PKKM MA Al I’tishom: Penataan Program Madrasah Berbasis Pesantren
yunandracom. PKKM Tahun 2025 di MA Al I’tishom merupakan bagian tugas saya pengawas pendamping madrasah yang berperan sebagai asesor atau penilai kinerja kepala madrasah
Pelaksanaan PKKM 2025 di MA Al I’tishom sebagai madrasah berbasis pesantren fokus pada refleksi program yang berdampak terhadap murid.
Catatan ini menjadi dokumentasi proses pelaksanaan PKKM yang berharap menjadi inspirasi perencanaan bagi yayasan, kepala madrasah dan guru MA Al I’tishom.

MA Al I’tishom Sebagai Madrasah Berbasis Pesantren
Rabu 10 Desember 2025 menjadi momentum penting. Dimana pelaksanaan PKKM 2025 dihadiri oleh semua pihak yang bertanggungjawab terhadap pelayanan pendidikan di MA Al I’tishom.
Kehadiran ketua yayasan, kepala madrasah dan semua guru dan tenaga kependidikan menjadi kesempatan untuk melakukan refleksi yang berdampak terhadap murid.
Sebagai madrasah berbasis pesantren, MA Al I’tishom memiliki potensi seperti pesantren pada umumnya.
Minimal potensi tersebut nampak di dua unsur yaitu
- Sarana. Pesantren memiliki tempat tinggal murid atau santri sebagai peluang menerima murid dari berbagai tempat tanpa terbatas oleh radius transportasi.
- Waktu belajar. Pesantren memiliki waktu 24 jam untuk mendidik murid sehingga memberi peluang mendidik murid dengan maksimal. Baik pengetahuan, keterampilan, atau sikap.
Dengan dua potensi tersebut, MA Al I’tishom bisa memaksimalkan dengan program yang lebih fleksibel dan berdampak terhadap murid.
Baca: Orientasi PKKM 2025 di madrasah binaan
Refleksi Orientasi PKKM 2025
PKKM 2025 berorientasi kepada komitmen perubahan yang ada di MA Al I’tishom Jakarta Selatan.
1. Refleksi Perubahan
Banyak potensi yang ada dan belum memanfaatkannya untuk peningkatan kualitas layanan pendidikan, MA Al I’tishom perlu berbenah.
Status madrasah berbasis pesantren, warga madrasah perlu memetakan kembali potensi yang ada dengan menggunakan konsep madrasah minimalis >>.
Konsep madrasah minimalis yaitu pengembangan madrasah berbasis pada potensi guru, kebutuhan siswa, dan program rutin.
Berdasarkan hasil pemetaan ketiga komponen tersebut, MA Al I’tishom mulai merancang kembali program rutin madrasah agar lebih maksimal.
2. Kapasitas Perubahan
Indikator pemenuhan kapasitas perubahan sangat berkaitan erat dengan kemampuan refleksi perubahan.
Maka memetakan kembali program rutin menjadi sebuah keharusan sebelum merancang program perubahan.
Program Berdampak Bukan Meriah
Madrasah Aliyah Al I’tishom perlu merancang program madrasah yang langsung berdampak terhadap murid. Dampak yang terlihat dan terasa oleh siapapun yang melihat murid MA Al I’tishom.
Tidak cukup madrasah mengadakan kegiatan yang meriah saja tapi perlu mengevaluasi dampaknya terhadap peningkatan kompetensi murid.
Beberapa saran yang bisa MA Al I’tishom rancang
- Evaluasi program yang sudah berjalan dan dampaknya terhadap kompetensi murid
- Susun ulang program yang berorientasi kepada perubahan perilaku murid baik pengetahuan, keterampilan maupun sikap
- Refleksi secara berkala terhadap pencapaian tujuan program yang berdampak terhadap murid
- utamakan pencapaian tujuan berdampak walaupun sedikit.
Saran bisa dikembangkan berdasarkan hasil analisis semua civitas MA Al I’tishom.
Baca juga: PKKM 2025 di MAN 13 Jakarta >>
Lihat juga: Catatan kegiatan yunandraCom sebagai asesor>>
Untuk mengetahui kegiatan pendampingan, bisa lihat di Catatan Refleksi pengawas madrasah >>
Sumber: 5 Komponen Penilaian Kinerja Kepala Madrasah

Artikel Terkait
- PKKM 2025 MAN 13: Fokus Penanaman 13 Karakter
- PKKM 2025 MAN 11: Menuju Standarisasi Mayoritas
- Peran Pengawas Madrasah sebagai Asesor: Catatan Pengalaman Lapangan
- Kontrak Prestasi Madrasah: Strategi Efektif Membangun Budaya Prestasi
- Apa Ciri Proposal Kontrak Prestasi Madrasah yang Berkualitas?
- Merancang Kontrak Prestasi Madrasah Negeri Berbasis Cinta

