingin Meningkatkan Kompetensi Secara Mandiri, Silahkan belajar di madrasahyunandra.com |
| Buka |
