Karakteristik Kurikulum Bahasa Arab di Madrasah

Karakteristik Kurikulum Bahasa Arab di Madrasah

Kementerian Agama telah mengeluarkan Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 183 tahun 2018 tentang Kurikulum Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab pada Madrasah. KMA No. 183 Tahun 2018 menggantikan KMA No. 165 tahun 2014.

KMA 183 tahun 2018 ditetapkan dalam rangka Standarisasi Kurikulum Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab pada Madrasah, sehingga menjadi acuan bagi Satuan Pendidikan atau Pemangku kebijakan dalam menyelenggarakan pendidikan madrasah.

Pada KMA No. 183 Tahun 2018, Pengembangan kurikulum Bahasa Arab di Madrasah dirancang dengan 4 karakteristik. Adapun karakteristik Bahasa Arab di Madrasah adalah sebagai berikut:

1. Peningkatan Keterampilan Berbahasa

KMA no. 183 tahun 2018 menyatakan bahwa karakteristik kurikulum bahasa arab di madrasah adalah Kurikulum Bahasa Arab dikembangkan untuk meningkatkan keterampilan berbahasa (al-Maharah al-Lughawiyah) bagi peserta didik untuk berbagai situasi baik di lingkungan madrasah maupun lingkungan masyarakat;

Dalam berbahasa terdapat empat keterampilan yaitu

  1. Maharat al-Istima’ atau keterampilan mendengar atau menyimak.
  2. Maharat al-kalam atau Keterampilan berbicara.
  3. Maharat Al-Qira’at atau Keterampilan Membaca
  4. Maharat al-Kitabah atau Keterampilan Menulis

Keterampilan menulis dan berbicara termasuk keterampilan aktif yaitu keterampilan untuk menggunakan productive skills. Productive skills adalah kemampuan untuk menyampaikan Bahasa Arab secara lisan (maharat al-Kalam) dan tulisan (maharat al-Kitabah).

sedangkan keterampilan membaca dan mendengar termasuk keterampilan pasif yaitu keterampilan untuk menggunakan receptive skills. Receptive skills adalah keterampilan mendapat informasi dari pendengaran (maharat al-Istima’) dan membaca (maharat al-Qira’at).

Keempat keterampilan atau maharat sangat penting dalam pembelajaran bahasa Arab, karena keempat keterampilan tersebut tidak dapat dipisahkan. Karena kedudukan keempat keterampilan ini sangat menunjang dalam pencapaian keterampilan berbahasa.

Maka pengembangan kurikulum bahasa Arab di Madrasah diharapkan dapat mengembangkan keempat keterampilan tersebut secara baik dan seimbang.

2. Media Pengembangan Berpikir dan Kepribadian

Bahasa Arab tidak saja diajarkan untuk bahasa itu sendiri akan tetapi juga sebagai media pengembangan berpikir dan kepribadian;

Ada sebuah ungkapan “bahasa adalah cermin kepribadian seseorang”. Artinya orang dapat dilihat dari bagaimana cara berbicara. Pada perkembangan sekarang, tulisan seorang dapat menjadi ukuran karakter seseorang.

Menurut Effendi (2009: 75) bahwa cara berpikir seseorang tercermin dalam bahasa yang digunakannya. Jika cara berpikir seseorang itu teratur, bahasa yang digunakannya pun teratur pula. Melalui data kebahasaan, kita dapat mengetahui karakter bangsa ini.

Menurut Wilhelm van Humboldt, sarjana Jerman abad ke-15 bahwa substansi bahasa terdiri dari dua bagian yaitu pertama bunyi-bunyi, dan kedua pikiran-pikiran yang belum terbentuk. Maka bahasa menurut Wilhelm van Humboldt merupakan sintesa dari bunyi (lautform) dan pikiran (ideenform).

Dari dua pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa bahasa Apapun termasuk bahasa Arab memiliki pengaruh sangat penting terhadap perkembangan berpikir dan kepribadian seseorang. Maka pengembangan kurikulum Bahasa Arab di madrasah diharapkan dapat menjadi media pengembangan berpikir dan pembentukan kepribadian.

