Madrasah Minimalis, Model Pengembangan Madrasah di Era Merdeka Belajar

Madrasah Minimalis menjadi sebuah alternatif pengembangan madrasah di Era Merdeka Belajar. Ide tersebut berdasarkan kondisi madrasah yang mayoritas Swasta dengan kondisi sarana prasarana yang sederhana.

Di sisi lain, Program Pengembangan Madrasah sering diterapkan di madrasah negeri yang secara fasilitas baik sarana prasarana dan anggaran didukung penuh oleh pemerintah. Sehingga model pengembangan nya tidak bisa ditiru dan dicontoh oleh mayoritas madrasah swasta yang minim anggaran dan sarana prasarana.

Oleh karena itu perlu menggagas sebuah program pengembangan madrasah model yang dapat ditiru oleh mayoritas madrasah swasta. Kesempatan ini terbuka lebar dengan adanya kebijakan Merdeka Belajar. Madrasah model tersebut bernama Madrasah Minimalis.

Ada tiga istilah yang perlu dibahas sebelum menjelaskan Pengembangan Madrasah Minimalis yaitu Madrasah minimalis, pengembangan madrasah, dan Merdeka belajar.

Istilah Madrasah Minimalis

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dijelaskan bahwa pengertian minimalis adalah berkenaan dengan penggunaan unsur-unsur yang sederhana dan terbatas untuk mendapatkan efek atau kesan yang terbaik.  

Artinya minimalis identik dengan kesederhanaan, fungsional, dan tertata rapi, serta erat dengan kemajuan teknologi.  

Istilah Minimalis mulai populer pada akhir tahun 1980an di London dan New York oleh arsitektur sebagai bentuk respon dari desain arsitektur-arsitektur sebelumnya yang dianggap rumit. Hal ini berkat pemikiran terkenal seorang tokoh arsitektur modern dunia, Ludwig Mies Van der Rohe, yaitu “Less is More”.

Dalam dunia arsitektur dan desain, minimalis adalah kondisi di mana subjek hanya menampilkan elemen-elemen esensial dan mengutamakan fungsi dari subjek itu sendiri.

Jika istilah Minimalis digandengkan dengan madrasah, maka madrasah minimalis adalah madrasah yang mampu memanfaatkan unsur-unsur sederhana dan terbatas untuk menampilkan kesan terbaik.

Madrasah Minimalis adalah Madrasah sederhana yang memanfaatkan unsur sederhana dan terbatas untuk menampilkan kesan terbaik.

Model Pengembangan Madrasah

Pengembangan Madrasah dilakukan oleh Kementerian Agama dengan berbagai model.

Menurut PMA No. 60 tahun 2015, pengembangan madrasah dilakukan berdasarkan 3 bidang keunggulan, yaitu:

  • Akademik dengan nama Madrasah Akademik yang diwujudkan dalam Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia (MAN IC),
  • Keterampilan dengan nama Madrasah kejuruan. Contoh nya MAK
  • Keagamaan dengan nama Madrasah Keagamaan. Contohnya adalah MAN-PK.

Baca: Madrasah Unggulan menurut Regulasi


Selain ketiga program keunggulan tersebut, Kemenag telah melakukan berbagai program pengembangan madrasah seperti madrasah riset, madrasah berasrama, madrasah inklusi, madrasah plus keterampilan, dan madras terpadu.


Baca: 9 Model Pengembangan Madrasah


Permasalahan yang muncul, program pengembangan madrasah tersebut dilaksanakan di Madrasah Negeri yang mendapatkan dukungan luar biasa dari pemerintah. Sehingga terlalu berat ditiru atau dicontoh oleh Mayoritas Madrasah Swasta. Karena kondisi Mayoritas Madrasah Swasta sangat berbeda jauh dengan Madrasah Negeri.

Merdeka Belajar

Merdeka Belajar merupakan kebijakan yang dirancang Pemerintah untuk membuat lompatan besar dalam aspek kualitas pendidikan agar mampu menciptakan sumber daya manusia (SDM) unggul untuk menghadapi tantangan masa depan yang penuh ketidakpastian.(Suyanto, 2020).

