PendidikanSiswa

Mengkaji Dampak Negatif Tidak Naik atau Tinggal kelas

Yunandra.com. Saat penentuan kenaikan kelas sering menimbulkan permasalahan terkait boleh naik kelas atau tidak naik kelas. Lalu apa dampak negatif tidak naik kelas.

Sebagian berpendapat bahwa tidak naik kelas merupakan konsekuensi dari tidak belajar secara serius. Sehingga tidak naik kelas menjadi bentuk pembelajaran bahwa jika belajar serius akan mendapatkan saksi tidak naik kelas.

Untuk melihat riil terkait hukuman tidak naik kelas, perlu menganalisa berdasarkan penelitian atau data yang konkret.

Kajian Dampak Tidak Naik Kelas

Panduan Pembelajaran dan Asesmen yang diterbitkan oleh BSKAP Tahun 2022 membahas tentang dampak negatif tidak naik kelas atau tinggal kelas.

Beberapa hasil penelitian terkait dampak tidak naik kelas yaitu

Tinggal kelas tidak memberikan manfaat signifikan untuk peserta didik, bahkan cenderung memberikan dampak buruk terhadap persepsi diri peserta didik. (Jacobs & Mantiri, 2022; OECD, 2020; Powell, 2010).

Di berbagai negara, kebijakan tinggal kelas secara empiris tidak meningkatkan prestasi akademik peserta didik, terutama yang mengalami kesulitan belajar.

Dalam survei PISA 2018, skor capaian kognitif peserta didik yang pernah tinggal kelas secara statistik lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak pernah tinggal kelas (OECD, 2021).

Hasil tes PISA 2018 menunjukkan bahwa di berbagai negara, mayoritas siswa yang pernah tidak naik kelas adalah siswa dari keluarga kelas menengah ke bawah (OECD, 2020). Tnggal kelas juga memberatkan secara ekonomi

    Ketika mereka tinggal kelas, biaya untuk mengulang satu tahun belajar memberatkan keluarga sehingga mereka semakin rentan putus sekolah.

    Berdasarkan 4 penelitian di atas, Panduan pembelajaran menyatakan bahwa mengulang pelajaran yang sama selama satu tahun tidak membuat peserta didik memiliki kemampuan akademik yang setara dengan teman-temannya, melainkan tetap lebih rendah.

    Dalam hal terjadi kasus luar biasa, jika terdapat banyak mata pelajaran yang tidak tercapai oleh peserta didik dan/atau terkait isu sikap dan karakter peserta didik. maka satuan pendidikan dapat menetapkan mekanisme untuk menetapkan peserta didik tidak naik kelas.

    Namun demikian, keputusan ini sebaiknya dipertimbangkan dengan sangat hati-hati mengingat dampaknya terhadap kondisi psikologis peserta didik.

    Dengan demikian, kebijakan tidak naik kelas adalah kebijakan yang tidak efisien. Peserta didik harus mengulang semua mata pelajaran untuk jangka waktu satu tahun penuh. Padahal mungkin bukan itu yang menjadi kebutuhan belajar mereka.

    Hal ini dimungkinkan karena yang dibutuhkan oleh peserta didik tersebut adalah

    • pendekatan atau strategi belajar yang berbeda,
    • bantuan belajar yang lebih intensif,
    • waktu yang sedikit lebih panjang, namun bukan mengulang seluruh pelajaran selama setahun.

    Berikut ini adalah contoh-contoh isu yang biasanya menjadi faktor pendorong keputusan tidak naik kelas. Serta alternatif solusi yang lebih sesuai dengan perkembangan dan kesejahteraan (well-being) peserta didik.

    Peserta didik mempunyai tujuan pembelajaran yang belum tuntas (ada tujuan-tujuan pembelajaran yang hasilnya belum memenuhi pencapaian minimum).

    NoCONTOH ISUPERTIMBANGAN YANG BISA DIAMBIL SEKOLAH
    1Peserta didik mempunyai tujuan pembelajaran yang belum tuntas (ada tujuan-tujuan pembelajaran yang hasilnya belum memenuhi pencapaian minimum).Dapat dipertimbangkan naik di kelas berikutnya denganpendampingan tambahan untuk menyelesaikan tujuanpembelajaran yang belum tercapai/tuntas.

    Peserta Didik mempunyai masalah absen/ ketidakhadiran yang banyak (Banyaknya jumlah ketidakhadiran disepakati oleh Satuan Pendidikan)

    NoCONTOH ISUPERTIMBANGAN YANG BISA DIAMBIL SEKOLAH
    2Peserta Didik mempunyai masalah absen/ ketidakhadiran yang banyak (Banyaknya jumlah ketidakhadiran disepakati oleh Satuan Pendidikan)Dapat dipertimbangkan dengan mengetahui alasan ketidakhadiran.

    Jika peserta didik tidak hadir karena kondisi keluarga (siswa yang membantu orang tua bekerja karena alasan ekonomi) atau masalah kesehatan peserta didik, maka dapat dipertimbangkan naik dengan catatan khusus.

    Jika alasan ketidakhadiran karena “malas”, meskipun kecil kemungkinan untuk naik kelas; peserta didik tetap dapat dipertimbangkan naik dengan catatan di rapor bagian sikap yang perlu ditindaklanjuti di kelas berikutnya.

    Misalnya permasalahan ketidakhadiran harus diselesaikan dalam jangka waktu satu tahun dengan cara konseling atau behavior treatment lain.

    Khusus permasalahan ketidakhadiran, wali kelas harus dapat mendeteksi permasalahan ini sedini mungkin, sehingga tidak terjadi penumpukan jumlah ketidakhadiran dari peserta didik di akhir semester.
    NoCONTOH ISUPERTIMBANGAN YANG BISA DIAMBIL SEKOLAH
    3Keterlambatan psikologis, perkembangan, dan/atau kognitifBisa dipertimbangkan untuk naik kelas dengan catatan peserta didik perlu mendapat bimbingan dalam memahami pelajaran dan/ atau mendapatkan layanan konseling

    Sumber: Panduan Pembelajaran dan Asesmen Kurikulum Merdeka, 2022