3. Tata Bahasa yang Fungsional dan Aplikatif

Bahasa Arab disajikan tidak berfokus pada tata bahasa (qawaid/nahwu-sharaf) secara teoritik akan tetapi penyanjian tata bahasa yang fungsional atau aplikatif.

Menurut Richards dan Rodgers (1986: 16- 17) bahwa Ada tiga teori yang mempengaruhi terhadap metode pembelajaran bahasa, termasuk bahasa arab yaitu teori struktural, teori fungsional, dan teori interaksional.

  1. Teori struktural yaitu memandang bahasa sebagai sebuah sistem yang terstruktur, saling berhubungan antara unsur-unsurnya dalam membangun makna. Target pengajaran bahasa menurut teori ini adalah untuk menguasai unsur-unsur dari sistem yang secara umum terdiri dari unsur fonologi, gramatika dan leksikal.
  2. Teori fungsional yaitu memandang bahasa sebagai media mengekspresikan makna yang fungsional. Teori ini melahirkan pembelajaran yang lebih mengutamakan dimensi semantis dan komunikatif dari pada gramatikal bahasa dan mengarahkan pada materi-materi yang penuh makna dan fungsional dibandingkan pada struktur dan gramatika.
  3. Teori interaksional yaitu memfokuskan pada aksi- aksi negosiasi dan interaksi sebagaimana yang ditemukan dalam hubungan konvensional. Sehingga materi pembelajaran juga mengarah pada pola-pola ini.

Pengembangan kurikulum bahasa Arab di Madrasah diharapkan tidak hanya terfokus pada penguasaan struktur gramatikal seperti teori Struktural, tapi dikembangkan dalam bahasa komunikatif dan fungsional seperti teori fungsional.

4. Implementasi di Lingkungan Madrasah

Implementasi kurikulum Bahasa Arab tidak hanya mengandalkan interaksi guru-siswa di kelas, akan tetapi juga di luar kelas atau di lingkungan madrasah (bi’ah lughawiyah).

Beberapa penelitian terhadap membuktikan pengaruh lingkungan terhadap peningkatan keterampilan peserta didik dalam menggunakan bahasa, khusus keterampilan berbicara.

Menurut Dr. Suja’I (2008:9) Proses penguatan bahasa Arab dapat dilakukan dengan lingkungan bahasa, baik lingkungan alami maupun lingkungan buatan yaitu lingkungan yang sengaja dibuat, diciptakan atau dibentuk untuk tujuan-tujuan tertentu yang bermanfaat bagi kelancaran dan tercapainya tujuan yang ingin dicapai, sehingga peserta didik secara tidak langsung mendapatkan kemahiran

Menurut Dr. Ibrahim bahwa sarana yang paling utama untuk meningkatkan kemahiran berbahasa peserta didik adalah adanya lingkungan pengetahuan kebahasaan yang sesuai, serta mengelilingi pribadi peserta didik.

Salah satu bukti besarnya pengaruh lingkungan terhadap bahasa yaitu kampung Inggris di Pare Kediri. Kampung yang terkenal dengan pembelajaran bahasa Inggris. Jika ingin mendalami dan meningkatkan kemampuan bahasa Inggris maka perlu datang ke Kampung Inggris di Pare Kediri.

Lalu bagaimana dengan Madrasah? maka perlu menciptakan lingkungan bahasa Arab di madrasah. Membuat lingkungan berbahasa Arab dibutuhkan kesabaran, konsistensi dan waktu yang panjang serta keterlibatan semua pihak.

Maka pengembangan kurikulum bahasa Arab diharapkan dapat diimplementasi tidak hanya di lingkungan kelas, tapi di lingkungan madrasah agar dapat tercapai tujuan dari pembelajaran bahasa Arab.

6

Yunandra

Yunandra adalah Pengawas Madrasah/Konsultan/Praktisi Pendidikan Islam yang ingin berbagi dan memberi untuk hidup lebih baik. Kata yunandra merupakan dua nama digabung dengan kata “and”. Harapannya segala kebaikan yang dilakukan menjadi Amal Jariah berdua.