Dinukil dari Website Direktorat SD, Kemendikbud telah memaparkan kebijakan program Merdeka Belajar dalam 10 episode, yaitu

  1. kebijakan USBN, UN, RPP, PPDB.
  2. Kampus Merdeka
  3. Skema penyaluran BOS
  4. Program Organisasi Penggerak
  5. Guru Penggerak
  6. Transformasi dana pemerintah untuk perguruan tinggi
  7. Program Sekolah Penggerak
  8. SMK pusat keunggulan
  9. Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) Merdeka
  10. Perluasan program beasiswa LPDP.

Esensi merdeka belajar adalah kebebasan guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Merdeka belajar dalam proses pembelajaran memiliki 4 makna yaitu merdeka berpikir, merdeka berinovasi, merdeka belajar mandiri dan kreatif, merdeka untuk kebahagiaan. (Agustinus, 2021)

Pada Era Merdeka Belajar, Madrasah atau sekolah memiliki kemerdekaan untuk melakukan inovasi dan kreasi.

Model Pengembangan Madrasah Minimalis

Pengembangan madrasah Minimalis fokus pada potensi kekuatan yang dimiliki oleh Madrasah pada aspek sumber daya manusia, yaitu guru dan siswa. Hasilnya 2 konsep yaitu

1. Program Madrasah berdasarkan Potensi Kekuatan Guru

Guru merupakan garda terdepan dalam proses pendidikan di sekolah. Oleh karena itu kedudukan guru sangat berpengaruh terhadap kualitas pendidikan dan kuantitas anggaran.

Kualitas pendidikan dipengaruhi oleh kualitas guru. Besaran anggaran pendidikan dipengaruhi oleh biaya kesejahteraan dan peningkatan kompetensi guru.

Sehingga untuk menyeimbangkan kualitas pendidikan dan kuantitas anggaran, Madrasah perlu memberdayakan guru secara bijak.

Ada dua tahap yang perlu dilakukan oleh madrasah untuk mengembangkan program minimalis, yaitu:

  • Analisis potensi kekuatan guru. Langkah ini menghasilkan peta potensi kekuatan guru yang dapat diberdayakan di madrasah.
  • Penyusunan program berdasarkan peta potensi kekuatan guru. Program tersebut menjadi tempat guru-guru mengeluarkan potensinya.

Program Madrasah dengan memberdayakan SDM yang dimiliki oleh madrasah dapat meminimalisir kebutuhan anggaran untuk mendatangkan guru dari luar. Karena anggaran selalu menjadi kendala bagi Madrasah swasta yang sederhana.

Terkadang, Madrasah menyusun program yang sangat ideal. Implikasinya membutuhkan tenaga dari luar madrasah, sarana yang lengkap dan anggaran besar. Padahal kondisinya tidak memungkinkan.

Oleh karena, Madrasah Minimalis adalah madrasah yang fokus pada kekuatan yang dimiliki oleh guru-guru yang ada dan menyusun program sesuai potensi guru tersebut.

Madrasah Minimalis adalah madrasah yang fokus pada potensi kekuatan yang dimiliki oleh guru-guru yang ada dan menyusun program sesuai potensi guru tersebut.

2. Program Madrasah berbasis kebutuhan Siswa

Siswa perlu dianalisis untuk mengetahui bakat dan potensi yang dimiliki serta kelanjutan pendidikan. Hasilnya dijadikan acuan untuk pengembangan program unggulan. Sehingga ada sinkronisasi antara program yang dicanangkan oleh madrasah dengan kebutuhan pengembangan bakat dan potensi siswa.

Misalnya di jenjang Madrasah Aliyah, Siswa dapat dipetakan menjadi 2 kategori yaitu siswa yang melanjutkan ke perguruan tinggi dan siswa yang langsung kerja.

Bagi siswa yang tidak akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, madrasah bisa menyusun program kesiapan kerja. Baik keterampilan ataupun kesii mental.

Konsep Program Madrasah berbasis Kebutuhan siswa tetap mengacu pada konsep Program Madrasah berdasarkan potensi kekuatan guru.

Jadi Madrasah Minimalis adalah madrasah yang memfasilitasi kebutuhan siswa sesuai dengan potensi guru yang dimiliki.