Kurikulum Nasional

Capaian Pembelajaran Kurikulum Merdeka: Pengertian, Manfaat Fase, Cara Memahami dan CP Mata Pelajaran

Terakhir diperbarui pada tanggal 22 Maret 2026

Istilah fase pada capaian pembelajaran menjadi tema penting dalam dinamika Kurikulum Nasional. Untuk memahami perkembangan kurikulum di Indonesia, buka sejarah kebijakan kurikulum nasional.

Kurikulum Merdeka memberikan manfaat fase capaian pembelajaran dalam perencanaan pembelajaran. Hal ini dapat memberikan keleluasaan guru untuk merancang perencanaan pembelajaran.

Tulisan ini akan membahas pengertian capaian pembelajaran, jumlah fase, cara memahami CP dan manfaat fase di CP


Pada kurikulum sebelumnya, baik Kurikulum 2006 maupun kurikulum 2013, mengenal istilah Kompetensi dasar di setiap mata pelajaran.

Kompetensi Dasar (KD) adalah kemampuan minimal yang harus dikuasai siswa mencakup pengetahuan, keterampilan, dan sikap setelah mengikuti pembelajaran pada mata pelajaran tertentu.

KD diturunkan dari Kompetensi Inti (KI) dan berfungsi sebagai acuan guru dalam menyusun indikator pencapaian hasil belajar di kelas.

Kurikulum Merdeka mengenal capaian pembelajaran sebagai pengganti KI dan KD.

Capaian Pembelajaran (CP) memiliki pengertian kompetensi pembelajaran yang harus peserta didik capai pada setiap fase mulai dari fase pondasi sampai fase F.

Analogi Capaian Pembekajaran seperti sebuah perjalanan berkendara, CP memberikan tujuan umum dan ketersediaan waktu yang tersedia untuk mencapai tujuan tersebut (fase).

Untuk mencapai garis finish, pemerintah membuatnya ke dalam enam etape yang disebut fase. Setiap fase lamanya 1-3 tahun.


Capaian pembelajaran di kurikulum merdeka terbagi menjadi 6 fase ditambah 1 fase Pondasi. Keenam fase tersebut sebagai berikut:

  • Fase Pondasi di PAUD
  • Fase A (Kelas 1 dan 2)
  • Fase B (kelas 3 dan 4)
  • Fase C (kelas 5 dan 6)
  • Fase D (Kelas 7, 8, dan 9)
  • Fase E (kelas 10)
  • Fase F (kelas 11 dan 12)

3 Manfaat Fase Capaian Pembelajaran dalam Perencanaan Pembelajaran

Menurut buku Panduan Pembelajaran dan Asesmen yang terbit tahun 2022 hal. 11, 3 contoh pemanfaatan fase-fase Capaian Pembelajaran dalam perencanaan pembelajaran:

1. Pembelajaran yang Fleksibel

Manfaat yang pertama yaitu Pembelajaran yang fleksibel. Ada kalanya proses belajar berjalan lebih lambat pada suatu periode (misalnya, ketika pembelajaran di masa pandemi COVID-19) sehingga butuh waktu lebih panjang untuk mempelajari suatu konsep. Ketika harus “menggeser” waktu untuk mengajarkan materi-materi pelajaran yang sudah dirancang, pendidik memiliki waktu lebih panjang untuk mengaturnya.

2. Pembelajaran yang sesuai dengan Kesiapan Peserta didik

Manfaat kedua yaitu Pembelajaran yang sesuai dengan kesiapan peserta didik. Fase belajar seorang peserta didik menunjukkan kompetensinya, sementara kelas menunjukkan kelompok (cohort) berdasarkan usianya. Dengan demikian, ada kemungkinan peserta didik berada di kelas III SD, namun belajar materi pelajaran untuk Fase A (yang umumnya untuk kelas I dan II) karena ia belum tuntas mempelajarinya. Hal ini berkaitan dengan mekanisme kenaikan kelas.

3. Pengembangan Rencana Pembelajaran yang Kolaboratif

Manfaat fase capaian pembelajaran yang ketiga adalah Pengembangan rencana pembelajaran yang kolaboratif. Satu fase biasanya lintas kelas, misalnya CP Fase D yang berlaku untuk Kelas VII, VIII, dan IX.

Saat merencanakan pembelajaran di awal tahun ajaran, guru kelas VIII perlu berkolaborasi dengan guru kelas VII untuk mendapatkan informasi tentang sampai mana proses belajar yang sudah peserta didik capai di kelas VII. Selanjutnya ia juga perlu berkolaborasi dengan guru kelas IX untuk menyampaikan bahwa rencana pembelajaran kelas VIII akan berakhir di suatu topik atau materi tertentu, sehingga guru kelas IX dapat merencanakan pembelajaran berdasarkan informasi tersebut.

Baca: Model Cooperative Learning pada Kurikulum 2013


Capaian Pembelajaran Per Mata Pelajaran